Foto: Dok. Eliminatedengue.com
Prof dr Adi Utarini, MSc, MPH, PhD - biasa disapa Uut - merupakan Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Dikutip dari situs resmi Universitas Gadjah Mada, lulusan tahun 1989 ini menyelesaikan Master of Science di bidang Maternal and Child Health dari University of College London pada 1994 sebagai penerima British Council Awards. Serta menyelesaikan Master of Public Health pada 1998 dan Doktor Philosophy dari Umea University Swedia pada 2002 (STINT dan TDR Awards).
Pada 2011, ia dikukuhkan sebagai profesor di Kesehatan Masyarakat. Dalam proses pembelajaran, wanita kelahiran Yogyakarta, 4 Juni 1965 ini mengampu mata kuliah Kebijakan dan Manajemen Mutu dan Metode Penelitian.
Di bidang mutu pelayanan, wanita yang memperoleh Tanda Kehormatan Satya Lencana Karya Satya XX pada tahun 2014 ini pernah memimpin kompartemen Mutu di organisasi Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia dan Editor Utama The Journal of Hospital Accreditation yang diterbitkan oleh KARS bersama PKMK UGM.
Selain itu, ia pernah berperan sebagai Wakil Dekan untuk penelitian, pengabdian masyarakat, dan kolaborasi di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (2012-2016). Dan di tahun 2015 - 2017 ia dipercaya menjabat sebagai Anggota Dewan Riset Nasional Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia
Adi Utarini masuk dalam daftar 10 orang berpengaruh dalam mengembangkan sains tahun 2020 yang dirilis jurnal internasional, Nature, jurnal ilmiah ternama dunia dari Inggris. Ia terpilih karena dinilai memberikan pengaruh dalam kiprahnya sebagai ilmuwan.
Terobosan yang membuat Uut dan rekan-rekan peneliti berhasil memangkas 77 persen kasus demam berdarah di beberapa kota besar di Indonesia dengan melepas nyamuk yang telah dimodifikasi untuk menghentikan nyamuk menularkan virus. Risetnya ini dinilai membuka jalan bagi manusia untuk melawan penyakit demam berdarah dengue (DBD) yang setiap tahun menjangkiti lebih dari 400 juta orang di seluruh dunia.
Seperti dikutip dari Kompas terbit Senin (21/12/2020), sebagai peneliti Uut mengaku mimpinya kini bukan lagi di riset tapi bagaimana teknologi (hasil riset) ini bisa dinikmati masyarakat di tempat lain, bukan hanya di Yogyakarta.
“Sudah lebih dari 50 tahun negara (Indonesia) melawan DBD. Sudah berapa banyak nyawa, orang sakit, dan anggaran yang habis. Teknologi Wolbachia ini betul-betul harapan baru, bisa jadi jurus baru yang melengkapi dan menguatkan program pengendalian DBD yang sudah jalan,” tuturnya.
Wanita yang dikenal gemar bermain piano klasik, tenis meja, dan bersepeda ini mengaku bersyukur hasil penelitiannya disambut baik oleh dunia internasional. Bagi penerima penghargaan Habibie Award 2019 ini, pengakuan dari Nature merupakan penutup tahun yang indah di tahun yang terbilang berat baginya karena pada Maret lalu, ia baru saja kehilangan suaminya, Prof Iwan Dwiprahasto yang meninggal akibat COVID-19. “Ini pembelajaran kehidupan yang harus dijalani,” tutup Uut. (f)
Baca Juga:
Dewi Nur Aisyah, Pakar Epidemologi Moderen Wanita Satu-Satunya yang Dimiliki Indonesia
Prof. Dr-Eng. Eniya Listiani Dewi, B.Eng., M.Eng Profesor Energi yang Senang Lobbying
Arvila Delitriana, Kisah Sukses Bridge Engineer LRT Jabodebek Kuningan yang Memukau Presiden RI Joko Widodo
Faunda Liswijayanti
Topic
#profil, #ilmuwanindonesia, #penghargaaninternasional