Prolog
Sehari sebelum kau pergi aku mimpi buruk.
Mamak meletakkan keranjang makan siang di tangan kiri dan menggenggam tangan kecilmu di sebelah kanan. Hari sudah meninggalkan remang-remang di tengah sawah. Sandalku terjepit di lumpur, dan kalian terus saja berjalan. Ahh, aku menyesal mengapa cuma sandalku yang terjepit lumpur. Kaki Mamak sangat lebar sehingga mampu melewati lumpur bahkan dengan kamu di lengannya.
Penjual es krim muncul dari tengah sawah dan aku ingat masih ada sisa uang jajan tadi pagi di kantong celanaku. Aku berteriak memanggilmu, aku tahu kau juga suka eskrim. Tapi, kau hanya menoleh sebentar sambil menggoyangkan rambut keritingmu. Kubeli es krim itu dan kumakan sendiri. Separuh sisanya kutinggalkan buatmu.
Jembatan itu rapuh, aku tahu. Mamak selalu menggenggam erat tangan kita saat melewatinya. Tapi, hari itu keranjangnya terlalu penuh oleh sisa pupuk dan gaun baru buatmu.
Mamak menatapku dan berkata, ”Tunggu saja di situ, kuantarkan dulu adikmu ke seberang.”
Aku diam sambil menjilati es krim. Sebagian es krim jatuh, mengotori gaun putihku.
Kau sama sekali tak khawatir ketika Mamak begitu gugup menyeberangkanmu dengan bawaannya yang begitu banyak. Harusnya Mamak menyeberangkan barang terlebih dahulu. Jembatan itu bisa miring dan kalian akan jatuh ke sungai yang deras. Aku duduk saja di pinggir sawah seraya menjilati es krim, salahmu sendiri tidak menungguku. Padahal, tukang es krim tadi bertanya-tanya, adikmu yang rambutnya keriting itu ke mana.
Tubuhku bergetar melihat jembatan itu mulai miring dan kalian masih berada di tengah.
Buuk.. bukkk... suara menakutkan itu muncul.
Suara itu selalu hadir di samping bambu halaman rumah kita. Mamak bilang namanya buk-buk, suka mengganggu anak yang pulang malam karena asyik bermain. Tapi kita berdua selalu pulang malam dan ngebut sekencang-kencangnya agar buk-buk tak mengejar kita.
Jembatan itu makin miring, aku mulai menjerit. Tangan Mamak berpegangan kuat pada tali. Isi keranjang sudah tumpah dibawa air sungai. Malam sudah gelap. Aku menjerit-jerit. Aku ingin menyusul kalian, tapi Mamak memaksaku untuk tak bergerak sedikit pun dari tempatku. Aku takut melanggar perintahnya. Dia suka mencubit kita hingga biru kalau kita nakal. Tapi, kakimu sudah menyentuh air, ujung-ujung rambut ikalmu sudah basah. Salahmu sendiri tak mau potong rambut. Bapak kan bilang, anak kecil gak boleh rambut panjang, nanti banyak kutu. Tapi kamu bandel.
Mamak menangis keras, kucari kayu atau apa saja di sekelilingku, kuraba-raba dalam sinar matahari sore dan suara buk-buk yang makin kencang. Aku takut. Kita harus segera pergi dari sini. Tapi, jembatan ini penghubung satu-satunya. Mamak tak melepaskan tanganmu, suara jeritan kita terdengar ke seluruh sawah yang sudah sepi. Suaraku parau ketika melihat air sungai yang deras itu membawa kalian berdua. Mamak tinggal memegang ujung-ujung jarimu. Namun tak mampu.
Aku terbangun.
Kulihat kau sedang sibuk mengerjakan soal-soal ujian sambil terkantuk-kantuk.
Kriminal
Terkadang kami bisa berbuat kriminal kecil-kecilan untuk bertahan hidup di tanah rantau. Pencurian itu bisa meliputi mi instan, bolu, lapis, sampai kelengkeng yang tersimpan di kulkas ibu kos. Bu Haji, begitu kami biasa memanggilnya.
