True Story
Happy Salma & Tjok Gus : Bahagia dalam Perbedaan

16 Jan 2020


Dok. Femina Media / Nicky Gunawan




Setelah pernikahan, Happy dan Tjok Gus pun tinggal di Bali. Masuk ke dalam sebuah lingkup keluarga yang baru membuat Happy sempat terkejut. Ia tahu jika Tjok Gus berasal dari keluarga berkasta di Bali, tapi ia tak pernah menyangka bahwa pengaruhnya akan sangat kuat di Ubud.

“Saya pikir pada prakteknya tidak akan terlalu kuat, tapi ketika menikah saya melihat bagaimana warga sangat menghormati keluarga Tjok Gus dan bagaimana Puri Ubud punya peranan yang besar pada masyarakat di sekitarnya. Di budaya Sunda kan tidak ada seperti itu,” kenang Happy.

Sebagai keluarga bangsawan, keluarga
Tjokorda Raka Kerthyasa (Tjok Ibah) dan Jero Asri Kerthyasa (Jane Gilliespie), orang tua Tjok Gus, memang dipandang terhormat oleh warga Ubud. Sang ayah adalah Bendesa Adat Ubud (yang dimaknai sebagai pemimpin Ubud) dan juga merupakan anak bungsu dari Raja Ubud. 

Tak heran jika adat istiadat dan tradisi Bali yang kuat masih dijalani oleh keluarga Tjok Gus. Dan secara resmi masuk ke dalam lingkup ini diakui Happy sempat membuatnya sulit beradaptasi. Budaya dan teman baru serta berada jauh dari keluarganya menjadi tantangan yang harus dihadapinya. 

Adaptasi nyatanya tak hanya dialami oleh Happy, Tjok Gus yang tumbuh besar di Sydney, Australia, semasa kecilnya juga meniti jalan yang sama dengan sang istri.

“Ini proses karena saya sendiri masih belajar tentang tradisi dan adat Bali. Saya hanya tahu beberapa saja. Pada akhirnya kita sama-sama belajar sambil menjalani pernikahan,” tutur Tjok Gus.

Menjadi bagian dalam keluarga bangsawan, mau tak mau membuat Happy harus menjalani sejumlah tradisi dan adat yang kerap dilakukan di Bali. Kerap mengenakan kebaya, bertutur bahasa halus hingga turut hadir mengikuti rentetan ritual adat yang panjang. Awalnya Happy bertanya-tanya, mengapa ada begitu banyak acara adat dan libur karena jalanan ditutup? 

Namun pada akhirnya ia sadar, bahwa ini adalah cara menghormati dan merawat budaya. Mereka yang rela berkorban waktu, tenaga dan uang untuk merawat budaya ini adalah para pejuang bangsa yang melestarikan warisan dari leluhur dengan terus menghidupkannya. 

Advertisement
“Bapak mertua saya bilang, apa artinya menjadi orang yang berkasta kalau dia tidak punya manfaat bagi sekitar. Manfaatnya adalah terus melanggengkan warisan budaya yang telah dilestarikan secara turun temurun,” papar Happy.

Tak heran jika di tengah serbuan budaya dari berbagai negara yang datang ke Pulau Dewata ini, Bali tetap dikenal sebagai salah satu daerah yang memegang teguh tradisi dan menjalankan adatnya dengan kuat.

Menjadi bagian dalam keluarga kerajaan sempat membuat Happy keluar dari ‘radar’ popularitas. Bukan tanpa alasan, keluarganya yang kini berdomisili di Bali membuatnya harus mengurasikan pekerjaan-pekerjaannya sebagai seorang seniman aktif selama satu dekade terakhir. Ia pun memperlambat ritmenya. 

Kehidupannya di Bali juga memberikannya tantangan dalam menemukan kreativitas. Ia awalnya berpikir tinggal di Ubud akan memberikannya lebih banyak waktu dan kemudahan dalam menulis, tapi ternyata tidak. Happy mengaku bahwa ia baru bisa menulis justru di tempat-tempat yang ramai seperti Jakarta. Sementara ketika di Bali dengan tempatnya yang sunyi dan tenang, sensitivitas dalam menulis justru tidak muncul.

“Namun pada akhirnya justru melatih saya untuk lebih kreatif, dan membuka ruang baru. Seperti saya memproduseri sebuah seni pertunjukkan,” tuturnya. 

Happy pun mengaku, sang suami punya peranan yang besar dalam mendukungnya untuk tetap bebas berekspresi sebagai seorang seniman. Tjok Gus pun paham betul bahwa salah satu sumber kebahagiaan sang istri adalah dengan terus berkarya.

“Kalau dia tidak berkarya, dia juga akan bingung. Dia kan orang kreatif, kalau tidak berkarya pasti dia tidak bahagia,” tutur Tjok Gus yang memberikan dukungan pada Happy dengan cara memberikan pendapat yang jujur pada setiap karya-karyanya.




(Baca ke halaman selanjutnya)
 

BACA JUGA :
Kawan Tulola untuk Nusantara
Tjokorda Sri Maya Kerthyasa, Penjaga Resep Warisan Para Leluhur
11 Tahun Perjalanan Bisnis Happy Salma, Sri Luce-Rusna, dan Franka Franklin-Makarim

 



Topic

#HappySalma, #TjokGus

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?