Salah satu destinasi yang bisa dipilih para pencari harmoni antara budaya, alam, dan spiritualitas adalah Bhutan.
Dikenal dengan julukan “Negeri Naga Guntur,” Kerajaan Bhutan menawarkan beragam pengalaman unik di setiap musim yang menjadikannya destinasi menarik untuk dikunjungi sepanjang tahun–dari puncak bersalju di musim dingin, mekarnya rhododendron di musim semi, lembah-lembah hijau di musim panas, hingga serunya festival musim gugur.
Setiap musim di Bhutan menghadirkan daya tarik berbeda. Musim dingin (Desember-Februari) adalah waktu tepat kalau kamu ingin menikmati pegunungan bersalju dan suasana tenang di lembah terpencil.
Sementara musim semi (Maret-Mei) dipenuhi bunga-bunga cantik seperti rhododendron dan anggrek, serta berbagai festival yang merayakan alam dan budaya lokal. Pada periode ini, aktivitas seperti hiking dan eksplorasi alam menjadi sangat menarik dengan lanskap yang visual banget.
Dan musim gugur (September-November) jadi momen perayaan budaya dan spiritual, ditandai festival besar yang menampilkan tarian topeng sakral dan ritual Buddha, dengan latar belakang langit cerah yang menonjolkan pemandangan pegunungan.
Rangkaian festival di Bhutan sarat tradisi dan makna. Kalau kamu berniat traveling ke Bhutan, beberapa festival yang direkomendasikan Departemen Pariwisata Bhutan - Kementerian Industri dan Ketenagakerjaan di bawah ini wajib kamu kunjungi dalam enam bulan ke depan.
1/ Rhododendron Festival (22-23 April 2026, Royal Botanical Park, Lamperi)
Festival ini memadukan alam dan budaya melalui pameran, pertunjukan seni, kuliner lokal, dan aktivitas alam berpemandu, sekaligus menyoroti pentingnya melestarikan ekosistem Bhutan yang kaya dan unik.
2/ Great Yeti Quest (8-9 Mei 2026, Sakteng, Trashigang)
Terinspirasi legenda lokal Yeti, festival unik ini memadukan petualangan, budaya dan eksplorasi alam dengan mengajak wisatawan trekking, menikmati pertunjukan budaya Brokpa, dan merasakan kehidupan masyarakat semi-nomaden.
3/ Matsutake Festival
23-24 Agustus 2026, Ura: Meneruskan perayaan di Genekha, festival di Ura Valley, Bumthang, ini mengajak wisatawan memahami peran penting panen atmsutake bagi ekonomi lokal sekaligus belajar praktik panen berkelanjutan. Wisatawan juga bisa menjelajahi keindahan alam Bumthang dan merasakan keramahan tradisional masyarakat Bhutan.
Diadakan di halaman benteng dan biara Budha, Tashichho Dzong, festival kuno ini didedikasikan untuk Palden Lhamo, dewi pelindung Bhutan, yang menampilkan tarian topeng sakral (Cham) dan ritual yang dipercaya dapat menjaga dzong (kuil), ibu kota, dan negeri dari bahaya.
5/ Thimphu Tshechu (21-23 September 2026, Thimphu)
Perayaan berlanjut dengan Thimphu Tshechu, salah satu festival terbesar di Bhutan. Festival ini menampilkan tarian topeng sakral, ritual keagamaan, dan pertunjukan budaya yang meriah, dihadiri ribuan warga yang mengenakan busana tradisional untuk merayakan dan menerima berkah.
6/ Bathing Carnival (22-24 September 2026, Pemagatshel):
Menutup musim festival yang semarak, Bathing Carnival menghadirkan perayaan yang mengangkat tradisi wellness khas Bhutan, seperti pemandian herbal dan hot stone. Festival ini menawarkan pengalaman relaksasi sekaligus kesempatan terhubung dengan tradisi lokal di tengah lanskap pedesaan yang indah.
Festival-festival ini secara keseluruhan menawarkan kepada para pengunjung kesempatan langka untuk merasakan langsung kekayaan warisan budaya Bhutan, tradisi spiritual, dan lingkungan alamnya yang masih murni.
Melalui pendekatan pariwisata “high-value, low-volume,” yaitu prinsip pariwisata bernilai tinggi dengan jumlah kunjungan yang terbatas, Bhutan memastikan setiap perjalanan memberikan pengalaman yang bermakna sekaligus mendukung pelestarian budaya dan lingkungan.
Kalau Bhutan masuk dalam destinasi wisata kamu tahun ini, jangan lupa rencanakan perjalanan kamu melalui operator tur Bhutan berlisensi, sehingga kamu bisa mendapatkan pengalaman bermakna dari slow travel sekaligus kekayaan alam, budaya, dan masyarakat di Bhutan. (f)
Baca juga:
Intip Tata Krama Jadi Anggota Kerajaan Tersohor Masa Kini, dari Inggris hingga Bhutan
Melintasi Waktu di Museum Dubai Frame
Wajib Tahu, Ini Etika saat Traveling ke Luar Negeri
Brianna Relisha
Topic
#feminaindonesia, #feminatravel