Bu Haji jarang di rumah sehingga makanannya sering busuk. Karena kebaikan hati kami, maka dengan senang hati makanan itu sering kami gasak di bulan-bulan tua.
Sebuah tangga yang curam menghubungkan dapur Bu Haji dan ruang tamu kami di lantai dua. Pagi ini, setahu kami Bu Haji masih di Bandung melaksanakan kampanye karena beliau mencalonkan diri sebagai caleg.
Dari pagi rasa lapar sudah meliliti perut kami. Saat kuperiksa dompet, di dalamnya tinggal selembar uang seribu. Bahkan untuk beli mi sebungkus pun tidak cukup.
“Maling indomie aja, tumpukan kardusnya masih banyak,” kataku memberi ide.
Bu Haji menyimpan banyak mi instan di rumahnya untuk persiapan kampanye. Ada beberapa yang sudah terbuka sehingga gampang mengambilnya.
“Lagi?” kata Uzi dengan muka malas. Dia masih percaya bahwa mencuri itu dosa, walaupun pelan-pelan aku mengikisnya.
“Kau lapar enggak?” aku menantangnya.
Dengan lemah dia mengangguk. “Ambil dua aja, enggak dosa, kok,” kataku menenangkannya.
Aku menuruni tangga perlahan. Rumah Bu Haji sedikit gelap karena semua pintu tertutup. Aku mengambil kursi untuk meraih indomie di tumpukan paling atas. Uzi berdiri di tangga dengan wajah ketakutan.
Kubuka kardusnya. Ambil satu atau dua, ya. Rasa kari apa rasa ayam bawang?
“Buruan, Kakak,” Uzi mengingatkanku.
Aku buru-buru mengambil rasa kari ayam dan soto kemudian turun dan mengembalikan kursi ke tempat semula. Aku melempar mi ke Uzi, dia menangkapnya dengan cekatan. Ketika dia mau kembali ke atas, aku menahannya.
“Ssstt.”
“Apa lagi?” Langkahnya terhenti.
Aku melirik ke kulkas. Wajahnya merengut, tapi aku tak perduli. Kubuka kulkas itu dan takjub mengamati begitu banyak makanan di dalam. Ada kelengkeng, ada lapis legit dan brownies.
“Ambil pisau,”perintahku.
Walau enggan, dia kembali ke dapur kami dan kembali dengan pisau. Aku memotong lapis legit dan brownies, kemudian menyerahkannya pada Uzi. Kutarik ujung baju kausku yang kebesaran hingga membentuk kantong, lalu kupenuhi dengan buah-buah kelengkeng. Kuisi terus sampai kantongku penuh. Aroma harumnya memenuhi udara. Sudah, ah jangan dihabisin. Kuletakkan kembali plastik kelengkeng ke boks dan menutup kulkas.
Terdengar suara mobil memasuki halaman. Mati kita. Mati. Bu Haji memang pernah bilang, kalau ada makanan di kulkas boleh diambil, tapi kan malu juga. Aku buru-buru menaiki tangga dan menyusul Uzi yang sudah lebih dulu kabur.
Dasar anak kecil. Selalu menyelamatkan diri duluan.
Aduhh, kakiku terantuk dinding tangga. Sebagian kelengkeng jatuh berhamburan di lantai karena kepenuhan. Aku mengambilnya terlalu banyak, sih, sampai baju kausku enggak muat. Buah-buah kuning itu berceceran di tangga. Kudengar Bu Haji sedang mengobrol di luar teras dengan beberapa pemilik angkot yang ngontrak di rumahnya.
Aku turun dan kembali memunguti kelengkeng lantas secepat kilat naik ke lantai dua kemudian menutup pintu.
Uzi sudah duduk di meja dengan wajah pucat. Ah, berlebihan. Aku ketawa-ketawa, lama-lama dia ikut-ikutan. Melihat kelengkeng dalam bajuku, dia langsung mengambil baskom kecil dan aku menumpahkan kelengkeng itu.
“Aman,” kataku merebahkan badan di sofa.
“Kau meninggalkan jejak, enggak?” katanya, melirik ke tangga.
Aku menggeleng. Beres.
Bu Haji sudah memasuki rumah. Kudengar ia membuka pintu kulkas dan mengambil air putih. Terdengar dari kata-katanya pada pembantu rumah.
