Menurut psikolog Monty Satiadarma, tanpa menutup peluang terbinanya hubungan interpersonal yang diawali lewat online, saya menyarankan untuk lebih berhati-hati membina hubungan emosional yang sebagian besar dilandasi hubungan maya. Pada akhirnya suatu pernikahan bersifat nyata, bukan maya dan online. Oleh karena itu, belajar mengenali diri calon pasangan harus dilandasi hubungan nyata.
Pertemuan langsung merupakan hal yang amat penting, namun rentang masa pertemuan perlu juga dipertimbangkan. Jika Anda bertemu sekadar satu atau dua minggu saja agaknya masih terlalu dini bagi Anda mengenal diri calon pasangan. Memang, ada pasangan hidup yang belajar mengenal satu sama lain dalam waktu amat singkat. Namun, yang kemudian bertahan lama jumlahnya juga tidak terlalu banyak. Sebaliknya, banyak yang mengalami kerapuhan hubungan interpersonal.
Sedangkan menurut Psikolog Irma Makarim, mencari jodoh melalui online tentunya mengandung risiko yang lebih besar dibandingkan dengan orang yang bisa Anda kenal dan temui sehari-hari. Walau demikian, Anda bisa saja menemukan orang yang sesuai dengan kriteria Anda. Kini, Anda sedang membina hubungan melalui online dengan pria Kanada, dan baru mengenalnya dalam waktu 6 bulan. Apakah ini tidak terlalu singkat bagi Anda berdua bila Anda berharap keseriusannya? Apalagi bila Anda berharap untuk bisa menikah dengannya. Mungkin Anda perlu memberi lebih banyak waktu dan mengenal latar belakang pria itu, serta apa yang diinginkannya dari hubungan ini.
Penting bagi Anda untuk menjaga diri dari hal-hal yang tidak diinginkan. Begitu banyak kita mendengar hal negatif dari hubungan seperti ini. Kehadiran seseorang secara online memang berbeda dengan hadir secara fisik dalam kehidupan Anda.Untuk menguji keseriusannya, mengapa harus Anda yang terbang ke Kanada? Bukankah pria ini juga bisa datang menemui Anda di Indonesia sambil mengenal kultur dan latar belakang Anda dan menunjukkan keseriusannya. Pikirkan masak-masak semua ini sebelum Anda mengambil keputusan penting dalam hidup Anda.
Mengenai membesarkan anak, memang pada saat ini merupakan sebuah tantangan yang tak mudah. Apalagi bagi Anda yang kini menjadi orang tua tunggal. Bila Anda merasa kewalahan, maka pertama-tama Anda perlu bertanya kembali pada diri sendiri, mengapa sebenarnya Anda ingin mempunyai anak. Perlu dimengerti, mantan suami juga wajib membesarkan dan merawat anak, walaupun Anda berdua sudah berpisah. Bila situasi dan kondisinya memungkinkan maka sementara ini Anda bisa juga melibatkan mantan suami dalam mengurus anak, terutama bila ini terasa berat bagi Anda.(f)