Foto: Dok. Pribadi
Kreativitas Mendunia
Kedalaman karya dan keunikan ekspresi seni Hellen mendapat tempat di hati banyak tokoh terkenal di Eropa. Salah satunya desainer fashion terkenal asal Paris, Prancis Isabel Marant Étoile yang sejak 2014 menjadi salah satu pelanggannya. Desainer peraih de la Mode Award tahun 1997 dan Whirlpool Award itu memercayai Hellen untuk memegang posisi supplement creative director dalam pembuatan buku panduan tren busana musim semi dan musim panas koleksi Isabel Marant di tahun 2016.
Ia senang proyek ini membuka kesempatan baginya untuk beker`jasama dengan seniman dunia. Salah satunya Michael Baumgarten, fotografer kondang asal Jerman yang karyanya telah menghiasi majalah Vogue Italia, Vogue Cina, Telegraph, katalog Celine, dan advertising parfum Hermes. Kali ini, Michael membawa keunggulan fotografi dengan format tiga dimensi yang akan memberi pengalaman unik jika dinikmati dengan kacamata tiga dimensi. “Ini adalah proyek yang sangat seru. We really had fun in the process,” ucapnya, senang campur bangga.
Masih bekerja dengan Isabel Marant yang koleksi sepatunya diminati Katie Holmes, Anne Hathaway, dan Hilary Duff, Hellen juga dipercaya membuat pop up store di Joyce Gallery, Palais Royal, Paris, untuk koleksi Resort 2015. Kali ini, ia bersinergi dengan Arnold Goron, seniman Prancis yang dikenal dengan karya-karya display window yang memukau. Kolaborasi mereka sukses menyuntikkan interior bergaya graphic pop-art ke dalam butik. Bahkan, tirai bermotif patchwork geometris hasil desain mereka menjadi centre piece!
Di pasar dunia kreatif seni dan fashion, wanita kelahiran Ubud, Bali, ini memosisikan diri sebagai Freelancer Creative Director. “Tugas saya mengembangkan konsep kreatif dari suatu brand ataupun institusi, menciptakan atmosphere sesuai tema, dan menstimulasi interaksi dengan pelanggan lewat komunikasi visual,” jelas lulusan Fakultas Komunikasi jurusan periklanan, Universitas Indonesia, ini.
Helen memperkuat pemahaman dan kemampuan praktisnya dengan menimba ilmu di jurusan Communication and Media Studies, di The London School of Economics and Political Science, Inggris. Tawaran klien untuk menggarap fashion marketing dan pameran seni terus berdatangan. Di luar itu, ia juga banyak menangani proyek percetakan dan publikasi, seperti desain layout buku. Bahkan, sejak Januari tahun ini, ia sudah terlibat lagi dengan dua proyek baru di Amsterdam, Paris, dan Antwerp.
“Di proyek baru ini saya dipercaya mendesain motion graphic installation dari Isabel Marant untuk ajang Paris Fashion Week. Saya juga membuat buku interaktif anak yang diproduseri Musee d’Orsay, sebuah museum di Paris, yang hingga kini masih dalam tahap penggarapan,” cerita wanita yang mesti tinggal di tiga tempat tersebut selama dua bulan untuk merampungkan proyek kreatifnya.
Meski mengaku masih dalam proses belajar, dirinya sangat menikmati pekerjaan yang selalu menawarkan sesuatu yang baru. Mengerjakan fashion satu hari, dan mendesain konsep layout buku keesokannya. Belum lagi tambahan ilmu di bidang desain grafis, fotografi, video, dan creative communication. “It’s never boring!” ucapnya, senang.
Sudah tiga tahun belakangan penyuka warna biru laut ini fokus menjalani profesi yang memberinya kebebasan ruang dan waktu dimana ia bisa leluasa menciptakan quality time bersama keluarga. Keistimewaan ini jarang didapatinya saat masih menyibukkan diri menjadi seniman mural, keahlian yang telah menggaungkan namanya di industri kreatif dunia.
“Buat saya, keluarga nomor satu. Namun, pekerjaan mural sangat memakan waktu dan membutuhkan fokus tinggi. Saya harus bekerja sepanjang malam sehingga keluarga kurang mendapat perhatian,” ungkap wanita yang memutuskan untuk beralih dari seni mural sejak melahirkan putra pertamanya, Kai Krishna Westerveld (3).