Semuanya aman. Kami duduk manis menikmati kelengkeng dan bolu. Urusan perut hari ini beres sudah.
“Bibik, ini pisau kenapa ditaruh sembarangan di kulkas, kotor lagi. Nanti semutan.” Omelan Bu Haji sampai ke lantai dua.
Upps. Pisau kami ketinggalan rupanya. Aku dan Uzi saling berpandangan, kemudian cekikikan sambil memasukkan kelengkeng ke dalam mulut. Kenyal di mulut, manis di tenggorokan.
***
Hari ini aku dipecat lagi dari pekerjaan karena tak ada satu barang pun yang terjual. Uzi sudah menunggu di tempat kos sambil belajar soal-soal ujian. Wajahnya semringah ketika melihatku pulang.
“Kakak udah makan?” tanyanya, melihatku mengempaskan tubuh di kasur. Aku menggeleng, memaksa kepalaku berpikir, uang siapa lagi yang harus kupinjam malam ini.
“Aku akan pinjam duit Uma,” kataku, beranjak keluar rumah. Tak tega juga aku membiarkannya tidak makan setelah seharian penuh belajar.
Ketika sampai di depan pintu Uma, kulihat dia sedang rebahan di kasur. “Mau pinjam apa?” katanya, seraya tersenyum. Entah mengapa, senyum itu membuat harga diriku jatuh. Seakan tertulis di jidatku kalau aku adalah tukang meminjam uang.
“Pinjam duit lima puluh ribu, Um. Buat makan,” kataku perlahan. Tenggorokanku terasa kering.
Uma mengeluarkan uang dari dompetnya dan mengulurkan padaku tanpa memandang wajahku sama sekali. “Balikinnya lusa, ya,” katanya.
Aku meraih uang itu dengan perasaan gamang. Kalau enggak karena Uzi, aku tak akan mengambil uang itu.
“Kita mau makan apa?” kataku ketika kami sampai di depan warung. Uzi diam saja, mungkin ia sakit hati melihat perbuatan sahabatku barusan. “Apa saja, Kak.” katanya perlahan.
Dia suka ayam goreng kremes, maka kubelikan satu potong ayam goreng. Kami makan dalam diam karena masih memikirkan peristiwa tadi.
“Makanya rajin belajar biar bisa kuliah dan punya uang banyak,” kataku berusaha tersenyum. Padahal, aku juga mau menangis. Dia diam saja sambil mengunyah ayam di mulutnya. Selesai makan, kami kembali ke pekerjaan masing-masing. Dia masih melanjutkan soal-soal dan aku menyusun skripsi.
Aku mengangkat kaleng hendak membuatkannya susu, tapi begitu kaleng itu kumiringkan tak ada isinya yang keluar. Ada juga susu putih bagianku dan Uzi tak suka susu putih. Tapi, kubuat juga dan kusodorkan kepadanya.
“Minum ini, paksa! Daripada kau enggak ada tenaga.”
“Kalau di rumah, Mamak punya banyak stok susu cokelat,” katanya, sambil menatap gelas itu dengan jijik.
“Enggak akan lama lagi kau juga pulang, kan lulus di Medan nanti.”
Dia menenggak susunya dengan cepat sambil menutup hidung. Gelas itu diserahkannya padaku dan kutaruh dalam ember.
Dari jauh kudengar langkah-langkah pemilik kos mendekat. Aku langsung masuk kamar dan menguncinya. Uzi menatapku dengan heran. Aku menunjuk ke luar dan dia paham. Aku mematikan lampu dan kami duduk berpegangan tangan. Bu Haji pasti datang minta uang kos dan lebih baik jika kami pura-pura tidur saja. Uzi paling takut gelap, kurasakan cengkeramannya di tanganku makin erat.
“Rika, sudah tidur apa?”
Aku tak menjawab.
“Rika,” katanya lagi. Bu Haji belum menyerah. Kami menahan napas. Karena tak mendengar jawaban, kudengar langkah-langkah ibu kos menjauh dan makin menjauh. Kami menarik napas lega. Tapi, lampu tak bisa langsung dihidupkan, kami harus menunggu beberapa saat.
