Film drama psikologis Lift hadir dengan kritik sosial terhadap lift, diproduksi oleh Trois Films dan jadi debut penyutradaraan Randy Chans.
Dalam Gala Premiere dan Press Conference di Djakarta Theater XXI para pertengahan Februari silam, para sineas dan pemain berbagi cerita tentang visi, proses kreatif, hingga lapisan narasi dari film Lift.
“Kami dari awal memang mau membuat suatu karya yang berbeda dengan yang sudah-sudah,” ujar Produser Eksekutif Lok S. Iman, yang akrab disapa Pak Lok. Ia menyadari bahwa sebagai rumah produksi baru, langkah ini mengandung risiko. Namun justru di situlah letak keberaniannya.
Keberanian itu juga diamini oleh Ario Sagantoro yang terlibat sebagai Technical Advisor/Produser. Dikenal lewat produksi film laga ikonik The Raid, Toro tertarik pada pendekatan anti-mainstream yang ditawarkan naskah Lift.
Toro mengatakan bahwa tugasnya bukan mengubah film ini menjadi film laga, melainkan menyempurnakan visi yang sudah ada. “Secara first draft, script-nya sudah bagus. Aku hanya menyempurnakan dan mewujudkan saja.”
Film ini disutradarai Randy Chands, yang awalnya terlibat sebagai produser, dan harus mengambil alih penyutradaraan setelah sutradara sebelumnya mengalami kecelakaan. “Ini beban banget buat aku,” ungkap Randy jujur. “Apalagi Mas Toro ikut andil di sini, pasti akan ada perbandingan [dengan The Raid].”
Alih-alih mencoba meniru formula laga yang sudah terbukti sukses, Randy memilih jalur berbeda. “Aku suka film yang setelah ditonton itu rasanya masih ada yang nyisa. Jadi goal utamaku, penonton keluar bioskop membawa perasaan tertentu.”
Ia pun membedah struktur cerita dari bawah ke atas, memilih cast secara presisi, hingga memastikan micro-expression menjadi pusat dramatik. “Banyak sekali micro-expression, terutama dari Hansen (Verdi Solaiman) dan Doris (Shareefa Daanish),” kata Randy.
Ismi mengaku peran ini sangat berbeda dari citra aksinya selama ini. “Di sini saya tidak mengeluarkan silat, tapi bersilat lidah. Jadi cukup challenging,” katanya. Detail micro-expression menjadi kunci, dari tatapan mata hingga tarikan napas, agar emosi tetap terasa meski ruang geraknya terbatas.
Lain lagi komentar Max Metino, yang memerankan podcaster dengan tangan patah, menggambarkan intensitas emosionalnya. “Kita harus ngebayangin gimana di dalam lift, nggak bisa keluar, tangan kejepit, dan mungkin mati di situ. Jadi antara emosi, rasa takut, rasa amarah, dan tenaga fisik harus dibalut dalam satu kemasan.”
Sementara itu, Verdi Solaiman yang memerankan Hansen menjelaskan metafora dialog “Penguasa adalah tukang kayu” yang sempat ramai diperbincangkan. “Hansen itu pengusaha yang punya ambisi untuk ‘mengukir’ atau mengatur negara se-profitable yang dia inginkan; bahkan kalau harus diciptakan dengan darah, keringat, dan air mata rakyat. Itu metafora kayu yang sangat dalam.”
Sedangkan Shareefa Daanish menghadirkan karakter Doris dengan tekanan psikologis yang kuat meski minim dialog. Seperti yang disampaikan Randy, “Tatapan matanya yang berbicara.” Ketegangan dibangun bukan melalui teriakan, melainkan keheningan yang mengintimidasi.
Sebelum edar di Indonesia, Lift terpilih sebagai Official Selection Dubai City Film Festival 2025, Official Selection AME International Film Festival 2026, Official Selection The North Film Festival Barcelona 2026, dan meraih empat nominasi di Los Angeles Fantasia Fest 2025.
Lift menunjukkan bahwa teror yang paling efektif sering kali lahir dari kedekatannya dengan realitas. Bukan monster, bukan dunia distopia, melainkan ruang sehari-hari yang tiba-tiba berubah menjadi ruang penuh teror.
Ikuti perkembangan terbaru film ini melalui akun resmi @lift.movie dan @trois.films, dan bersiaplah memasuki ruang sempit yang ternyata mampu meneror kita–Lift tayang mulai 26 Februari 2026. (f)
Baca juga:
One Battle After Another Borong 6 Penghargaan di BAFTA Film Awards 2026
Surat untuk Masa Mudaku: Terinspirasi Kisah Nyata Sang Sutradara tentang Berdamai dengan Masa Lalu
Lewat Swipe Therapy, Mira Sumanti Menemukan Diri Sendiri di Tengah Pengalaman Cinta
Bennita Luisa
Topic
#feminaindonesia, #feminapartnership, #filmindonesia, #reviews