Foto: Dok. Dara Nasution
Kekerasan Selalu Berdampak Serius
Selain volume yang bertambah, jenis kekerasan berbasis gender di dunia maya pun makin bervariasi. Kekerasan yang umumnya dikenali meliputi komentar kasar, ujaran kebencian, dan ancaman kekerasan seksual dan fisik. Bentuk lain muncul dalam pencurian identitas, penyebaran foto dan video pribadi, hingga peretasan akun.
Meski medianya berubah, kekerasan seksual di ranah online tetap berdampak serius pada korban. Dari mulai mengalami kecemasan dan ketakutan, menarik diri dari kehidupan publik, hingga melakukan sensor berlebihan terhadap diri sendiri dan takut berpendapat.
Sayangnya, ketika perempuan bersuara tentang pelecehan yang dialami, keberaniannya tak selalu ditanggapi secara positif. Minimnya pengetahuan tentang kesetaraan gender membuat banyak orang menyepelekan pengalaman korban. Kalimat-kalimat seperti, “Kamu terlalu baper (bawa perasaan),” hingga, “Itu ‘kan maksudnya pujian, mestinya diterima dengan senang hati,” merupakan respons yang umumnya diterima korban. Respons seperti ini akhirnya membuat korban-korban lain semakin takut bersuara dan menjebak masyarakat dalam sebuah lingkaran setan yang mewajarkan kekerasan seksual.
Empat Cara Lindungi Diri
Dalam pandangan saya memutus lingkaran setan kekerasan berbasis gender di ranah online, ada beberapa cara yang bisa dilakukan. Pertama, menumbuhkan kesadaran bahwa peristiwa ini bisa menimpa siapa saja. Di satu sisi, perempuan bisa menjadi korban namun bisa juga menjadi pelaku. Di sisi lain, laki-laki pun bisa menjadi korban. Artinya, laki-laki dan perempuan berkontribusi dalam budaya komunikasi yang masih jauh dari kondisi nyaman ini.
Dengan mengakui hal ini, setiap orang wajib mengambil tanggung jawab dalam menciptakan interaksi yang lebih aman dan tidak hanya dibebankan pada salah satu gender. Aturan berkomunikasinya sederhana: hal-hal yang tidak akan Anda katakan ketika bertemu seseorang di dunia nyata, mestinya jangan Anda katakan di dunia maya.
Kedua, jika Anda menjadi korban, mulailah dengan mendokumentasikan kronologi peristiwa secara lengkap. Jika nantinya Anda memutuskan melaporkan kasus ke pihak yang berwenang, dokumentasi yang lengkap akan mempermudah pengusutan perkara. Jika kekerasan sudah mempengaruhi kesehatan fisik dan mental, jangan ragu segera menghubungi layanan bantuan yang disediakan oleh Komnas Perempuan, LBH Apik, SAFEnet, maupun organisasi lokal terdekat. Institusi-institusi ini sudah berpengalaman menghadirkan ruang aman bagi para korban.
Keempat, jika ada korban yang menceritakan pengalamannya kepada Anda, beri tanggapan bernada empati. Beri apresiasi pada keberaniannya dan hindari menyepelekan pengalaman korban. Ini penting, jika Anda merasa tidak mampu mendampingi korban sendirian, lebih baik beri rujukan lembaga yang lebih terpercaya dan mumpuni untuk menangani kasusnya.
Mewujudkan ruang digital yang aman dan nyaman bagi perempuan membutuhkan perubahan kultural yang perlu melibatkan semua orang. Kampanye kesetaraan gender dan penolakan kekerasan seksual harus terus digaungkan. Tiap kali ada perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual, kita bisa memanfaatkan platform medsos untuk mengutuk pelaku dan membela korban agar kesadaran masyarakat meningkat. Karena perubahan yang perlahan pun pada akhirnya terhitung sebagai perubahan. (f)
Penulis: Dara Nasution, Juru Bicara Partai Solidaritas Indonesia & Mahasiswa S2 Kebijakan Publik Oxford
Artikel Kolom "Melihat Indonesia" tayang untuk Femina Edisi Juli - September 2021
Baca Juga:
Jangan Biarkan Kekerasan Pada Wanita Terus Terjadi, Ini Kontak Pengaduannya
Yuni Jie (Desainer Interior) : Selamat Kembali ke Rumah
Topic
#melihatindonesia, #medsos, #feminaagustus2021