Dalam gelap kami berpelukan, berharap ini di rumah dan Mamak keluar dari kamarnya membawa lilin atau lampu teplok. Tapi, tak ada yang datang sampai kami harus menghidupkan sendiri lampu itu.
***
Jemputan Kepagian
Hari wisuda kupikir akan menjadi hari yang menyenangkan, ternyata aku salah.
Sejak hari itu aku selalu hati-hati dengan orang-orang di sekelilingku yang memakai baju putih. Baju putih bisa jadi pertanda kalau sebentar lagi ia akan pergi meninggalkan kita. Bisa pergi untuk selama-lamanya, entah pergi untuk sesaat.
“Mamak sama aku berangkat duluan, kau menyusul ke kampus,” kataku pada Uzi, adik bungsuku yang pagi itu tengah menyetrika gaun putihnya. Sebenarnya gaun putih itu sudah disetrika beberapa hari yang lalu, tapi tadi saat dikeluarkan dari lemari, dia melihat sedikit kerutan di ujungnya hingga dia meminta waktu untuk menyetrika lagi.
“Tunggu sebentar lagi,“ katanya menawar.
“Lama kali kau, nanti telat aku wisudanya,” kataku mengambil ransel berisi baju wisuda dan segera memakai sepatu flat-ku.
Mamak hanya geleng-geleng kepala melihat aku memakai sepatu.
“Kau mau pakai itu buat wisuda?” katanya sambil mengelus dada.
Meskipun Mamak cuma petani, dia selalu menghadiri wisuda sepupu-sepupuku. Sejauh yang dia amati, pasti anak perempuan kalau wisuda akan memakai sepatu hak tinggi, kebaya yang bagus, dan sudah ke salon sejak subuh.
Dan aku tak punya semuanya.
Kebaya wisudaku, aku pinjam dari anak-anak tari di kampus, make up juga nebeng. Sepatu, ya, pakai sepatu yang biasa aku pakai ke kampus sajalah. Flat shoes, agak sedikit kotor, sih, di depannya, tapi masih lebih baik daripada ribet pakai sepatu hak tinggi. Lagi pula, untuk apa beli kebaya, buang-buang duit saja, mending dipakai buat hal lain.
Menurutku, wisuda yang hanya memakan waktu tak lebih dari tiga jam itu terlalu memakan banyak biaya.
“Ada sepatu high heels-ku, Mak, tapi enggak mau pake Kakak itu!” Uzi mengomel sambil membalik gaun di atas selimut yang dijadikan alas menyetrika.
“Selama di sini enggak kau ajari kakakmu ini rapi dan memakai baju yang cantik?” kata Mamak seraya menyisir rambutnya.
“Sudah sering pun kuajari, tapi enggak mau dia, Mak. Beli buku aja kerjanya itu. Tengoklah lemarinya, isinya buku semua. Terus baju-baju kita taruh di kardus.”
Entah kenapa pagi ini dia cerewet sekali. Pasti, mumpung ada Mamak, puas-puasinlah curhat, pasti begitu pikirnya. Dasar anak kecil.
Uzi baru tinggal bersamaku sekitar enam bulan yang lalu. Kutinggalkan rumah kami di kampung sejak dia masih kecil karena harus sekolah. Kami bertemu lagi saat aku tengah menyelesaikan skripsi dan dia mau masuk perguruan tinggi.
Mendadak jadi kakak selama enam bulan bukan perkara mudah meskipun Uzi termasuk adik yang penurut. Aku tak pernah benar-benar tahu bagaimana seharusnya menjadi seorang kakak, apalagi untuk usia remaja seperti dia.
“Berangkat kami, ya,” kataku meraih tangan Mamak.
“Hape-mu enggak ketinggalan, ‘kan? Nanti enggak bisa kutelepon pulak,” katanya mengejarku sebelum menghilang di balik pagar.
“Ada. Jangan lupa bangunkan Bapak, nanti ketinggalan pula dia.”
Setelah agak jauh berjalan kubaca pesan darinya.
Kamera ketinggalan Kak.
Bawa sekalian, ketikku cepat.
