Trending Topic
Soal Care Economy, UN Women Soroti Potensi Usaha yang Menjawab Masalah Perempuan Pekerja

6 Sep 2024

Kiri ke kanan: Dwi Yuliawati Faiz (Head of Programmes UN Women Indonesia), Winnie Petrica (Founder Tupai Kecil Daycare), dan Wita Krisanti (Executive Director IBCWE). Foto: Dok. IWC 2024

Pernah mendengar istilah "double burden" atau beban ganda? Ini adalah istilah untuk menggambarkan hal yang dialami perempuan bekerja maupun berwirausaha.

Selain berkarier maupun mengelola usaha, banyak perempuan juga bertanggung jawab soal mengurus keluarga, terutama anak-anak dan orang tua. Beban ganda ini kerap menjadi penghalang bagi perempuan untuk mencapai kesetaraan dalam dunia kerja. 

Fakta ini didukung oleh pernyataan Wita Krisanti, Executive Director Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE), saat menjadi pembicara dalam Kelas Inspirasi Ini Potensi Bisnis Hebat! Care Economy di IWC 2024. "Jumlah perempuan yang naik ke level manajerial lebih sedikit karena dibebani dengan tanggung jawab pengasuhan," ujar Wita.

Pekerjaan pengasuhan kerap dianggap mudah. Namun menurut UN Women, ternyata pekerjaan pengasuhan yang tidak dibayar memakan setengah dari keseluruhan waktu kerja secara global. Permasalahan ini akan berujung kepada ketimpangan gender karena semua beban pengasuhan tak dibayar tersebut dibebankan kepada perempuan. 
Kiri ke kanan: Dwi Yuliawati Faiz, Winnie Petrica, Petty S. Fatimah, dan Wita Krisanti kompak hadirkan isu Care Economy. Foto: Dok. IWC 2024

Kehadiran daycare dan usaha bisnis pengasuhan lainnya membantu perempuan untuk menyeimbangkan kehidupan karier dan tugasnya mengurus keluarga. Dwi Yuliawati Faiz, Head of Programmes UN Women Indonesia, menyebut ada dua tipe pekerjaan perawatan, yaitu direct dan indirect. Direct adalah pekerjaan pengasuhan yang langsung dari carer ke caregiver. Sedangkan indirect berarti pengasuhan tidak langsung, seperti asisten rumah tangga.

Salah satunya usaha milik Winnie Petrica, Tupai Kecil Daycare. Usaha ini Winnie bangun setelah merasa kesulitan mencari pengasuh untuk ketiga orang anaknya. Keresahan tersebut memotivasi Winnie untuk membuat daycare yang memberikan standar pengasuhan terbaik. 

"Kita sebagai ibu pekerja nggak bisa apa-apa. Kalau lihat nanny melakukan hal buruk dan nanny-nya kita marahi, nanti takut semakin jahat pada anak. Dan berujung, kita harus cari nanny baru dan terus berulang sampai akhirnya kita masukin ke daycare sambil belajar apa yang terbaik," ujar Winnie.

Tantangan lebih sering datang dari keluarga

Selama membangun usaha daycare, Winnie mengaku tantangan dan hambatan justru kerap datang dari keluarga. "Dulu, tahun 2018, kami sering banget didatangi sama oma-oma yang marah cucunya dititipkan ke daycare. Beruntung, sekarang sudah mulai berkurang," ceritanya.

Kekhawatiran saat memasukkan anak ke daycare memang lumrah dirasakan para orang tua. Namun Winnie memastikan Tupai Daycare selalu memberikan yang terbaik untuk anak-anak yang dititipkan di tempatnya, seperti memasang CCTV yang bisa diakses oleh orang tua dari jarak jauh sejak tahun 2016, juga terdapat WhatsApp Group untuk mengabari para orang tua mengenai anak mereka.

Advertisement
Meski demikian, Winnie menjelaskan bagaimana kebiasaan dan pengasuhan yang diaplikasikan dalam daycare-nya. Ia mengerti jika ada orang tua dengan pertimbangan tertentu sehingga mengurungkan niat untuk memasukkan anak ke daycare
 
Dwi ungkapkan sorotan UN Women terhadap penyebab jumlah perempuan yang naik ke level manajerial lebih sedikit karena beban pengasuhan perlu diatasi bersama. Foto: Dok. IWC 2024

Regulasi juga jadi penghalang

Selain komentar orang terdekat, regulasi berbelit dan tidak terstruktur menjadi tantangan yang hadir saat membangun daycare. Winnie menyebut, mulanya ia akan membangun sebuah TK sebagai lanjutan dari daycare dan after-school care, namun terhalang regulasi dari pihak kementerian.

"Membuka daycare itu tidak semudah yang dikira. Pernah sewaktu akan membuka (daycare), ada dinas terkait yang bilang ‘Jalan saja dulu, nanti baru diurus’. Tapi saat waktu berjalan, disidak. Di daycare lain, bilangnya harus ke dinas pendidikan. Di daycare lainnya lagi, bilangnya ke dinas sosial. Jadi, kita harus sering bertanya," cerita Winnie.

Wita menggarisbawahi fenomena ini jadi PR bagi pemerintah Indonesia untuk membuat kebijakan mengenai usaha pengasuhan menjadi lebih baik dan tertata. Ia membawa contoh seperti kebijakan di India di mana semua regulasi mengenai daycare dan kebutuhan anak usia dini masuk ke Undang-Undang Hak Anak. "Anak berhak mendapat pengasuhan, nutrisi, pendidikan. Jadi, bukan ranah pendidikan saja, ketenagakerjaan, tapi itu sudah menjadi hak dasar anak," Wita menegaskan.

Bahkan, di India banyak subsidi dari pemerintah mengenai pengasuhan dan pemenuhan hak dasar anak, seperti ‘daycare keliling’ yang sangat membantu perempuan, dari kelompok kelas mana pun, untuk menyeimbangkan pekerjaan dan urusan rumah tangga. 

Winnie berharap regulasi dan SOP mengenai daycare bisa diperjelas karena ini menjadi fondasi dari inklusivitas gender di Indonesia. “Kami nggak punya standar pengasuhan yang benar di Indonesia. Kalau di luar negri sudah ada, misalnya jarak dari dapur ke kamar berapa, satu kamar bisa diisi oleh berapa anak. Hal seperti itu diharapkan bsia membangun usaha daycare di Indonesia," kata Winnie.

Be visible

Dwi berharap usaha daycare ini semakin dikenal, mengingat usaha ini mendorong kesetaraan gender dan memberikan dampak baik yang lebih dari sekadar profit. 

"Make visible that this business will bring impact more than the economy profit, tapi juga bisa menjadi modal bangsa ini. Be bold. Kalau pekerjaan pengasuhan itu bukan hanya pekerjaan perempuan. Encourage bapak-bapak untuk berpartisipasi juga," Dwi menutup diskusi. (f) 

Baca juga:
Stephanie Macleod, Pembuat Wiski Ulung yang Mengubah Stereotipe Industri
Bebas Repot Saat Ajak Buah Hati Jalan-jalan dengan Stroller ABC Design
 

Ghina Athaya


Topic

#IWC2024, #CareEconomy, #IndonesiaWomenpreneurConference, #IWC, #AkademiFemina, #Wanwir, #WanwirFemina, #WanitaWirausaha

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?