Sementara itu, walau tak banyak WNI-nya, Niniek Kun Naryatie, Duta Besar RI-Argentina, Paraguay, dan Uruguay, tetap membuat satgas COVID-19.
“Satgas ini tujuan utamanya adalah untuk memantau seluruh WNI yang berada di negara akreditasi dan kondisi kesehatan mereka. Upaya perlindungan bukan hanya kepada WNI yang bermukim di negara akreditasi, tapi juga 18 wisatawan Indonesia yang terdampar di Taman Nasional Calafate di ujung selatan Argentina,” paparnya.
Di Italia, sebagai salah satu negara dengan jumlah kasus COVID-19 terbanyak di dunia, memberikan tantangan tersendiri bagi Esti Andayani, Duta Besar RI-Italia, Malta, dan San Marino. Belum lagi, mengingat ada nyaris seribu anak buah kapal berkebangsaan Indonesia yang tak bisa dipulangkan.
“Walau sulit, kita sudah berhasil memulangkan sekitar 700 WNI. Semuanya dilalui dengan tata cara protokoler yang sangat ketat. Kami juga membentuk grup dan posko COVID-19 yang menjadi media informasi dan bantuan untuk WNI-WNI di sini,” jelasnya.
Sedangkan Marina Estella Anwar Bey, Duta Besar RI-Peru dan Bolivia bercerita tentang pengalamannya bagaimana mengeluarkan turis dari Peru hanya dalam waktu 24 jam saja dan menghimbau WNI untuk tetap tinggal di rumah.
“Ini membawa kepanikan tersendiri kepada kami. Meskipun WNI di sini berhasil kami tangani bukan berarti pekerjaan selesai. Pasalnya di sini WNI kebanyakan bekerja di sektor informal, memiliki toko kecil yang merasakan dampak yang negatif sehingga tentu kita harus memberikan bantuan kepada mereka,” jelasnya.
Di kota Dhaka, Rina Soemarno, Duta Besar RI- Bangladesh, Nepal, menceritakan bagaimana kebijakan isolasi yang dilakukan di negara tersebut memberikan tantangan diplomasi tersendiri.
“Di sini belum banyak yang terbiasa melakukan pertemuan virtual seperti video conferencing, mengingat juga pasokan listrik dan internet yang belum menyeluruh. Pada saat pandemi ini, penggunaan media digital menjadi sangat penting, ketika KBRI tidak bisa hadir secara fisik,” paparnya.
(Lanjut ke halaman berikutnya)
Topic
#Corona, #Kartini