Dari semenjak seminggu yang lalu Uzi sudah wanti-wanti kalau dia tak mau ketinggalan acara wisudaku.
“Aku mau ngambil izin kelas pagi biar bisa ikut foto,” katanya.
“Kan bisa pulang kuliah,” bantahku. Aku paling tak suka kalau kuliah harus diganggu dengan cara apa pun.
“Enggak bisa, pulang wisuda pasti Kakak sudah jelek, keringatan. Enggak mau, ah.”
Kurang ajar.
Tadi malam juga dia tak bisa tidur, alasannya tak sabar besok mau berfoto sama Mamak, Bapak, dan aku.
“Sayang, ya, Abang enggak ada,” katanya, di sela-sela kantukku. Aku bahkan sungguh-sungguh tak peduli dengan acara wisuda besok.
Kami berjalan menyusuri daerah Kampung Baru yang mulai ramai. Wajah Mamak terlihat sedikit lelah karena sudah beberapa hari ini dia tak bisa tidur. Mungkin karena udara Lampung yang amat panas, beda dengan Berastagi yang sangat dingin. Atau mungkin juga makanan di sini yang manis-manis.
“Kata Bapak, kami pulangnya besok pagi,” Mamak memulai pembicaraan.
“Udah enggak berubah lagi itu?” kataku meledek. Sudah hampir tiga hari mereka di sini dan entah kenapa sepanjang hari cerita-cerita kami selalu dibumbui dengan gimana nanti kita pulang ke Medan. Itu sudah menjadi guyonan kami beberapa hari ini karena keputusan Bapak selalu berubah.
Hari pertama, Bapak mengatakan mereka akan pulang naik pesawat, sebab perjalanan naik bus kemarin ternyata melelahkan.
“Kakak sudah selesai kuliah, jadi dia akan pulang bareng kami ke Medan. Adek berani di Lampung sendirian?” kata Bapak.
Uzi mengangguk. “Berani. Nanti kan aku mau coba tes lagi untuk kuliah di Medan. Pasti lulus kali ini.”
Malamnya rencana Bapak berubah.
“Janganlah, kasihan Adek di sini sendirian. Kakak cari kerja saja di sini, nanti kalau belum ada uang, ya, dikirim lagi dari Medan.”
Uzi tampak lebih ceria.
Ternyata besok paginya rencana Bapak berubah lagi. “Kita pulangnya naik bus saja, uangnya lumayan buat beli pupuk.”
Mamak menurut.
Malamnya berubah lagi. “Pulangnya besok malam saja, jadi sampai di rumah lusa. Kita ada pesta anaknya Hasan, ‘kan? Terus Kakak sekalian pulang karena Kak Helma butuh pegawai untuk apoteknya.”
Galau sekali bapakku itu. Saat itu kami hanya tertawa tanpa kusadari kalau kegalauan bapakku itu karena sudah merasakan sesuatu akan terjadi pada anak bungsunya.
“Besok malam jadi pulang naik apa, Mak? Biar dibantu cari tiket,” kataku.
“Masih dipikirin sama Bapak,”
Muka Mamak tampak lebih lelah. Pasti bukan karena berjalan kaki karena ia sudah biasa berjalan berpuluh kilometer tiap hari. Kami menaiki tangga menuju lantai dua gedung PKM Universitas Lampung dan masuk ke sekretariat anak-anak seni.
Anak-anak tari sudah siap mendandaniku. Sepanjang sejarah aku jadi senior mereka belum pernah sekali pun aku mau di-make up. Jadi, ini adalah hari bersejarah buat mereka.
Mamak duduk di kursi memperhatikan keriuhan kami.
“Mbak, kamu merem, biar dipasangin bulu mata palsu,” kata Kinda.
“Harus, ya?” Aku bergidik membayangkan bulu mata itu menempel di mataku.
“Biar cantik, Mbak,” kata mereka dan aku tak bisa menolak. Benar saja, bulu mata itu sungguh membuat pandanganku terasa berat.
Setelah itu aku diberi kebaya dan dipakaikan tapis. Saat itu tak sekali pun aku mau menoleh ke cermin karena aku yakin wajahku pasti jelek sekali.
