True Story
Dyah Pratitasari, Saya Seorang Doula Yang Menemani Ibu Melahirkan

5 Feb 2018



Foto: Caesaria Naila Asri, Dok. Kir


Perjalanan Menjadi Doula

Jalan hidup membawanya pada cerita yang berbeda. Sebelum terjun menjadi doula, Prita adalah seorang jurnalis kesehatan. Profesi wartawan kesehatan yang ia jalani pada 2005-2013 memberinya banyak kesempatan untuk belajar dan bertemu narasumber yang membukakan pikirannya. Seakan takdir menjawab kegamangannya, tahun 2010 Prita mendapat kesempatan untuk mewawancarai Robin Lim, bidan asal Amerika yang bermukim di Bali dan berdedikasi membantu persalinan warga kurang mampu di kliniknya, Bumi Sehat, di Ubud, Bali.

Di sana ia bertukar pikiran dengan ibu Robin dan menyaksikan bagaimana proses melahirkan alamiah lewat filosofi gentlebirth yang selama ini tidak ia ketahui. Prita melihat seorang ibu yang melahirkan dalam posisi jongkok di lantai. Berdasarkan penelitian, jongkok mampu membuka 28-30 persen jalan lahir.

Ada juga bidan yang menanyakan "Ibu mau ditemani siapa?" Prita kaget mendengarnya. Sebab, sepengetahuannya, yang menentukan siapa yang boleh menemani si ibu itu dokter atau suster. Jawaban yang ia dapat membuatnya terkesiap. “Melahirkan adalah proses sakral si ibu, jadi dialah yang berhak menentukan dengan siapa ia merasa nyaman ditemani. Ternyata ada banyak hal yang tidak saya ketahui dan tidak saya alami dalam persalinan saya sendiri,” ujar Prita.

Persepsi kita masih banyak disetir cerita berdasarkan pengalaman orang lain, bahkan adegan sinetron, di mana melahirkan cenderung digambarkan sebagai sesuatu yang menakutkan, menyakitkan, dan membuat panik. Lebih banyak pengalaman tidak enaknya. “Sementara di klinik ibu Robin, saya melihat para bidan tidak menangani ibu seperti dalam kondisi darurat. Semua terlihat tenang, santun, sekaligus memperlakukan proses persalinan sebagai sesuatu yang sakral,” ujarnya. 

Pelajaran yang ia petik dari kunjungannya ke klinik Bumi Sehat bahwa persalinan pada dasarnya adalah proses alamiah. Ia begitu terpesona. Setelah pertemuannya dengan Ibu Robin Prita banyak menggali informasi tentang kehamilan dan persalinan. Dari proses pembelajarannya, ia mengenal adanya profesi doula.

Hatinya kian mantap untuk menjadi pendamping ibu seperti para bidan dan relawan pendamping persalinan yang dilihatnya di klinik Bumi Sehat yang begitu berempati. Prita mulai sering mengikuti pelatihan konselor menyusui dan mendampingi persalinan dari berbagai organisasi.
Advertisement

Tahun 2014 Prita mulai menjalankan profesinya sebagai doula profesional. Dalam prosesnya berburu ilmu, ia mendapati dirinya hamil anak kedua. “Saat itu saya merenung. Barangkali Tuhan memang sengaja memberikan waktu kepada saya agar belajar dulu. Kini, setelah diberi kesempatan belajar lagi, saya merasa lebih percaya diri dan siap untuk melahirkan lagi,” katanya. Jarak antara anak pertamanya, Velma (12), dengan anak kedua, Jose (6), cukup jauh, 6,5 tahun.

Ia mengakui, momen hamil ini menjadi saatnya mempraktikkan semua ilmu yang telah dipelajarinya selama ini. Seperti memberdayakan diri sepanjang kehamilan, menerapkan pola makan dan gaya hidup yang lebih sehat, rutin beryoga, berlatih teknik-mengelola proses persalinan, serta cara menyusui yang benar. Berbeda dengan proses melahirkan anak pertama, pada kelahiran anak kedua ia memilih dilakukan di rumah, ditemani sang suami, Irwan Zam Zam (37). Ia benar-benar merasakan pengalaman melahirkan yang indah. Pengalaman yang intim.

Setelah kelahiran anak kedua dan merasakan banyak manfaat dari proses pembelajarannya, Prita makin yakin untuk terjun secara full time sebagai doula. Pekerjaan doula menuntutnya untuk siap on call kapan pun. “Jam kerja saya memang ajaib. Bisa tengah malam atau dini hari dipanggil ketika ada ibu yang akan melahirkan. Saya juga pernah terpaksa meninggalkan suami yang sedang demam di rumah karena pekerjaan,” katanya, tertawa. Beruntung sang suami mendukung sepenuhnya. Jika ia sedang bertugas, suaminya mengambil alih tugas di rumah dan menjaga kedua anaknya.

Hingga kini, hampir 100 ibu yang telah didampinginya. Hampir 90% telah mengenal Prita sebelumnya. Biasanya dari lingkaran pertemanan, kelas yoga kehamilan, serta kelas persiapan persalinan. Selebihnya dari referensi mulut ke mulut, media sosial, komunitas yang ia dirikan, maupun rekomendasi dokter kandungan.

“Kebanyakan ibu-ibu yang pernah saya bantu menjadi seperti kakak-adik. Kami masih meneruskan silaturahmi. Mungkin karena jalinan
ikatan emosional itu sudah terbentuk,” ucap Prita, senang.(f)


Baca juga:
Perjuangan Patricia Ayu Menepis Keterbatasan Akibat Penyakit Autoimun yang Dialami
Kisah Sejati: Sejak Anak Kami Divonis Talasemia, Keluarga Kami Semakin Dekat
Kisah Sejati: Mengatasi Perbedaan Pendapat Demi Kesembuhan Anak dari Penyakit Langka



Topic

#KisahSejati

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?