Health & Diet
Sebentar-sebentar Ingin ke Toilet

11 Jun 2016


Foto: Fotosearch

Beser atau overactive bladder (OAB) bukan hal baru. Meski tidak sampai berakibat fatal seperti kematian, tapi sebaiknya cepat diatasi. Selain dapat mengganggu aktivitas, kebiasaan sering bolak-balik ke toilet ini bakal membuat kita merasa rendah diri. Menurut dr. Cahyo, OAB terdiri atas sekumpulan gejala. Di antaranya keluhan urgensi ke toilet untuk buang air kecil yang frekuensinya terlalu sering dibandingkan orang pada umumnya.

“Kalau orang normal punya waktu untuk ke kamar mandi, penderita OAB selalu terburu-buru. Saking terburu-burunya bisa saja urine sudah menetes, tapi bukan ngompol.”

Yang dibilang beser itu biasanya berkemih lebih dari delapan kali dalam sehari. “Orang normal kapasitas kandung kemihnya akan penuh sekitar 300 – 400 cc dalam waktu 3-4 jam. Sementara penderita OAB baru 150 – 200 cc saja sudah ‘terangsang’. Dia juga terbangun lebih dari sekali pada malam hari untuk berkemih,” dr. Cahyo menjelaskan.

Faktor penyebab paling sering adalah gangguan saraf. Contohnya, penyakit stroke atau adanya kelainan maupun kecelakaan pada tulang belakang. Bisa juga karena infeksi yang berat pada saluran kemih—inilah penyebab paling sering yang dialami oleh wanita.

“Bila penyakit bawaan, pada dasarnya penderita OAB punya kelemahan di uretra (saluran kemih) atau di otot-otot kandung kemihnya sendiri yang kurang bagus memompanya.”
OAB paling sering ditemui pada orang tua. Namun, tidak tertutup kemungkinan wanita usia muda juga mengalaminya.
Advertisement

“Tidak ada batasan umur yang pasti. Soalnya OAB sebenarnya tidak berhubungan dengan penuaan. Tidak ada pula hubungannya dengan kebiasaan minum dalam jumlah banyak atau kehamilan sehingga jadi beser,” kata dr. Cahyo.

Lebih lanjut dr. Cahyo mengungkapkan bahwa OAB tidak akan menyebabkan kematian. Risiko terparahnya justru memengaruhi rasa percaya diri kita, tuh! “Dampaknya ke arah psikososial. Dengan sering berkemih, kita jadi malas ke luar rumah untuk bergaul. Kalau pergi pun jadi kurang nyaman karena ada ketakutan akan ngompol.”

Penderita OAB dari segi keuangan bakal lebih boros karena (harus) mengeluarkan lebih banyak uang untuk membeli pampers. Ini semata-mata demi mencegah ‘kebocoran’ di tengah-tengah acara penting dan di hadapan banyak orang. “Namun, memang paling penting adalah dampak psikis. Kita jadi merasa rendah diri dan malas bergaul. Di satu sisi, dalam berhubungan seksual pun kurang nyaman. Timbul ketakutan kalau dia akan berkemih pada saat berhubungan seksual.”
 
Begitu sadar kita mengalami OAB, dr. Cahyo menyarankan agar segera mencari bantuan ahli. “Sebaiknya periksa saja karena kelainan-kelainan OAB itu tidak banyak penyebabnya. Kalau pada wanita bisa infeksi, pada orang tua biasanya diabetes atau riwayat stroke yang saraf pusatnya bermasalah.”

Soal terapi, dr. Cahyo menyebutkan tiga jenis alternatif: Medis, perilaku, maupun kombinasi dari keduanya. “Kalau menggunakan obat, ada yang namanya anticholinergics. Obat ini akan membantu mengurangi hipersensivitas dari saluran kemih. Untuk terapi, yang pertama intinya latihan menahan kencing. Kita bisa latihan sendiri melatih otot-otot panggul, misalnya, sebagai otot penyangga saluran kemih tersebut,” dr. Cahyo menjelaskan.

Selain itu, dalam behavioral therapy juga harus menjaga pola minum. Misalnya, kalau tahu dirinya berkemih tiap dua jam sekali, bisa mengurangi minum untuk memperpanjang durasi ke toilet. “Tetap perhitungkan bahwa dalam satu hari satu malam atau 24 jam jangan sampai kurang minum. Pas di rumah suasana nyaman bisa minum. Saat akan pergi ke luar biasakan kencing dulu, setelahnya jangan terlalu banyak minum,” begitu dr. Cahyo menyarankan. (f)


Topic

#beser

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?