Kini, ia bertransformasi menjadi The Meru Sanur dan Bali Beach Hotel, sebuah karya arsitektur lintas zaman yang menghidupkan lagi jejak modernitas awal negara ini. Revitalisasi ini diwujudkan oleh Yolodi + Maria Architects, yang digawangi dua arsitek, Gregorius Supie Yolodi dan Maria Rosantina.
Proyek The Meru Sanur dan Bali Beach Hotel ini menghadirkan pendekatan yang sangat sensitif dan bertanggung jawab terhadap warisan bersejarah.
Sebagai arsitek, koordinator desain, sekaligus konseptor, Yolodi + Maria Architects menyuntikkan filosofi baru yang relevan dengan gaya hidup abad ke-21. Dalam pernyataan perancangan, Yolodi + Maria Architects menjelaskan strategi mereka: Preservasi, konservasi, dan penambahan yang benar-benar cermat.
“The Meru Sanur dan Bali Beach Hotel ini kami rancang sebagai dialog lintas waktu, yang menghidupkan kembali roh warisan arsitektur modern Bali Beach Hotel, tapi juga menjawab kebutuhan dan nilai-nilai masa kini,” ujar Yolodi dan Maria.
Sebuah buku dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris bertajuk Tropical Indulgence: The Meru Sanur and Bali Beach Hotel diluncurkan, bersamaan digelarnya pameran bertajuk Reviving the Legacy akhir tahun lalu. Keduanya merayakan dialog arsitektur yang merevitalisasi landmark atau tengara ikonik di Bali itu.
Coffee table book dalam desain luks minimalis itu ditulis David Hutama, menampilkan foto-foto cantik The Meru Sanur dan Bali Beach Hotel dari jepretan Davy Linggar, menunjukkan pendekatan proyek ini agar Bali Beach Hotel lebih selaras zaman.
Prof. Johannes Widodo, seorang akademisi konservasi arsitektur, dalam diskusi panel di acara pamerannya, bahkan menyoroti, “Arsitektur dan aturan tradisional Bali itu bukan tentang melestarikan masa lalu, tapi tentang membentuk masa depan yang berlandaskan etika lingkungan.”
Dari bukunya juga kita bisa melihat bagaimana konsep baru The Meru Sanur yang sekarang fokus pada pariwisata kesehatan dan kebugaran (health and wellness tourism) diterjemahkan Yolodi + Maria Architects ke dalam bahasa arsitektur yang elegan. Mereka mengangkat kemewahan paling mendasar dan intim, koneksi harmonis antara manusia, ruang, dan alam.
Yang menarik, pamerannya digelar tepat di depan mural batu bersejarah karya Harijadi Soemadidjaja—sebuah karya yang ditunjuk langsung oleh Presiden Soekarno. Setting ini semakin memperkuat kesinambungan sejarah yang coba disampaikan.
Pameran tersebut memajang dua narasi utama, Reading Bali Beach dan Creation of The Meru Sanur, yang secara visual memperlihatkan bagaimana Yolodi + Maria Architects menyandingkan masa lalu dan masa kini secara jernih dan seimbang.
Melalui proyek revitalisasi ini, The Meru Sanur dan Bali Beach Hotel menjadi warisan hidup yang menghormati sejarah, sekaligus ikut membentuk masa depan pariwisata yang bertanggung jawab dan berkelanjutan—sekaligus destinasi kamu saat berlibur di Bali! (f)
Baca juga:
5 Hidden Gem di Perth untuk Liburan Seru Beramai-ramai
7 Pesona Musim Dingin Saudi Wajib Kunjung Akhir Tahun Ini
Dekat Pantai Petitenget, Ada KLEO Seminyak yang Bergaya Mid-Century Modern