Foto: 123RF
Anne Nuraini Menakgeti (39), relawan di organisasi Aksi Cepat Tanggap (ACT), gerah melihat ‘relawan’ yang mengunggah foto atau status di media sosial hanya agar dianggap hebat. “Sebenarnya, sih, boleh saja. Tapi, seharusnya relawan sejati akan bekerja dengan atau tanpa harus mendapatkan pengakuan dan penghargaan dari orang lain,” ceritanya.
Walau wajar berbagi pengalaman di media sosial, menurut Anne, seharusnya kita tahu batasan etis atau tidaknya. “Lebih tidak etis lagi ketika kita menyebarluaskan foto korban bencana tanpa seizin pihak keluarga, apalagi bila korban tersebut adalah anak-anak,” ujarnya lagi.
Inilah permasalahan lain yang terjadi di dunia kerelawanan. Kendati niatnya baik, beberapa dari mereka justru menyampingkan etika. Walaupun masing-masing bidang memiliki kode etik kerelawan yang berbeda-beda, ini adalah etika dasar yang perlu diketahui para relawan yang dibagikan oleh Tyas Handayani (Ketua Yayasan Pita Kuning Anak Indonesia), Bayu Gawtama (Konsultan Relawan dan Pendiri Sekolah Relawan), dan Yuniyanti Chuzaifah (Wakil Ketua Komnas Perempuan).
1/ Jangan asal unggah
Boleh mengunggah foto kegiatan kerelawanan, karena itu adalah bentuk dokumentasi acara dan berfungsi menggugah publik agar menyebar kebaikan. “Tapi jangan asal posting, karena untuk relawan di lokasi bencana, tidak diperbolehkan memperlihatkan korban dengan kondisi mengenaskan,” tegas Bayu. Menurut Tyas, etika penggunaan media sosial oleh relawan YPKAI harus bernilai positif, tidak menunjukkan kesedihan, selalu meminta izin pada keluarga dan si anak, jika ingin menyebarkan fotonya. Pun ketika menuturkan cerita tentang kegiatan bersama anak-anak, harus menggunakan bahasa yang positif, yang menginspirasi, dan tidak memaparkan kesengsaraan.
2/ Emosi stabil
Menjaga emosi agar tetap stabil dan optimistis adalah salah satu yang sulit dilakukan para relawan. Bertemu korban atau pihak yang dibantu, tentu akan memicu rasa iba dan memengaruhi emosi. “Misal, melihat anak penderita kanker, si relawannya malah ikut nangis. Padahal, kita tidak boleh tampak sedih agar anaknya tetap semangat dan optimistis,” cerita Tyas, yang mengaku ini menjadi tantangan terbesar relawan. Begitu juga ketika relawan Komnas Perempuan mendampingi korban kekerasan wanita.
“Terkadang relawan jadi ikut-ikutan stres atau sedih ketika mendengar cerita korban. Simpati pada mereka boleh saja, tapi jangan sampai membuat emosi korban menjadi lebih terpuruk karena relawannya ikut sedih,” tutur Yuniyanti Chuzaifah (Yuni).
Seperti halnya definisi ‘relawan’, yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya adalah ‘orang yang melakukan sesuatu dengan sukarela’, imbalan yang didapat adalah kebahagiaan karena telah membantu, bukannya bersifat materi. Tidak etis jika kita bekerja sebagai relawan,tapi mengharapkan honor dari penyelenggara acara. “Namun, jangan lantas karena itu sifatnya sukarela, bekerjanya juga serelanya saja. Harus ada komitmen dan tanggung jawab untuk membantu mereka yang membutuhkan,” tambah Bayu.
4/ Jaga kerahasiaan
Walau kehadiran para relawan adalah untuk membantu atau meringankan masalah orang lain, tak lantas pantas bagi para pekerja sosial ini menyebarkan keluh kesah mereka pada pihak lain. Terlebih lagi jika masalah orang yang dibantu tersebut ada kaitannya dengan hukum. Seperti di Komnas Perempuan, para relawan wajib menjaga kerahasiaan cerita para korban kekerasan dan melindungi saksi. “Jadi sangat tidak bisa, habis mendengarkan curhatan korban tentan kekerasan atau pelecehan yang dialaminya, langsung diceritakan kepada orang lain, atau lebih parah lagi ke media sosial,” ujar Yuniyanti, mengingatkan.
5/ Tidak pilih-pilih
Bekerja atas nama kemanusiaan, tentu tak bisa pilih-pilih siapa yang akan dibantu. “Tidak pandang agama, suku, ras, kelas ekonomi, status, dan lain sebagainya. Semuanya dipandang sama dan harus ditolong. Karena tentu, ketika kita menolong orang lain, kita tidak akan tanya agamanya, sukunya, atau rasnya, ‘kan?” ujar Bayu, mengingatkan bahwa di lapangan para relawan tidak diperbolehkan melakukan intimidasi dan tidak pilih kasih.
Menjadi relawan memang bukan pekerjaan mudah. Mereka tak hanya datang ke lokasi dan asal memberikan bantuan begitu saja. Begitu banyak komponen yang perlu dipahami dan dimiliki oleh jiwa-jiwa aktivis kemanusiaan ini, yaitu hati yang tulus mewujudkannya menjadi aksi nyata, kompetensi, dan memahami etika.
Lebih dari itu, baik Bayu, Tyas, maupun Yuni sepakat bahwa menjadi relawan dibutuhkan tiga poin esensial: hati, kompetensi, dan komitmen. "Walau konsep dasar 'relawan' adalah kerelaan, menjadi relawan sejati juga butuh komitmen. Komitmen membagi waktu kerja, tanggung jawab, hingga prioritas," papar Bayu.
“Penting bagi para relawan punya keterikatan dan sense of belonging yang kuat atas aktivitas kerelawanan yang mereka lakukan, karena kita punya satu tujuan yang sama, yaitu membantu dan memberikan kebahagiaan bagi orang lain," ujar Tyas, mengingatkan. (f)
Baca juga:
Tren Wirausaha Sosial, Semangat Bisnis Untuk Kemanusiaan
Kerja Nyata Para Relawan Sampah
Karena Pembiaran, Cerita Para Relawan Sampah