Selesai berdandan mereka menawari Mamak.
“Tante mau di-make up juga enggak?”
Mamak menggeleng. “Sudahlah, dia saja. Panas di sini, enggak kuat aku.”
Di pintu, Uzi sudah nongol dengan dress putih selututnya. Rambut ikal panjangnya dibiarkan tergerai. Kulit cokelatnya tampak bersinar.
“Kok, jadi cantikan adik kamu, Mbak,” kata Wenni meledek.
Sialan.
***
Kami duduk menunggu Bapak di depan gedung serbaguna yang dipenuhi ribuan orang. Dan, makhluk tinggi dan tampan itu tak juga kelihatan. Aku sudah menelepon beberapa kali, tapi tak diangkat. Beberapa fotografer sudah menawarkan kami untuk membuat foto. Pintu gedung serbaguna sudah dibuka, tapi Bapak belum juga menampakkan wajahnya.
“Sudahlah, kita foto bertiga saja,” kataku tak sabar.
“Jangan, harus ada Bapak,” katanya sambil terus menghubungi nomornya.
Aduh, kenapa juga Bapak harus menghilang di saat begini.
Saat hampir memutuskan untuk berfoto bertiga, Bapak tiba-tiba muncul dari balik kerumunan. Aku menarik napas lega.
“Hape Bapak ketinggalan di tempat kos,” kata Bapak tersenyum.
Kulihat Uzi seketika ceria. Dasar anak kesayangan. Di rumah kami memang dia yang paling dekat dengan Bapak.
Kami segera mencari area yang pas untuk difoto. Setelah puas berfoto, aku, Bapak dan Mamak masuk ke gedung serbaguna, sedangkan Uzi kembali ke kampus. Sebelum beranjak, sempat kuingatkan dia untuk membeli makanan karena nanti siang kemungkinan teman-temanku akan datang ke tempat kos. Dia tersenyum sambil mengacungkan jempol. Entah kenapa, kali ini kulihat dia amat cantik, lebih dari biasanya. Aku juga merasakan hal ini ketika kemarin dia pulang dari gereja dengan dress batik dalam keadaan menggigil dan basah kuyup.
***
Hari yang melelahkan.
Di tengah acara makan malam Bapak mengeluarkan sebuah kalimat yang sedikit mengejutkan untuk Uzi.
“Nak, kuliahmu yang D-1 gimana kalau kita berhentikan saja, kan nanti mau ambil S-1 juga. Mumpung belum bayar cicilan ketiga,” kata Bapak, sambil mengunyah ikan patin dengan susah payah. Memang rata-rata makanan di sini tidak cocok untuk lidahnya.
“Maksud Bapak, kan capek banget, tuh, pagi kuliah, sore ambil bimbingan belajar. Fokus bimbingan belajar saja, biar lulus dan bisa kuliah di Medan.”
Wajah Uzi masih terlihat kaget, tapi dengan senyum ia berkata, “Capek, sih, memang, tapi masih sanggup, kok. Sayang sama teman-temanku.” Dia masih mencoba menawar.
“Kalaupun cuma bimbel, kan masih bisa ketemu kawan-kawan,” kata Bapak menggeser piringnya. Ikan patinnya ia letakkan di piring Uzi. Uzi yang tak suka patin mengambil lagi dan meletakkan di piringku. Lagi pula, dia sudah punya ayam goreng di nasinya.
“Iya, sih.”
Aku tahu dia cukup setuju dengan Bapak, kalau harus bayar cicilan lagi, toh, nanti ditinggalkan juga. Itu memang pemborosan. Dulu di awal kita enggak mikir sampai di situ. Kita cuma berpikir tahun depan Uzi harus lulus di kampus negeri, jadi pagi dia mengambil kuliah bahasa Inggris satu tahun, sore dia ikut bimbingan belajar. Dengan begitu, Bapak berharap nanti kalau sudah kuliah dia bisa cari biaya sendiri. Tapi, sekarang mungkin Bapak agak kewalahan dengan biayanya.
“Tapi, Adek pikirin saja dulu semalam ini. Kalau masalah teman-teman kan masih bisa ketemu,” kataku memakan patin dengan rakus.
