Sejak pertama bertemu pada Mei 2011, dan melewati masa pendekatan yang berbulan-bulan itu, Emil merasa bahwa latar belakang dunia hiburan tidak membuat Arumi tumbuh menjadi pribadi yang congkak. Sebaliknya, ia sangat nyaman dengan dirinya sendiri, punya karakter yang baik, tidak bergaya hidup glamor, dan pintar.
“Ketika kami berdiskusi tentang sebuah masalah, Arumi memberikan banyak perspektif yang berbeda. Salah satunya, bahkan berhasil saya implementasikan saat menghadapi suatu kasus alot dengan klien di pekerjaan saya dulu saat masih di BUMN dan berhasil,” cerita pria yang saat itu menjabat sebagai Chief Business Development and Communication-Executive Vice President di PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia.
Meski perbedaan usia mereka cukup jauh, yaitu 10 tahun, pria peraih gelar Doktor Ekonomi Pembangunan termuda dari Jepang dari Ritsumeikan Asia Pacific University (di usia 22 tahun) itu nyaris tidak merasakan ketimpangan dalam hal pemikiran. “Karakter Arumi yang periang juga membuat hidup saya lebih berwarna, menyeimbangkan karakter saya yang lebih diam,” ungkap Emil. Tapi, ada perasaan pribadi dalam dirinya yang membuat Emil yakin memilih Arumi, yang sulit dideskripsikan dengan kata-kata. “Bersama Arumi membuat saya feel at home,” lanjutnya.
Hal yang sama pun dirasakan Arumi. Perbedaan usia tidak membawa pengaruh negatif dalam pernikahan mereka. “Mas Emil itu orangnya ngemong banget dan membimbing saya,” ungkap Arumi, yang mengaku masih punya banyak kemauan. Saking herannya tidak pernah dilarang-larang, Arumi pernah mempertanyakan ini pada sang suami. “Aku dulu pernah seumuran kamu. Nggak papa, nikmati aja. Dulu aku juga begitu,” ungkap Emil menjawab rasa penasaran istrinya. “So, sweet yaa…” sambut Arumi, tertawa.
Kalau kebanyakan kisah cinta menggebu-gebu di depan, percikan-percikan asmara di antara mereka justru mulai muncul belakangan. “Semakin kenal semakin sayang. Semakin tahu kekurangan masing-masing, malah kami semakin menghargai. Sebab, dari proses ini juga kami mengenal diri kami sendiri,” ungkap Arumi, bijak.
Arumi menambahkan, bahwa dulu, ia merasa bahwa semakin banyak persamaan, akan membuat hubungan semakin dekat. Namun, ia dan Emil adalah dua pribadi yang sangat berbeda. Mulai dari karakter sampai urusan makanan. Yang terakhir disebut ini sempat membuat Arumi kelabakan. Apalagi, Emil ingin menyantap masakan hasil olahan istrinya. “Padahal, saya tidak jago masak,” katanya tertawa. Seperti ketika Emil menyatakan ingin menyantap semur lidah sapi. “Seumur-umur saya belum pernah melihat, apalagi sampai memegang lidah,” cerita Arumi. Alhasil, dapur berubah menjadi seperti zona perang. Ia harus memakai sarung tangan, karena geli dengan tekstur lidah.
Meski begitu, rumah tangga mereka juga tidak luput dari ribut-ribut kecil. Biasanya, biang keributan ini adalah soal waktu. Apalagi sejak Emil menjabat sebagai Bupati Trenggalek yang dilantik pada 17 Februari 2016, kontan daya dan pikiran Emil tercurah untuk membangun kota kecil di pesisir selatan Jawa Timur itu. Ketika wawancara berlangsung pun Emil sedang sibuk dengan rapat koordinasi bersama anggota Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
“Saat makan saja ia masih membuka laptop atau sibuk berkoordinasi di ponsel. Semua urusan pekerjaan. Kalau sudah begini, saya perhatikan saja dari jauh,” ungkap Arumi, sedikit dongkol. Sebenarnya bukan soal pekerjaan Emil yang ia keluhkan, tapi karena suaminya itu jarang memperhatikan kesehatannya sendiri karena terlampau sibuk. “Makannya jadi tidak teratur, tidurnya kurang,” lanjut Arumi, geregatan.
Minimnya waktu kebersamaan sebagai sebuah keluarga juga sempat membuatn Arumi protes. “Setiap acara keluarga selalu disisipi urusan pekerjaan,” ucapnya. Pernah, suatu kali ia kaget Emil mengajak mereka berlibur ke Malang. “Oke sayang, kita liburan ke Malang ya, karena aku ada seminar di sana,” ujar Arumi menirukan ucapan suaminya. “Gemas deh. Tapi, kalau tidak begitu, tidak ada waktu bagi kami untuk jalan-jalan bersama. Jadi, disyukuri saja,” lanjutnya sambil mengela napas pasrah.
Sebagai istri seorang Bupati, Arumi tidak hanya berperan sebagai istri, tapi juga mengemban beberapa tugas ex-officio, seperti Ketua Tim Penggerak PKK, Ketua Dekranasda, dan sebagai Bunda PAUD (pendidikan anak usia dini). Sering tampil dalam balutan busana panjang dan kerudung, Arumi terlihat elegan, dewasa, dengan aura yang memperkuat wibawa sang suami.
Meski begitu, sempat juga ia merasa kurang percaya diri karena usianya yang masih begitu muda. “Bidu, saya nggak bisa yang kaku atau formal begitu. Takut jadi salah tingkah sendiri,” curhat Arumi pada pria yang punya panggilan sayang Biduan (penyanyi) itu. Lagi-lagi, dukungan Emil kembali meneguhkan hati Arumi. “Saya yakin kamu bisa menempatkan diri. Adaptasi saja sesuai yang kamu bisa. Kalau tidak bisa, ya tidak perlu dipaksa,” jawab Emil, penuh pengertian.
Ketakutan Arumi pun hilang, saat ia membaur dan berkomunikasi secara personal dengan ibu-ibu anggota PKK atau komunitas lainnya, ia merasakan suasana yang lebih cair. “Saya tetap menjadi pribadi yang ceria, meski tidak pecicilan seperti dulu,” ujar wanita yang tak sempat merasa kesepian atau bosan karena banyaknya kegiatan yang ia jalani di organisasi. Ia juga merasa mendapat banyak wawasan baru tentang isu kesehatan dan pemberdayaan.
“Sekarang saya mulai menikmati quality time dengan mendiskusikan urusan pekerjaan dengan suami. Apalagi, tanggung jawab kami memang saling terkait. Kepada saya, ia meminta masukan tentang efektivitas sebuah program di lapangan. Saya juga bisa mengkonsultasikan kegiatan saya,” ungkap wanita yang mengambil cuti di tingkat akhir perkuliahannya, di jurusan Business Administration, INTI College, universitas dengan jaringan internasional di Jakarta. “Masih kesulitan membagi waktu. Mudah-mudahan, saya bisa segera fokus dan merampungkan kuliah,” ujarnya minta didoakan.(f)