Fiction
Gado-Gado: Nyampah!

11 Aug 2019

Dok: Shutterstock


Ketika nonton sepak bola dunia di televisi, hati ini begitu tersentuh melihat suporter  Jepang yang mau membersihkan tempat duduk mereka dari sampah bekas makanan atau minuman. Sementara suporter negara lain umumnya tidak demikian. Mereka cuek dengan sampah yang berserakan. Mungkin mereka pikir, kan ada petugas yang akan membersihkan. Kesadaran akan kebersihan memang  bukan hal mudah dan harus datang dari hati nurani.


Saya  termasuk yang ingin peduli pada kebersihan  itu, setidaknya di lingkungan rumah. Tidak boleh ada sampah terlihat. Semua harus masuk tempat sampah. Jika di jalanan ada bungkus permen atau snack, otomatis langsung saya ambil dan dimasukkan ke dalam tempat sampah terdekat.

Di lingkungan kami, ada satu sosok yang membuat saya amat kagum. Mbah Har, panggilannya, seorang nenek yang sangat peduli kebersihan. Tanpa ada yang menyuruh. Rumahnya bersih, juga jalanan di depan rumahnya.

Suatu malam,  dua ekor kucing berkelahi di atas atap rumah saya. Mereka berlarian dan menabrak pot bunga sampai hancur dan berserakan sampai ke jalanan. Saya sempat keluar untuk mengambil pecahan-pecahan pot agar tidak melukai orang lewat, tapi  masih membiarkan tanah berserakan mengotori jalanan. Saya pikir, besok pagi saja dibersihkan karena di luar gelap.

Esok harinya,  begitu melongok ke halaman depan, ternyata jalanan sudah bersih tuntas. Tidak ada lagi tanda-tanda bekas pot bunga yang porak-poranda akibat perkelahian kucing. Pikiran ini langsung tertuju pada Mbah Har, tetangga depan rumah itu. Tiap pagi ia memang tak pernah absen untuk membersihkan jalanan di  depan rumahnya, tidak peduli milik siapa.

Suatu kali, kami ke mal untuk mencari baju yang diinginkan Mas Bayu, suami saya. Satu jam lamanya  berkeliling, baju tidak kunjung ditemukan. Kaki sudah pegal! Anak kami, Latif, juga sudah mulai merengek menunjukkan kebosanannya. Ia minta es krim.

Kami pun menuju sebuah restoran  yang namanya sudah cukup terkenal. Tak berapa lama, makanan pesanan kami datang. Mas Bayu sibuk menyuapi Latif,  memberi waktu kepada saya untuk makan dengan tenang.

Di samping kami ada serombongan anak muda sedang bercanda. Mereka  memesan es krim beramai-ramai. Mereka juga membawa tas plastik berisi makanan dari luar. Padahal, sudah jelas-jelas ada larangan tidak boleh membawa makanan dari luar di tempat tersebut. Tapi, rupanya mereka tidak peduli. Suara rombongan  ini riuh rendah di dalam restoran dan cukup mengganggu.

Setelah puas ber-
haha-hihi, mereka meninggalkan meja dalam keadaan kotor. Sampah plastik makanan, gelas plastik bekas minuman, berserakan di mana-mana. Rasanya ‘gatal’ sekali untuk menyuruh mereka kembali  dan membereskan dulu sampah-sampah itu sebelum berlalu (naluri ibu-ibu, hahaha...). Tapi, Mas Bayu mencegah.

“Biarkan saja!”

Advertisement
“Tapi, jorok sekali mereka!”

Toh, nanti ada petugas yang membersihkannya.”

Jawaban Mas Bayu tidak memuaskan. Akhirnya saya bergerak dan mengambil sampah-sampah di meja itu dan memasukkannya ke dalam tong sampah yang tersedia. Paling tidak  meja itu kelihatan bersih dan selera makan saya tidak jadi hilang. (f)

 

Penulis : Andriani - Semarang

Kirimkan Gado-Gado Anda maksimal tulisan sepanjang tiga halaman folio, ketik 2 spasi.
Nama tokoh dan tempat kejadian boleh fiktif.
Kirim melalui e-mail: kontak@femina.co.id atau
pos, tuliskan di kiri atas amplop: Gado-Gado



Baca Juga: 
Gado-Gado: Online Dating
Gado-Gado: Pamer Anak
Gado-gado: Divisi SDM




 


Topic

#gado-gado, #fiksi

 


MORE ARTICLE

polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?