Health & Diet
LVAD Pertama di Indonesia, Harapan Baru untuk Gagal Jantung Stadium Lanjut

30 Sep 2026

Pasiel gagal jantung stadium lanjut bisa mempertimbangkan LVAD sebagai pilihan terapi. Foto ilustrasi: Pexels/Puwadon Sang-ngern


Meski lebih sering dijumpai pada lansia, gagal jantung dapat terjadi pada usia muda (20-an hingga 40-an tahun), termasuk gagal jantung stadium lanjut.

Gagal jantung stadium lanjut terjadi ketika kemampuan jantung memompa darah sudah sangat menurun sehingga terapi medis optimal tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh. 

Dalam kondisi tertentu, Left Ventricular Assist Device (LVAD) dapat menjadi salah satu pilihan terapi untuk membantu kerja ventrikel kiri, ruang jantung yang bertugas memompa darah ke seluruh tubuh.

Teknologi ini menjadi perhatian di Indonesia setelah Siloam Hospitals Kebon Jeruk, Jakarta, berhasil melakukan implantasi LVAD pada dua pasien dalam rentang waktu kurang dari satu bulan. Pencapaian tersebut menjadikannya rumah sakit swasta pertama di Indonesia yang melakukan implantasi LVAD.
 

Mengenal LVAD

LVAD merupakan pompa jantung mekanis yang ditanamkan di dalam tubuh untuk membantu ventrikel kiri mengalirkan darah. Perangkat ini bukan pengganti jantung, melainkan membantu fungsi pompa jantung yang melemah.

LVAD dapat dipertimbangkan pada pasien gagal jantung stadium lanjut yang memenuhi kriteria klinis tertentu, terutama ketika terapi medis sudah dioptimalkan tetapi belum memberikan hasil yang memadai. 

Pada pasien yang tepat, terapi ini berpotensi meningkatkan kapasitas fungsional, kualitas hidup, sekaligus memperpanjang kelangsungan hidup.

Kebutuhan terhadap pilihan terapi lanjutan menjadi relevan mengingat beban penyakit jantung di Indonesia masih tinggi. 

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 Kementerian Kesehatan RI, prevalensi penyakit jantung berdasarkan diagnosis dokter mencapai 0,85% atau diperkirakan sekitar 2,4 juta penduduk. 

Penyakit jantung juga tercatat sebagai penyebab kematian dan disabilitas tertinggi kedua di Indonesia setelah stroke.

Menurut dr. Leonardo Paskah Suciadi, Sp.JP, FIHA, FAPSC, FESC, FHFA, LVAD dapat menjadi pilihan bagi pasien dengan gagal jantung stadium lanjut, terutama ketika pilihan transplantasi jantung memiliki keterbatasan.

“Bagi kami, LVAD bukan sekadar sebuah prosedur, tetapi pilihan terapi yang dapat membuka harapan baru bagi pasien dengan gagal jantung stadium lanjut,” ujar dr. Leonardo.
Advertisement
 
Atas: Inge Samadi (Executive Director Siloam Hospitals Kebon Jeruk), dr. Melissa, MARS (Hospital Director), dr. Leonardo Paskah Suciadi, Sp.JP, FIHA, FAPSC, FESC, FHFA, dan tim dokter prosedur LVAD; bawah: Risa Amalia (istri pasien), Choir Siregar (pasien), dr. Leonardo Paskah Suciadi, Sp.JP, FIHA, FAPSC, FESC, FHFA, dr. Dion Haryadi. Foto: Dok. Femina 


Prosedur kolaboratif

Implantasi LVAD sendiri merupakan prosedur kompleks yang membutuhkan kolaborasi dokter spesialis jantung, bedah toraks-kardiovaskular, serta tim multidisiplin lainnya. Tim medis yang terlibat dalam prosedur ini juga perlu menjalani pelatihan khusus.

Prosedur pertama LVAD oleh Siloam Hospitals Kebon Jeruk dilakukan pada pasien laki-laki berusia 44 tahun menggunakan HeartMate 3 LVAD. Kurang dari satu bulan kemudian, implantasi kembali dilakukan pada pasien kedua.

Keberhasilan dua prosedur dalam waktu berdekatan menunjukkan bahwa penerapan LVAD tidak hanya bergantung pada perangkat, tetapi juga kesiapan sistem pelayanan dan tim medis yang menangani pasien sebelum, selama, hingga setelah prosedur.

Karena itu, dr. Melissa, MARS, Hospital Director Siloam Hospitals Kebon Jeruk, menekankan pentingnya kesiapan tersebut.

“Ini bukan sekadar tentang berhasil melakukan sebuah prosedur, tetapi tentang memastikan bahwa kami memiliki kesiapan untuk memberikan layanan ini secara berkelanjutan,” katanya.

Teknologi HeartMate 3 yang digunakan memiliki Full MagLev Flow Technology. Dalam data uji klinis MOMENTUM 3 yang dipresentasikan pada European Society of Cardiology 2022, terapi LVAD menunjukkan tingkat kelangsungan hidup lima tahun sebesar 58,4%.
 

Bukan untuk setiap pasien

Namun, LVAD bukan terapi yang otomatis sesuai untuk setiap pasien gagal jantung. Pemilihannya membutuhkan penilaian menyeluruh berdasarkan kondisi jantung, kesehatan secara umum, respons terhadap terapi sebelumnya, serta tujuan perawatan.

Bagi keluarga, pemahaman mengenai pilihan terapi juga menjadi bagian penting dalam perjalanan pengobatan. Keputusan medis tetap perlu dibicarakan bersama tim dokter dengan mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan pasien secara individual.

Bertepatan dengan World Heart Day atau Hari Jantung Sedunia 2026 pada 29 September yang bertema Don’t Miss a Beat, perkembangan terapi LVAD menjadi pengingat bahwa penanganan gagal jantung terus berkembang. 

Di tengah keterbatasan pilihan pada sebagian pasien, teknologi seperti LVAD membuka alternatif terapi yang sebelumnya belum tersedia secara luas di Indonesia. (f)

Baca juga:
Teknologi Medis Terbaru Ini Bisa Bantu Atasi Keringat Berlebih
Pengalaman Menyikat Gigi yang Berbeda dengan METOO Orange Bloom

3 Cara Penting Hindari Drama Asam Lambung
 

Laili Damayanti


Topic

#WorldHeartDay, #KesehatanJantung

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?