Aplikasi kencan termasuk salah satu cara paling banyak diminati Gen Z bertemu calon pasangan. Survei Paw Research Center tahun 2023 menyebutkan, sekitar 53% orang dewasa berusia di bawah 30 tahun menggunakan aplikasi dan situs kencan untuk mencari pasangan.
Namun pernyataan mengejutkan datang dari ahli dan terapis relasi juga pencari jodoh selebritas Amerika Serikat, Dr. Christie Kederian, LMFT., baru-baru ini. Dilansir dari Parade, Christie mengungkapkan pengalamannya saat memberikan layanan perjodohan, yang menemukan bahwa saat ini orang mulai bosan dengan kencan daring.
Tak jauh berbeda dengan Christie, kandidat PhD dari Flinders University, Adelaide, Zac Bowman, yang melakukan penelitian sejak tahun 2020 dengan partisipan pengguna aplikasi kencan dari Amerika Serikat, Inggris, dan Australia, menemukan fakta bahwa sebagian orang-orang mulai tidak nyaman mencari pasangan secara daring karena berbagai alasan.
Selain kerap tidak berujung bahagia, pencari pasangan daring merasa dieliminasi karena faktor fisik. Sekitar 86% penelitian menyatakan bahwa aplikasi kencan memiliki dampak negatif berupa penghakiman terhadap citra tubuh kandidat. Juga hampir setengah dari penelitian melaporkan dampak negatif aplikasi kencan terhadap kesehatan dan kesejahteraan mental kandidat.
Lebih lanjut, dari hasil penelitian Zac sebagaimana telah dipublikasikan di The Conversation, menunjukkan adanya pergeseran kriteria pasangan kencan yang dicari oleh para kandidat.
Aplikasi kencan dan kesehatan mental
Seperti halnya media sosial, aplikasi kencan sangat berfokus pada visual seseorang. Artinya, sepanjang seseorang mencari pasangan melalui aplikasi, mereka cenderung lebih memutuskan berdasarkan gambar atau video dari kandidat yang ada. Sedangkan profil pribadi lain, seperti minat atau hobi, hanya diakses setelah merasa cocok dengan penampilan visual kandidat.Penekanan pada konten visual ini pada gilirannya menyebabkan pengguna memandang penampilan mereka lebih penting daripada jati diri, dan proses ini disebut objektifikasi diri. Orang yang mengalami objektifikasi diri cenderung lebih memerhatikan penampilan, yang berpotensi menimbulkan ketidakpuasan terhadap tubuh, rasa malu diri sendiri, bahkan masalah lain yang berkaitan dengan citra tubuh.
Dari beberapa alasan ini, tak sedikit orang kemudian mengalami gangguan kesehatan dan kesejahteraan mental yang dipicu oleh pengalaman penolakan dan objektifikasi diri akibat aktivitas di aplikasi kencan.
Kembali ke kencan komunitas
Selain banyaknya dampak negatif yang dirasakan, minat untuk mencari pasangan dari aplikasi kencan juga kian berkurang karena banyaknya kasus penipuan dan pelecehan seksual yang berkembang. Orang-orang pun mulai kembali ke gaya lama mencari pasangan."Salah satu tren mengejutkan tahun ini adalah kebangkitan 'kencan berfokus pada komunitas' yang kembali lagi," ungkap Christie, yang juga juga pernah menulis buku 10 Dates to Your Soulmate.
Masih menurut Christie, kini semakin banyak orang mencari hubungan yang lebih dalam dan lebih bermakna.
Karena itu, gaya pencarian pasangan kini mengalami pergeseran ke arah kencan yang melibatkan aktivitas sosial dan komunitas bersama. Beberapa aktivitas sosial yang dimaksud di antaranya mengikuti acara amal, komunitas agama/kepercayaan, kumpul-kumpul di lingkungan rumah/profesi, bahkan dari mengikuti kursus seperti kelas memasak.
Buat Sahabat Femina yang sedang cari pacar, siap mengikuti tren kencan ini? Siap ikut tren kencan yang lebih fokus menemukan koneksi dengan seseorang yang lebih alami dan organik?
Baca juga:
Laci Asmara Dukung Hubungan Intim yang Aman, Nyaman, Menyenangkan, dan Bertanggung Jawab
5 Pelajaran dari Hubungan Menyentuh dalam Drakor No Gain No Love
6 Tanda Anda Berada dalam Hubungan yang Toxic, Jangan Terjebak!
Laili Damayanti
Topic
#DatingApps, #TrenKencan2025