Makan Sehat
Kini, Ragil dan Mei sedang asyik dengan mainan baru mereka, yaitu Nusa Indonesian Gastronomy. “Semua bahan dari tiap daerah berbeda-beda, dan semuanya hebat. Bisa karena sulit didapat, atau aneh,” tambah Ragil. Bahan-bahan yang ‘aneh-aneh” inilah yang mereka gunakan di resto berkonsep fine dining terbaru mereka, Nusa Indonesian Gastronomy. Inilah yang membuat tiap jenis masakan di Nusa memiliki cerita di belakangnya.
“Misalnya sangsang. Aslinya, masakan Batak ini menggunakan daging babi dan dimasak dengan darah babi. Di Nusa, kami menggunakan daging bebek, dan hati bebek sebagai pengganti darah, tapi dengan rasa seautentik mungkin. Lalu ada lagi naniura, yaitu sejenis menu sashimi dari Toba. Ikan mentah yang ‘dimatangkan’ dengan menggunakan bumbu-bumbu bercita rasa kuat, seperti andaliman, bumbu khas dari Batak,” jelasnya.
Malu-malu Mei mengaku bahwa ia memang pernah kecanduan mi instan. Kebiasaan ini bisa jadi muncul gara-gara dulu mi instan adalah makanan andalan saat di tempat kos. Karena jarang memasak, ia bisa mengonsumsinya hingga 3 kali seminggu. Ragil sempat kesulitan menghentikan kebiasaan Mei ini. Tapi, demi anak-anak, Mei pun mulai berjuang. “Kalau enggak makan mi instan dalam seminggu, duh, seperti orang sakau, deh. Bahkan, saya suka beli dua, tapi yang satu diam-diam saya umpetin. Takut ketahuan Ragil dan anak-anak. He… he… he…,” cerita Mei.
Akhirnya, pelan-pelan ia bisa melepaskan ‘kecanduannya’ itu. Sekarang, ia hanya makan mi instan kalau sedang sakit. “Itu comfort zone-nya Mei. Asal cepat sembuh, ya, enggak apa-apalah,” kata Ragil, tersenyum. Meski tak fasih memasak, lidah Mei ternyata lebih mantap untuk urusan makanan, karena ia menjadi juri tiap masakan Indonesia buatan Ragil. “Kalau Mei bilang enak, berarti itu sudah enak, dan siap dijual,” ujar Ragil, memuji istrinya.
Namun, menurut Mei, makanan apa pun yang dibuat Ragil pasti rasanya enak, apalagi nasi gorengnya. Karenanya, ia merasa, kutipan yang mengatakan, “Marry the one who gives you the same feeling you have when you see your food coming at a restaurant,” itu cocok untuknya. “Mungkin gitu, ya, rasanya melihat Ragil. Kalau melihat dia pulang atau baru ketemu rasanya senang saja, mungkin karena dia mengingatkan saya pada makanan. Ha… ha… ha…!”(f)