Profile
Lupita Ardhyaningrum, Penyintas Kekerasan Seksual Bicara Tentang Pengalamannya di Forum Global

19 Jul 2017

 
Turun dari podium, Lulu kebanjiran sambutan hangat dari para tamu. Dukungan itu terus mengalir sekembalinya ia ke tanah air, karena pidatonya yang menyita perhatian khalayak. Ia pun tidak menyangka kisahnya akan menjadi viral. Apalagi, ia pada dasarnya tak terlalu nyaman berada di bawah sorotan.
 
Sayangnya, tak semua orang memahami betapa menantangnya bagi Lulu untuk melanjutkan hidup setelah mengalami kekerasan seksual. Kekhawatirannya untuk mengungkap insiden pahit itu terbukti, saat segelintir rekan pria menanggapi pengalamannya dengan guyonan.
 
“Mereka bertanya-tanya, jadi saya sudah diapain aja? Kadang-kadang saya ingin membalas, ‘Kamu mau bertukar tubuh dengan saya, supaya bisa tahu rasanya seperti apa?’” tutur Lulu, geram. “Seandainya mereka sadar bahwa apa yang saya alami juga bisa terjadi pada saudara perempuan, istri, anak, atau bahkan ibu mereka, saya yakin mereka tak akan bisa berkomentar seperti itu,” tambahnya.
 
Celetukan tak simpatik tersebut membuat Lulu makin menyadari akan adanya sikap victim blaming terhadap para korban kekerasan seksual, seolah-olah mereka punya andil dalam memicu insiden yang mereka alami. Ia menilai, standar ganda terhadap wanita tak terhindarkan karena kuatnya budaya patriarkat di masyarakat.
 
Hal ini memantik tantangan besar untuk meningkatkan kesetaraan gender, yang kerap dipandang sebagai permintaan yang berlebihan, baik oleh pria maupun wanita. Pasalnya, masih banyak yang meyakini, wanita diciptakan untuk berada di ranah domestik semata. Dengan demikian, kiprah mereka di ranah publik sering dinilai sebagai upaya untuk bersaing dengan pria.

Advertisement
Baca juga:
Pernah Menjadi Korban Pelecehan Seksual? Stop Menyalahkan Diri Sendiri!
Apakah Kesetaraan Gender di Indonesia Sudah Tercapai?


Inilah mengapa seruan tentang kesetaraan gender dalam kampanye HeForShe demikian menyentuh hati Lulu, terutama karena fokusnya terhadap peran pria dalam mendukung pemberdayaan wanita. Baginya, kesetaraan tercipta ketika wanita dan pria memiliki peran dan kesempatan yang sama untuk bersuara maupun berkontribusi bagi masyarakat. Lulu pun berharap, kelak ia dapat mengambil peran aktif yang lebih besar di lapangan untuk mendukung upaya-upaya peningkatan kesetaraan gender, misalnya terlibat dalam proyek sukarela untuk pemberdayaan wanita dan anak perempuan.
 
Menurut data PBB, 1 dari 3 wanita pernah mengalami kekerasan seksual dalam hidup mereka. Kekerasan tersebut beragam bentuknya. Contohnya termasuk kekerasan verbal seperti godaan di jalan (catcalling), pelecehan seksual dengan maupun tanpa sentuhan, yang dapat berujung pada ancaman pemerkosaan, dan kekerasan fisik seperti pemerkosaan atau pencabulan.
 
Pernah mengalami kekerasan seksual, meski traumatis, tak membuat Lulu gentar menghadapi dunia yang terkadang menempatkan kaum wanita dalam posisi rentan. Salah satu caranya untuk melindungi diri adalah mengenakan earphone saat berjalan di tempat umum, agar tak terusik oleh celetukan-celetukan usil. Tetapi, bila ia sudah demikian terganggu, ia tak ragu menegur pelaku pelecehan. “Beranjak dewasa, saya justru menjadi lebih berani,” katanya.
 
Lulu paham, tak semua penyintas kekerasan seksual mampu mengungkapkan apa yang telah mereka alami. Namun, berkaca pada pengalaman pribadinya, ia meyakini bahwa bercerita kepada orang-orang terdekat yang dapat dipercaya amatlah penting untuk membantu meringankan beban dan trauma. “Kita tidak pernah sendirian. Keadaan akan membaik. Seiring waktu, pengalaman ini akan membuat kita lebih kuat,” pesannya. (f)
 



Topic

#wanitahebat

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?