Ia pun memilih profesi sebagai polisi juga karena terinspirasi dari sang ayah, yang menjadi polisi di kesatuan Brigade Mobil (Brimob). “Pakaian seragam polisi yang gagah serta sosoknya yang melayani dan mengayomi, membuat saya tertarik,” ujar Budiono, yang merupakan anak bungsu dari 5 bersaudara.
“Saya ingat ayah saya selalu berpesan: jadilah polisi yang membantu rakyat kecil. Pesan ini yang selalu saya pegang,” katanya, yakin.
Menjadi polisi, ia juga harus bersiap dengan jam kerja yang panjang. Jam kerja pasti lewat dari 8 jam. Juga ada jadwal piket 24 jam yang terbagi dalam 4 shift. Sehingga, libur belum tentu di akhir pekan. Mengingat ritme kesibukannya, tak berlebihan bila sejak menikah pada 6 Januari 2000, ia berharap Rina menjadi ibu rumah tangga. “Bukan karena gaji saya berlebih, tapi saya ingin anak-anak memiliki sosok yang bisa menemani mereka tiap saat,” katanya.
Rina tidak pernah berkecil hati dengan ekonomi keluarganya. Sebagai anak ke-4 dari 5 bersaudara, Rina pun dibesarkan dalam keluarga militer yang sederhana. Bapaknya yang bertugas di TNI AD menanamkan kejujuran dalam bersikap. Dua sikap ini pula yang kemudian membuatnya jatuh cinta pada sosok Budiono, yang tidak pernah bertindak aneh-aneh.
Mendengar ini, Budiono tersenyum. Sejurus kemudian ia berujar. “Saya selalu ingat pesan Bapak. ‘Lihatlah ke atas hanya kepada Tuhan. Jadilah polisi apa adanya,’” tegas Budiono, yang di lingkungan tinggalnya dipercaya sebagai ketua RT. “Kehidupan sederhana justru mendekatkan hubungan saya dan keluarga. Ini yang menjadi harta terbesar saya,” ujarnya, tersenyum. (f)
Yuniarti Tanjung