Dok: Femina
Indonesia perlahan tapi pasti mulai mengarah ke era cashless society. Di mana kelompok usia produktif menjadi motor berkembangnya pembayaran digital di Indonesia. Pangsa pasar yang besar ini dilirik oleh para penyedia uang elektronik, terutama yang berbasis server atau lewat ponsel dengan berlomba-lomba memberikan gimmick unik untuk memasarkan uang elektroniknya.
Sebagai bagian dari ekosistem di aplikasi GO-JEK, GO-PAY mendukung dan memfasilitasi semua pembayaran elektronik bagi seluruh layanan GO-JEK. Salah satu strategi GO-PAY untuk menarik pengguna dan mempercepat adopsi pengenalan cashless adalah promosi dalam waktu spesifik melalui program GO-PAY PAY DAY yang dilakukan tiap akhir bulan di ratusan rekan usaha.
Sejak muncul pertama kali pada September 2018, promosi yang dilakukan di hari-hari gajian dengan memberikan cashback 20 persen hingga 50 persen ini dinilai cukup efektif dalam menarik pengguna baru GO-PAY.
“Selain juga menyumbang kenaikan transaksi yang signifikan di rekan usaha. Bahkan, ada salah satu rekan usaha yang transaksinya naik hingga 12x lipat ketika GO-PAY PAY DAY berlangsung,” ungkap Ardelia Apti, VP Product Marketing GO-PAY, lewat jawaban pertanyaan yang dikirimkan via email kepada Femina.
Sejak diperkenalkan pertama kali tahun 2016 lalu, pertumbuhan pengguna GO-PAY cukup signifikan. Hingga kini, aplikasi GO-JEK telah di-download lebih dari 108 juta kali, di mana 50 persen transaksi di aplikasi GO-JEK telah menggunakan GO-PAY.
Sepanjang 2018 (Januari-Desember), kenaikan jumlah pengguna aktif GO-PAY mencapai 90 persen. Penyumbang terbesar salah satunya adalah transaksi di luar layanan GOJEK atau transportasi online. Hingga April 2018, pertumbuhan transaksi GO-PAY di luar layanan GO-JEK mencapai 25 kali lipat.
Berkat pertumbuhan yang signifikan tersebut, GO-PAY disebut-sebut sebagai layanan uang elektronik terbanyak digunakan di Indonesia. Setidaknya hal ini dibuktikan oleh hasil riset dari tiga lembaga berbeda, salah satunya laporan Fintech 2018 Dailysocial dan OJK yang menyebut GO-PAY sebagai uang elektronik terbanyak digunakan di Indonesia, di mana lebih dari 70% responden Indonesia menggunakan GO-PAY sebagai alat pembayaran digital.
Dok: Femina
Di luar GO-PAY, ada OVO Cash yang berada dibawah naungan PT Visionet Internasional selaku anak usaha dari Lippo Group. Mulai diperkenalkan tahun 2017, OVO Cash memiliki gimmick unik di awal penetrasi memasarkan uang elektroniknya kepada masyarakat. Gimmick tersebut adalah memberikan harga promo 1 rupiah untuk 1 kali perjalanan pada aplikasi Grab untuk penggunaan OVO pertama kali. OVO juga memakai strategi yang sama di tempat lain, yakni 1 rupiah untuk parkir seharian, dan 1 rupiah untuk pembelian minyak goreng.
Kehadiran DANA tahun lalu dan Link-Aja yang resmi diluncurkan awal tahun ini semakin menambah sengit persaingan bisnis dompet digital. DANA misalnya, tidak tanggung-tanggung memberikan cashback 50 persen dengan maksimal nominal potongan yang cukup besar, bahkan di atas pemain e-payment lainnya.
Sedangkan Link-Aja mencari celah dengan memberikan cashback 25% untuk pembelian bahan bakar di pom bensin milik Pertamina. Meski harus diakui, sebagai pemain baru, salah satu kekurangan DANA dan Link-Aja ada pada jumlah mitra usaha mereka yang masih terbatas.
Strategi ‘bakar uang’ yang dilakukan masing-masing perusahaan pembayaran digital lewat gencarnya promo-promo yang ditawarkan, terbukti mampu menggoda banyak orang untuk mulai menggunakan pembayaran digital.
Walaupun tak dipungkiri uang elektronik telah menjadi solusi bagi penggunanya untuk mempermudah transaksi sehari-hari. Hal itu terlihat dari data Bank Indonesia (BI). Pada Januari-Agustus 2018, pembayaran digital tercatat 1,78 miliar transaksi atau naik 3 kali lipat dari periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 480 juta transaksi.
Volume transaksi yang meningkat juga diikuti dari sisi nominal. Nilai nominal pembayaran digital Januari-Agustus 2018 mencapai Rp28 triliun, naik lebih dari tiga kali lipat dari periode yang sama tahun lalu senilai Rp6,68 triliun.
Pengguna pembayaran elektronik pun berasal dari berbagai kalangan. Mengutip hasil riset Indonesian Digital Mums 2018 oleh Tickled Media tentang tren perilaku online, ibu digital masa kini turut menikmati pertumbuhan dompet digital. Sekitar 44 persen dari ibu digital Indonesia saat ini memiliki setidaknya satu akun e-money/digital wallet. Mereka terutama menggunakan layanan ini untuk transportasi 38 persen dan belanja 32 persen.
Hal ini sejalan dengan hasil survei yang dilakukan Femina pada awal Juni 2019 lewat kanal polling di www.femina.co.id, 43 persen responden mengaku memiliki dua aplikasi e-wallet di ponselnya dan menggunakannya untuk transportasi (33%) dan membeli makanan atau minuman (25%).
Kendati pembayaran digital menawarkan kepraktisan, ada efek negatif yang bisa muncul, di antaranya adalah pemborosan. Pembayaran nontunai, termasuk pembayaran digital dianggap berbahaya lantaran berpotensi membuat konsumen tidak lagi merasakan rasa ‘kehilangan’ atau ‘sakit’ saat membayar.
Dampaknya, orang menjadi kurang peka dalam pengeluaran. Apalagi dengan semakin maraknya promo cashback. Tapi apakah benar demikian, dan apakah promo cashback bisa menjaga loyalitas pengguna e-wallet?
Baca Selanjutnya: Benarkah Boros?
Faunda Liswijayanti
Topic
#epayment, #fintech, #ewallet