Biasanya, yayasan-yayasan sosial juga membuka ruang untuk para relawan yang mau bergabung. Misalnya, Yayasan Kanker Anak (YOAI Foundation), Lovepink Indonesia, Yayasan Buddha Tzu Chi, Yayasan Dompet Dhuafa, Yayasan Jantung Indonesia, Yayasan Pulih, Yayasan Bhakti Luhur, dan masih banyak lagi.
“Pilihan channel untuk melakukan aksi sosial sesuai minat dan keahlian kini terbuka lebar dan dengan mudah bisa ditemukan di internet,” cetus psikolog sosial Dwi Prihandini, atau biasa dipanggil Dini. Berbeda dengan beberapa dekade lalu, ketika belum ada internet dan media sosial, informasi sangat terbatas. Mereka yang tergerak ingin membantu sesama, tak tahu harus bagaimana memulai atau pergi ke mana. Itu sebabnya, sejak booming media sosial, euforia dalam gerakan sosial ini pun makin berkibar.
Ia menilai, kampanye word of mouth atau ajakan dari teman sendiri untuk berpartisipasi jauh lebih powerful. Twitter memungkinkan orang-orang untuk saling retweet mengajak kenalannya. Hebatnya, hanya dalam sekali tweet, pesan bisa langsung menjangkau ratusan dan bahkan ribuan followers.
“Media, termasuk media sosial, ternyata berperan sangat besar dalam menumbuhkan motivasi seseorang dan menyediakan akses untuk ikut terlibat dalam aksi sosial untuk orang lain (yang bahkan tak dikenalnya),” kata Dini. Juga sangat efektif sebagai sarana crowdfunding sebagaimana yang dilakukan oleh Yayasan Dompet Dhuafa. Dengan memanfaatkan banyak media, mulai dari cetak, elektronik, hingga menyasar ke media sosial, yayasan ini mampu menghimpun dana lebih dari 200 miliar per tahunnya.
Reynette Fausto