“Jadi kita pulangnya gimana?” kata Mamak, kembali ke masalah pulang.
“Kakak di sini saja, kita saja yang pulang. Besok seharian kita jalan-jalan keliling Lampung, lusa pagi kita pulang,” kata Bapak memberi keputusan.
“Enggak berubah lagi itu?” kata Mamak tak yakin.
Bapak menggeleng kemudian mencuci tangan di kobokan.
Kami telah selesai makan, aku mengangkat piring-piring kotor ke ember dan membersihkan kamar kos yang cuma berukuran dua kali dua meter. Bapak duduk di pintu. Mamak menonton dari teve kombo di layar monitor.
Uzi mengeluarkan kantong plastik dari tasnya. “Tadi aku beli baju, Mak, tapi yang murah, kok,” dia membela diri sebelum dikomentari.
“Ih, beli baju kau terus,” kata Mamak sambil tertawa tapi juga senang karena Uzi tak sepertiku.
Perlahan dia membuka ikatan kantong plastik. “Satu aja, Mak. Bagus tadi kulihat!”
Kantong plastik terbuka. Dia mengeluarkan sehelai baju batik berwarna biru. Bagus, sih dan aku yakin harganya murah dilihat dari potongannya. Baju itu dilipat dan dimasukkan ke rak buku yang sudah kami sulap menjadi lemari baju. Sedangkan lemari baju kami isi dengan buku-buku.
****
Tak ada lagi pembicaraan berarti malam itu karena kami semua kelelahan. Bapak dan Mamak pamit tidur ke kamar sebelah yang kami sewa selama mereka berada di Lampung. Aku dan Uzi tidur bersebelahan di kasur tipis dan aku langsung terlelap.
Tepat tengah malam ketika keranda itu datang diam-diam.
Brukk. Miaw. Miaww.
Seekor kucing tiba-tiba jatuh dari asbes yang ambruk dan mendarat tepat di atas kepala Uzi. Kami serta-merta bangun dan berdiri. Kucing besar dan tinggi itu berdiri di kasur menatap kami sambil terus mengeong.
“Kakak, kucing apa itu?” katanya meraih tanganku.
“Asbesnya mungkin sudah rapuh,” kataku berusaha menenangkan Uzi, padahal perasaanku sendiri pun tak enak.
Cepat-cepat kubuka pintu lantas mengusir kucing itu keluar. Awalnya kucing itu meloncat-loncat di komputer, ke atas rak buku, rak piring, kemudian ngumpet di kolong meja. Karena kesal, kuambil sapu dan kupukul-pukul tubuhnya hingga mengeong kencang. Dia keluar dari kolong, lalu kutendang tubuhnya dengan keras hingga terpelanting ke luar pintu. Kucing itu terus mengeong dan melompati pagar tempat kos yang cukup tinggi kemudian menghilang.
Aku menarik napas lega. Kulihat Uzi masih kaget, sebab ia berdiri saja dengan tubuh menempel di dinding. Aku menarik seprai yang penuh asbes dan debu kemudian membawanya ke ember cuci. Setelah itu kupukul-pukul kasur yang tipis itu agar debu yang masih menempel bisa lepas.
Kusapu seluruh ruangan hingga bersih. Uzi pindah ke kasur dan duduk diam. Tangannya dilipat di lutut.
“Ganti seprainya, Dek,” kataku mengambil seprai bersih dari rak pakaian. Dia menerima dengan tangan gemetar.
Dia mengganti seprai dan menggeser tempat tidur menjauhi asbes yang bolong.
Mamak dan Bapak tak terbangun, mungkin karena kelelahan. Biasanya, di rumah, kalaupun hanya mendengar langkah kaki kami ke kamar mandi, mereka akan bangun, tapi malam ini tidak.
Kami berdua menatap langit-langit yang gelap dan bolong dengan perasaan takut. Kami saling bertatapan. Peristiwa apa yang akan terjadi sebentar lagi. Kucing selalu membawa kabar buruk ke rumah kami, apalagi kalau kucing hitam. Selalu ada peristiwa tak menyenangkan yang mengikutinya. Semoga saja kali ini tidak.
