Ibu, Sahabat dan Panutan bagi Anak
Seperti kehidupan yang berproses, kehadiran putri semata wayangnya Diva Renata Amelia Jayadi pada tahun 2002 menumbuhkan semangat baru bagi Dedeh. Tentu sebagai orang tua, ia berharap putrinya juga bisa menjadi atlet walau tak berusaha memaksa pilihan kariernya.
Selain itu, untuk memupuk semangat dan ketertarikannya, Dedeh kerap kali menceritakan tentang momen-momen kemenangannya ketika menjuarai suatu kompetisi. “Waktu kecil, saya suka ajak dia buka-buka album lama dan bersihin medali. Sambil begitu, saya cerita bahwa medali ini didapatkan pas kapan, atau foto ini pas lagi ngapain. Dia jadi tahu bagaimana serunya jadi atlet,” kenangnya.
Namun ternyata memang buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Talenta atlet nampak jelas pada Diva yang berhasil lolos tes pembibitan lompat galah saat dirinya masih kelas 6 SD, yang akhirnya membawa dirinya bergabung dengan Pelatnas saat kelas 1 SMP. Menurut Dedeh, ini sama persis dengan apa yang terjadi padanya, yang mana pertama kali ia bergabung dengan Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar Jawa Barat saat masih 1 SMP juga.
Harus tinggal terpisah dengan Diva di usia sangat muda, tak membuat Dedeh khawatir akan kehilangan momen bersama. Ia selalu memanfaatkan waktu libur putrinya dengan maksimal, seperti mengajak nonton dan makan bersama, walau hanya dapat waktu 2 jam saja.
“Tentu saja kangen, tapi kita sudah terbiasa dengan kehidupan seperti ini. Apalagi Diva dan saya tipikal orang yang sangat suka di lapangan, jadi kita nikmatin aja dan tidak pernah putus komunikasi,” tuturnya.
Dedeh pun tak takut bahwa hubungan dengan putrinya akan renggang karena terpisah jarak. “Aku membangun hubungan seperti teman dengan Diva, sehingga kita selalu akrab, terbuka dan dia lebih nyaman cerita tentang apapun ke saya. Hubungan yang seperti ini lebih nyaman buat kita berdua, daripada kaku yang justru akan memberi jarak bagi kita berdua,” pungkas Dedeh lagi yang sering mendengar orang mengatakan bahwa dirinya dan Diva sudah seperti kakak-adik. Menurut Dedeh, yang penting adalah memberikan kebebasan dan kepercayaan yang terarah pada putrinya, agar terjalin hubungan yang baik.
Sebagai seorang atlet, Dedeh pun tak pernah lupa untuk mentransfer ilmu yang dimilikinya pada sang putri. Di sela-sela percakapan santai keduanya, ia akan menyampaikan sarannya tentang bagaimana teknik-teknik yang bisa dicobanya dalam melakukan lompat galah. Dedeh pun tak pernah absen berkomunikasi dengan pelatih Diva untuk mengetahui kemajuan dari putrinya, untuk bisa memberikan masukan yang tepat padanya.
Termasuk, memberikan pesan pada Diva agar tak mudah merasa tertekan hanya karena orang tuanya pemegang rekor atau pernah mendapat medali emas. “Saya selalu bilang sama dia, bisa menang memang membanggakan, tapi menang-kalah kan hal yang biasa. Yang penting adalah dia menikmati apa yang dia lakukan dan jangan pernah berhenti belajar. Karena ketika kita berhenti belajar, disitulah kita mulai kalah,” tutur Dedeh berpesan. (f)
BACA JUGA :
Pertama Kali Ikut Asian Games, Emilia Nova Raih Perak dari Lari Gawang 100 Meter
Belajar Tentang Mental Sukses Dari Atlet Dedeh Erawati
Women Sport Foundation Indonesia Diresmikan untuk Mendukung Prestasi Atlet Wanita
Topic
#dedeherawati