Trending Topic
UMKM Naik Level Bareng Polytron Seri 3 Bandung: Dapat Banyak Ilmu Baru tentang Operasional dan Omnichannel

19 Jul 2026

DR. Ir. Yati Rohayati, M.T. serta Aprilia Melisa berbagi wawasan mengenai strategi omnichannel dan operasional digital bersama Polypreneur di Bandung. Foto: Suci/Femina


Perubahan perilaku konsumen dan semakin luasnya ekosistem digital mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk beradaptasi.

Berbagai tantangan, mulai dari pengelolaan stok, pelayanan pelanggan, hingga operasional usaha yang masih dilakukan secara manual, menjadi perhatian Polytron, yang menjadikannya isi dari kelas UMKM Naik Level Bareng Polytron Seri 3: Bandung yang digelar pertengahan Juni lalu di restoran Sindang Reret, Bandung.

Kegiatan yang menghadirkan pelaku UMKM sektor kuliner ini mengangkat tema Strategi Omnichannel dan Operasional Digital untuk UMKM Kuliner Cuan Maksimal. Acara tersebut menjadi ruang berbagi pengalaman dan pengetahuan mengenai pengelolaan bisnis yang lebih efisien melalui pemanfaatan teknologi.

Vina Julita Wijaya, Associate General Manager Public Communications Polytron, menjelaskan bahwa berdasarkan hasil kolaborasi bersama Populix, sebagian besar pelaku UMKM masih menghadapi persoalan sumber daya manusia, keterbatasan modal, serta pengelolaan usaha yang belum terstruktur.

Menurutnya, banyak pelaku usaha yang masih mengandalkan pencatatan manual sehingga sulit memantau perkembangan usaha secara menyeluruh. Tantangan lainnya adalah keterbatasan tenaga kerja dan penggunaan peralatan yang belum sepenuhnya mendukung efisiensi operasional.
 
Vina Julita Wijaya menjelaskan berbagai bentuk dukungan Polytron bagi pelaku UMKM melalui program UMKM Naik Level Bareng Polytron. Foto: Suci/Femina

Selain berbagi insight hasil riset, Polytron menghadirkan showcase berbagai solusi yang dapat mendukung kegiatan usaha, termasuk bergabung di WhatsApp Group Polypreneur, dan mendapatkan berbagai promo menarik, yang bisa dicek di sini.

Selama acara berlangsung, peserta memanfaatkan sesi diskusi untuk bertanya dan mencari solusi atas berbagai persoalan bisnis, termasuk mengenai layanan purna jual atau after sales service yang dibutuhkan dalam operasional sehari-hari.
 

Omnichannel tak harus rumit

Para peserta UMKM Naik Level juga dapat ilmu baru tentang omnichannel, strategi pemasaran dan penjualan lintas saluran yang mengintegrasikan toko offline dan online termasuk marketplace, serta media sosial ke dalam satu sistem terpadu. 

Pakar Sistem Operasional Industri dan Digital Marketing Center of Excellence (CoE) Smart MSME and Halal Ecosystem (SHE) Telkom University, DR. Ir. Yati Rohayati, M.T., menjelaskan bahwa strategi omnichannel menghubungkan seluruh kanal penjualan agar informasi terpusat dan operasional lebih efisien.

“Omnichannel menyatukan channel yang dimiliki sehingga informasinya terpusat. Ketika ada transaksi di salah satu kanal, stok akan berubah secara otomatis sehingga informasi yang diterima pelanggan tetap akurat,” ujarnya.
Advertisement

Yati menjelaskan bahwa pelanggan saat ini mengharapkan pelayanan yang cepat dan konsisten. Kesalahan pencatatan stok maupun keterlambatan respons dapat membuat pelanggan beralih ke tempat lain. Karena itu, teknologi dinilai mampu membantu pelaku usaha mengurangi pekerjaan yang bersifat manual.

Ia juga mengingatkan bahwa penerapan omnichannel tidak harus dimulai dengan sistem yang rumit. “Jangan berpikir bahwa omnichannel harus menggunakan teknologi yang sangat canggih. Mulailah dari teknologi yang sudah familiar, seperti WhatsApp Business, kemudian berkembang secara bertahap,” kata Yati.
 
Para pegiat usaha dan pelaku UMKM mengikuti rangkaian acara UMKM Naik Level Bareng Polytron Seri 3 Bandung dengan antusias. Foto: Suci/Femina

Berkembang bersama perubahan

Pengalaman praktis turut dibagikan oleh Aprilia Melisa, Owner Terve Chocolate dan praktisi bisnis. Ia menceritakan tantangan mengelola penjualan melalui beberapa marketplace sekaligus. Menurutnya, tanpa sistem yang terintegrasi, risiko kesalahan stok dan pembatalan pesanan akan semakin besar.

“Gunakan aplikasi yang bisa langsung mengurangi stok ketika ada penjualan di berbagai platform. Kehilangan pelanggan karena stok tidak sesuai jauh lebih mahal dibanding biaya aplikasi,” ujarnya.

Aprilia mengatakan bahwa penggunaan teknologi harus dibarengi dengan kemauan untuk terus belajar. Perubahan algoritma media sosial hingga perkembangan artificial intelligence (AI) menjadi hal yang tidak bisa diabaikan oleh pelaku usaha.

“Digital itu berubah terus. Mau tidak mau kita dipaksa untuk terus belajar. Setiap kali serius belajar, bisnis bisa terus berkembang dan naik kelas,” katanya.

Menurut Aprilia, AI tidak hanya digunakan untuk mencari jawaban, tetapi juga dapat membantu menganalisis bisnis, membuat materi presentasi, hingga mendukung pembuatan konten. Namun, konsistensi dalam belajar tetap menjadi faktor utama dalam pengembangan usaha.

Melalui kegiatan tersebut, pelaku UMKM memperoleh gambaran mengenai pentingnya integrasi kanal penjualan, pengelolaan operasional yang lebih tertata, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Di tengah persaingan yang semakin ketat, efisiensi dan pemanfaatan teknologi menjadi salah satu langkah untuk menjaga keberlanjutan usaha. (f)

Baca juga:
Meiline Tenardi dan Perempuan Berdaya yang Menghargai Makna Dirinya
Didominasi Dukungan Raksasa Teknologi, Met Gala 2026 Kumpulkan 42 Juta Dolar AS

UMKM Naik Level Seri 2 Surabaya: Brand Makin Kuat dengan Storytelling dan Tidak Gengsi Belajar
 

Laili Damayanti


Topic

#UMKMIndonesia, #DigitalisasiUMKM

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?