Trending Topic
Peran Media Sosial

19 Jan 2015

Di Indonesia, berbagai komunitas yang menjadi wadah untuk melakukan aksi heroik ini kian menjamur. Dengan adanya komunitas, maka program dan pembagian kerja, akses pada objek yang hendak dibantu, dan penggalangan donasi, akan lebih terarah ketimbang jalan sendiri.
   
Mulai dari komunitas 1001 Buku (@1001buku dengan 4.000 lebih followers) yang rajin mengumpulkan buku untuk anak-anak yang haus pengetahuan, Indonesia Mengajar yang menyumpal kekurangan tenaga pengajar di pelosok (@Ind_Mengajar dengan 198.000 followers), Diet Kantong Plastik (@idDKP dengan 8.000 followers), Komunitas Jendela yang mendorong minat baca anak (@IniJendela dengan 3.000 followers), Club Speak yang vokal menyuarakan antikorupsi (@clubSPEAK dengan 7.600 followers),  Indonesia Bercerita (@IDCerita dengan 18.000 lebih followers), Transformasi Hijau (@trashicool dengan 15.000 followers), Animal Defenders (@ADefenders dengan 9.400 lebih followers), hingga Saber (Sapu Bersih), komunitas pemungut ranjau paku yang berserakan di jalan raya.

Biasanya, yayasan-yayasan sosial juga membuka ruang untuk para relawan yang mau bergabung. Misalnya, Yayasan Kanker Anak (YOAI Foundation), Lovepink Indonesia, Yayasan Buddha Tzu Chi,  Yayasan Dompet Dhuafa, Yayasan Jantung Indonesia, Yayasan Pulih, Yayasan Bhakti Luhur, dan masih banyak lagi.

“Pilihan channel untuk melakukan aksi sosial sesuai minat dan keahlian kini terbuka lebar dan dengan mudah bisa ditemukan di internet,” cetus psikolog sosial Dwi Prihandini, atau biasa dipanggil Dini. Berbeda dengan beberapa dekade lalu, ketika belum ada internet dan media sosial, informasi sangat terbatas. Mereka yang tergerak ingin membantu sesama, tak tahu harus bagaimana memulai atau pergi ke mana. Itu sebabnya, sejak booming media sosial, euforia dalam gerakan sosial ini pun  makin berkibar.

Advertisement
Marissa Saraswati
misalnya, karena kesulitan memperoleh donasi barang-barang bekas yang akan dijualnya dalam bazar amal Secondhand4life, ia pun memanfaatkan Twitter dan blog untuk menginformasikan kegiatannya dan kebutuhannya mengumpulkan barang bekas.
Ia menilai, kampanye word of mouth atau ajakan dari teman sendiri untuk berpartisipasi jauh lebih powerful. Twitter memungkinkan orang-orang untuk saling retweet mengajak kenalannya. Hebatnya, hanya dalam sekali tweet, pesan bisa langsung menjangkau ratusan dan bahkan ribuan followers.

“Media, termasuk media sosial, ternyata berperan sangat besar dalam menumbuhkan motivasi seseorang dan menyediakan akses untuk ikut terlibat dalam  aksi sosial untuk orang lain (yang bahkan tak dikenalnya),” kata Dini. Juga sangat efektif sebagai sarana crowdfunding sebagaimana yang dilakukan oleh Yayasan Dompet Dhuafa. Dengan memanfaatkan banyak media, mulai dari cetak, elektronik, hingga menyasar ke media sosial, yayasan ini mampu menghimpun dana lebih dari 200 miliar per tahunnya.

Reynette Fausto





 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?