“Terimalah sehelai ilalang ini, Bu. Hiruplah wanginya. Insya Allah Ibu akan sehat seperti semula.”
“Maaf. Penyakitku bukan karena pengaruh ilmu hitam, tapi karena terlalu pusing memikirkan Lukman yang menikah denganmu. Padahal, aku tidak setuju. Itulah sebabnya kemarin lusa aku menangis saat kau mencium tanganku.”
Suara Ibu lebih ganas dari buaya Sungai Awi, mematuk keras telinga dan perasaanku. Ruangan mendadak sunyi. Sarah diam mematung. Melepas sehelai ilalang ke lantai. (f)