Health & Diet
Mengapa Perempuan Usia Produktif Paling Berisiko Menderita Autoimun?

11 Dec 2025

Gaya hidup sehat hindari autoimun. Foto ilustrasi: Canva


Penyakit autoimun kini menjadi sorotan utama dalam isu kesehatan global. Di Indonesia, data terbaru Kementerian Kesehatan diperkirakan ada lebih dari 2,5 juta orang menderita kondisi ini. Ada satu fakta mencolok yang perlu menjadi perhatian kita: Perempuan, terutama di usia produktif (15-44 tahun), menghadapi risiko yang jauh lebih tinggi. 


Data dari Global Autoimmune Institute 2024 menunjukkan bahwa sekitar 78% dari individu yang mengidap autoimun adalah perempuan. Mengapa sistem kekebalan tubuh, yang seharusnya menjadi pelindung, justru berbalik menyerang sel dan jaringan sehat? Dan mengapa mayoritas penderitanya adalah perempuan? 

Menurut dr. Syahrizal, Sp.PD, Subsp.A.I (K), D, Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Alergi Imunologi (Autoimmune) Primaya Hospital Bekasi Barat, autoimun adalah kondisi ketika sistem imun keliru dan menyerang tubuh sendiri. Ada lebih dari 100 jenis penyakit autoimun, mulai dari yang menyerang organ spesifik seperti kelenjar tiroid, hingga yang bersifat sistemik dan menyerang berbagai organ seperti Lupus (SLE) dan Rheumatoid Arthritis.

Menurut dr. Syahrizal, kecenderungan perempuan lebih berisiko menderita autoimun bukan tanpa alasan, melainkan terkait erat dengan perbedaan biologis gender.

Pertama, fluktuasi hormonal, yaitu saat estrogen, hormon yang dominan pada perempuan, diyakini memengaruhi respons imun. Puncak risiko sering terjadi pada masa subur.

Kedua, terkait kromosom X tambahan. Perempuan memiliki dua kromosom X, yang membawa gen-gen kunci terkait imunitas. Kehadiran kromosom X tambahan ini diduga meningkatkan kerentanan.

Ketiga, perbedaan respons imun. Secara umum, respons imun perempuan cenderung lebih kuat, namun ini juga bisa menjadi pedang bermata dua yang meningkatkan risiko serangan autoimun.

“Penting untuk diingat, walaupun genetik dan biologis berperan, faktor lingkungan, stres, dan gaya hidup tidak sehat juga menjadi pemicu yang kuat,” kata dr. Syahrizal. 

Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan autoimun adalah gejalanya yang sering kali samar dan menyerupai keluhan kesehatan biasa. Akibatnya, diagnosis sering terlambat hingga kondisi menjadi kronis.

Perempuan usia produktif, waspadai kombinasi keluhan berikut ini:
1/ Kelelahan ekstrem: Rasa lelah yang sangat berat, tidak kunjung hilang meski sudah beristirahat cukup.

2/ Nyeri dan bengkak sendi berulang: Sendi terasa nyeri atau bengkak tanpa ada cedera yang jelas.

3/ Ruam kulit dan sensitivitas matahari: Muncul ruam aneh, atau kulit menjadi sangat sensitif terhadap sinar matahari.

Advertisement
4/ Gangguan pencernaan kronis: Diare, sembelit, atau sakit perut berulang yang tidak terjelaskan.

5/ Demam berulang tanpa sebab: Demam yang datang dan pergi tanpa adanya infeksi yang teridentifikasi. 

Jika mengalami keluhan-keluhan di atas yang berkepanjangan, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan dokter yang ahli dalam penyakit autoimun. Diagnosis dini adalah kunci keberhasilan penanganan. Segera ambil langkah proaktif untuk mencari diagnosis dan penanganan medis yang tepat.

Perjalanan hidup dengan autoimun bersifat kronis, namun perkembangan medis menawarkan harapan baru. Penanganan kini tidak hanya berfokus pada peredaan gejala, tetapi pada stabilisasi sistem imun dan peningkatan kualitas hidup. Pendekatan penanganan terkini meliputi:

1/ Terapi medis khusus
Dokter akan meresepkan obat untuk mengendalikan peradangan dan, dalam kasus tertentu, menggunakan imunoterapi atau terapi canggih seperti plasma exchange.

Pusat kesehatan kini mulai fokus menyediakan layanan komprehensif, seperti Primaya Hospital Bekasi Barat, yang kini memiliki Klinik Autoimun yang menyediakan layanan skrining, diagnosis, dan terapi khusus untuk berbagai jenis autoimun seperti Lupus, Rheumatoid Arthritis, dan Psoriasis. 

2/ Perubahan gaya hidup esensial
Meliputi pola makan seimbang dengan mengurangi makanan yang memicu peradangan. Manajemen stres, karena stres kronis terbukti memperburuk kondisi autoimun. terakhir, istirahat cukup dan olahraga teratur akan membantu menstabilkan respons imun. Ini adalah pilar utama dalam manajemen jangka panjang. 

3/ Dukungan komprehensif
Edukasi dan pendampingan psikologis bagi pasien dan keluarga sangat penting. Kondisi autoimun dapat menimbulkan dampak psikologis seperti kecemasan dan depresi, sehingga dukungan emosional tidak dapat diabaikan.

Autoimun dapat menyebabkan komplikasi serius, mulai dari kerusakan organ permanen hingga peningkatan risiko masalah jantung dan gangguan kehamilan. Namun, dengan kesadaran, diagnosis dini, dan penanganan yang tepat, penderita autoimun dapat menjalani kehidupan yang berkualitas.

Jangan pernah menganggap remeh kelelahan atau nyeri yang berkepanjangan. Dengarkan tubuhmu! (f

Baca juga: 
Lakukan 5 Latihan Praktis Ini di Tengah Kesibukan Kamu
Bahaya Diet Ekstrem, Coba Solusi Penurunan Berat Badan yang Aman dan Personal
Jangan Sepelekan! Mata Kering Bisa Jadi Indikasi Penyakit Autoimun

 



Faunda Liswijayanti


Topic

#autoimun, #lupus, #kesehatan

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?