“Kakak, seram,” katanya menyembunyikan wajah di lenganku.
Aku mengelus-elus kepalanya. “Tidur, yuk. Besok mau jalan-jalan kita. Cuma kucing nyasar, jangan dipikirin kali.”
Tapi rasa kantuk tak kunjung datang menghampiri kami berdua.
Tanganku masih berada di kepalanya ketika hari mulai subuh dan mataku makin berat. Tiba-tiba aku tersentak oleh teriakan Uzi.
“Kakak, sakit!” erangnya. Aku membuka mata dan kulihat dia menggigit bibir kuat-kuat. Rambut panjangnya berantakan. Kedua tangannya mengapit kepalanya.
“Sakit apa?” kataku serta-merta duduk.
“Kepalaku sakit kali.” Dia kembali membenamkan kepalanya ke bawah bantal.
“Jangan lebay, ah,” kataku, karena sebelumnya dia tak pernah semanja ini.
“Sakit Kak, Kak. Sakit,” hanya kata-kata itu yang terus keluar dari mulutnya. Karena kupikir hanya sakit kepala biasa, aku tak terlalu terburu-buru membangunkan Mamak dan Bapak. Aku berjalan dengan pelan dan membangunkan mereka. Di luar dugaanku, Mamak langsung berjalan tergesa-gesa menuju kamar kami disusul Bapak.
Saat Mamak sampai di kamar, Uzi sudah melipat tubuhnya di lantai.
“Mak, sakit,” kalimat itu lagi yang keluar dari mulutnya.
“Apanya yang sakit, Nak?” kata Mamak sambil meraih kepalanya dan meletakkan di pangkuannya.
“Sakit kali.”
Aku terdiam di pintu tanpa tahu harus berbuat apa. Aku tak pernah melihat dia sakit. Aku baru jadi kakak selama enam bulan, tak paham kalau adik kita sakit aku harus apa. Aku bengong bahkan ketika melihat dia merangkak ke pintu dan memuntahkan lendir dari mulutnya.
“Bapak, panggilkan tukang ojek, kita bawa dia ke rumah sakit,” kata Mamak panik. Dia mulai menangis juga. Aku makin bingung.
Bapak segera melompati pagar untuk mencari ojek karena hari masih subuh.
“Kakak ambil saputangan,” kata Mamak melihatku diam saja
Kami tak pernah punya saputangan, maka kuambil saja salah satu baju kausku.
Mamak meraih kepalanya dan mengahapus lendir dari bibirnya. Dia tak berhenti berteriak namun makin lama teriakannya makin tak jelas.
Cukup lama Bapak belum kembali baru Mamak menyadari sesuatu.
“Bangunkan bapak kosmu, pinjam motornya!”
Aku berlari ke bapak kos yang ternyata tak kunjung bangun setelah kuketuk berkali-kali. Aku kembali ke kamar dan kulihat Mamak tengah membangunkan tetangga kami. Dalam keadaan panik, kesadaran kita bisa benar-benar hilang.
Kulihat Mamak menggunakan bahasa Batak saat minta tolong dengan tetanggaku. Mungkin Mamak juga tak sadar. Laki-laki itu tampak bingung.
“Adekku sakit, minta tolong bawa ke rumah sakit, Bang,” kataku.
Lelaki itu paham dan langsung mengeluarkan motornya.
Kami berusaha membopong Uzi yang sudah lemas dan hanya meracau. Kami sudah tak paham apa yang diucapkannya. Hanya kulihat air liur terus menetes dari sela bibirnya. Kami berusaha menaikkannya ke motor. Saat itu Bapak muncul dengan napas terengah-engah.
“Ojeknya enggak ada.”
“Udah naik motor ini saja, Pak,” kata Bang Tio, tetanggaku.
“Kita ke Rumah Sakit Medical Centre aja, Bang. Itu paling dekat,” kataku.
Mamak dan Bapak akan menyusul setelahnya. Uzi di tengah dan aku di belakang memegangi tubuhnya agar tak tumbang karena dia sudah setengah sadar. Perjalanan yang tak terlalu jauh itu cukup melelahkan karena aku harus menahan tubuh Uzi yang jauh lebih tinggi dariku.