Padahal, menurut filsuf feminis sekaligus pendiri Positive Philosophy Consulting, Cori Wong, dalam artikel di majalah O, filsafat sebenarnya punya peran yang sangat relevan dalam kehidupan sehari-hari—terutama di era ketika kita dibanjiri informasi, opini, dan berbagai isu sosial.
Filsafat—ilmu yang dipelajari Dian Sastrowardoyo untuk gelar S1-nya—membantu kita mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan mempertanyakan hal-hal yang selama ini dianggap normal.
Mengapa sebagian orang diperlakukan nggak adil? Mengapa suatu sistem bekerja seperti sekarang? Apa peran kita di dalamnya? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini membantu kita memahami akar masalah sebelum mencoba mencari solusi.
Kemampuan mempertanyakan sesuatu juga penting karena banyak konflik berawal dari asumsi yang nggak pernah dicek ulang. Kita sering menerima berbagai pandangan dari lingkungan, keluarga, media sosial, atau budaya tanpa benar-benar memikirkan dari mana asalnya.
Ketika asumsi tersebut berbenturan dengan realitas yang lebih kompleks, kesalahpahaman dan perpecahan bisa muncul. Dengan berpikir lebih reflektif, kita bisa lebih memahami POV orang lain dan membuka ruang dialog yang lebih sehat.
Di sisi lain, filsafat mengajarkan bahwa bertanya nggak selalu berarti meragukan segalanya. Mengeksplorasi pertanyaan-pertanyaan besar tentang hidup, identitas, kebahagiaan, hingga masa depan bisa melahirkan hal yang menyenangkan.
Setiap pertanyaan baru membuka kemungkinan baru untuk memahami diri sendiri dan dunia di sekitar kita. Proses ini bisa terasa menantang, tetapi juga memberi energi, memperluas wawasan, dan membantu kita melihat kehidupan dari perspektif yang lebih luas.
Hal yang nggak kalah penting, ketangguhan atau resilience ternyata bukan sesuatu yang dibangun sendirian. Cori Wong menekankan bahwa manusia berpikir lebih baik ketika berdialog dengan orang lain.
Dengan saling mendengarkan dan berbagi pengalaman, kita bisa memahami mengapa berbagai masalah sosial tetap bertahan dalam masyarakat serta apa yang dapat dilakukan untuk mengubahnya. Filsafat bukan sekadar aktivitas individual, melainkan juga praktik kolektif yang mendorong perubahan sosial.
Di tengah budaya digital yang serba cepat dan penuh opini instan, mungkin inilah alasan mengapa filsafat justru semakin relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Bukan karena kita harus memiliki jawaban untuk semua hal, tetapi karena kita berani mengajukan pertanyaan yang lebih baik. Kadang, perubahan terbesar dalam hidup nggak cuma dimulai dari sebuah jawaban, melainkan dari satu pertanyaan sederhana: Kenapa? (f)
Brianna Relisha