“Suatu malam, bersama mereka saya menyelinap ke gedung kosong di Kerobokan, Bali, untuk menggambar dan membuat grafitti sampai pagi. Seru rasanya melukis di media dinding,” kenangnya, sumringah. Tidak butuh waktu lama baginya untuk menyadari bahwa keahlian otodidak ini bisa menjadi sumber mata pencahariannya suatu hari.
“Saya belajar mural di ‘jalanan'. Segala sesuatu tentang melukis, mengecat, desain grafis dan seni murni, semua saya pelajari sendiri. Teman sesekali memberi masukan, namun untuk teknik gambar saya perdalami lewat youtube dan google,” ucapnya.
Sembari melanjutkan aktivitas menjual karya seni orang, Hellen mulai memperkenalkan karyanya juga. Proyek profesional pertamanya adalah membuat mural di kamar bayi temannya, seorang arsitek asal New York yang menetap di Bali. Kepuasan klien yang bergulir dari mulut ke mulut ini menghantarkan dirinya berkiprah hingga ke mancanegara.
Ia pernah menggarap mural untuk Langham Hotel, Mong Kok, Hongkong; Stadsarchief Gallery, Amsterdam; hingga ‘underbelly project’, di Melboune. Di kesempatan terakhir ini, ia berkolaborasi dengan artis jalanan Melbourne, mengubah terowongan bawah tanah yang tidak terpakai lagi menjadi instalasi seni yang semarak.
Terpikat Eropa
Sebagai orang Indonesia yang banyak berkarya di luar negeri, bukan berarti dirinya anti bekerja di Indonesia. Namun ada beberapa alasan yang membuat Hellen merasa nyaman berkarya di sana. Menurutnya, masyarakat Eropa menilai desain bukan dari tampilan saja, tapi bagaimana sebuah karya ikut membangun komunikasi dan memberi manfaat bagi pengguna. “Ini sesuai dengan filosofi desain saya,” ucap penggemar surfing dan fotografi ini.
Helen juga mengaku pernah merasa terganjal dengan kebiasaan masyarakat di Indonesia yang sering menyepelekan pendatang baru. Anggapan anak bawang yang minim pengalaman pernah dilontarkan padanya, saat ia baru memijak di dunia seni. Sementara, di Eropa, desainer muda disambut sebagai narasumber yang kaya dengan ide-ide segar.
Etos kerja dan standar profesional di Eropa yang sangat menghargai waktu dan kehidupan privasi seseorang, membantunya untuk bisa menyeimbangkan kehidupan pribadi dan profesionalnya. Tak heran jika ia pun menjadi semakin betah. “Di Amsterdam dan Paris, lembur itu bukan pertanda rajin, tapi tidak pintar mengatur waktu,” ungkapnya. Keunggulan profesionalisme justru terukur saat seseorang mampu mengelola waktu dengan tetap memberikan hasil yang berkualitas.
Semua alasan inilah yang membuat Helen makin betah berkarya di benua Eropa. Bersama sang suami, Danny Westerfeld, yang menjadi motivator terbesarnya, Hellen memilih untuk hidup di dua negara, yaitu di Amsterdam, Belanda, tempat asal sang suami dan di Bali, Indonesia. “Dalam setahun saya bisa 5 kali bolak-balik Bali – Amsterdam,” ungkap wanita yang nyaris setiap dua bulan sekali pulang ke Bali.
Bali membuat pengagum desainer Phillipe Starck ini merasa seperti menapakkan kaki kembali ke bumi. Di tanah kelahirannya ia berinkubasi, mencari inspirasi sekaligus menyegarkan pikiran. Dari berjalan di sepanjang pantai, berkeliling desa di belakang rumah, menatap pohon beringin dengan sulurnya yang dramatis, mencium wangi dupa dari sanggah, dan menonton para ibu menganyam canang untuk upacara.
“Intensitas tinggi di pekerjaan terkadang membuat saya stres. Namun, kembali ke kampung halaman memberikan saya angin segar. Bersama alam yang memberikan ‘kebaikan’ saya semakin sadar bahwa hidup tidak perlu punya segalanya. Bahkan saya percaya ‘sedikit itu lebih’, jadi I have fun doing what I love, I have a happy family. I‘m exactly where I want to be,” ujarnya, dengan kepuasan penuh. (f)
Topic
#wanitahebat