True Story
Dyah Pratitasari, Saya Seorang Doula Yang Menemani Ibu Melahirkan

5 Feb 2018



Foto: Caesaria Naila Asri, Dok. Kir

Sempat Trauma Melahirkan

Ketertarikan Prita pada profesi doula didasari oleh pengalamannya sendiri. Setelah menikah Prita yang berasal dari Semarang harus pindah ke Jakarta mengikuti suami. Prita yang langsung hamil harus menjalani masa kehamilannya seorang diri. “Hal yang saya rasakan saat itu, saya merasa sendirian. Tidak punya teman berbagi karena teman-teman dalam lingkar pergaulan masih asyik kuliah, main, dan belum ada yang menikah,” ungkap Prita, yang menikah dan hamil di usia 23 tahun.

Bertanya kepada ibu dan mertua pun terasa kurang memuaskan baginya. Suami tidak tahu apa-apa tentang kehamilan. Puncaknya, suatu hari ia mendapati ada lendir bercampur darah yang menjadi tanda awal persalinan. Prita panik luar biasa. “Saya langsung minta suami untuk mengantar ke rumah sakit. Ternyata itu masih bukaan awal. Jadi saya disuruh pulang dan kembali kalau kontraksinya sudah 5 menit sekali. Sampai rumah, saya merasakan kontraksi makin sering. Saya kembali ketakutan dan dm minta buru-buru diantar ke rumah sakit. Ternyata masih bukaan satu juga. Jadi kami terus bolak-balik sampai suami kesal,” kisah Prita tertawa bercampur sedih mengingat minimnya pengetahuan dirinya mengenai proses persalinan saat itu.

Karena bukaannya ‘tak juga bertambah’, dokter akhirnya menawarkan induksi. “Saat itu, saya tidak tahu induksi itu seperti apa, apa manfaatnya, kapan sebaiknya diberikan, bagaimana risiko, serta cara menyiasatinya. Yang saya tahu biar lahirannya cepat saja. Ternyata rasanya ‘luar biasa’,” aku Prita.
Advertisement

Alhasil, lantaran tidak siap secara fisik dan mental, sepanjang kontraksi ia menangis, tak kuasa menahan rasa nyeri hebat. Saat itulah seorang suster 'menegurnya' , "Lho, sudah mau jadi ibu, kok, nangis, sih…?" Di situ Prita mengaku merasa tambah down. ”Dalam kondisi kepayahan, perkataan itu membuat saya merasa tidak dipahami dan didukung,” kisahnya. Bukan teguran yang Prita inginkan saat itu, tapi penguatan dalam bentuk kata-kata afirmatif, atau setidaknya dukungan sesederhana  menggenggam tangan saja tanpa perlu berkomentar apa pun.

“Melihat saya begitu lemah, kesakitan, dan muntah-muntah, suami pun ikut menangis. Jadinya, kami berdua trauma dengan proses melahirkan,” imbuh Prita.

Cukup lama Prita dan suami menahan diri untuk tidak memiliki anak lagi karena masih dibayangi trauma. Ia harus memendam naluri keibuannya ketika melihat bayi-bayi lucu. “Saat itu saya benar-benar sudah yakin tidak akan mau lagi melahirkan,” katanya.


(Selanjutnya: Perjalanan Jadi Doula)
 


Topic

#KisahSejati

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?