Jakarta tak lebih hanya hamparan lampu yang perlahan menjauh. Di ketinggian, seorang perempuan setengah baya menatap seorang laki-laki yang menggenggam tiket bioskop. Sekilas ia mengeja judulnya.
“Saya suka John Travolta. Saya kira semua perempuan seusia saya juga akan menyukainya,” kata perempuan itu membuka pembicara. Laki-laki itu terhenyak. Buru-buru ia mengusap matanya. Laki-laki itu menangis.
“I’m sorry, Mom,” jawabnya terbata-bata. Perempuan itu tersenyum. Pesawat kadang menjadi aktor antagonis yang memisahkan dua hati.
Di bawah sana, 3000 kaki dari kabut dini hari, akhirnya perempuan itu mendapatkan taksinya. Jakarta masih enggan terjaga. Jendela taksi berembun, pun matanya basah. Ia harus kembali, kepada sesuatu yang disebut rumah, walau ia tak pernah merasa pulang.
Ia yang berdiri di garis kebimbangan. Ada keinginan untuk memberontak sekaligus menyerah. Ya, semuanya berubah ketika laki-laki pualam itu kembali menyapa, setelah sekian tahun tak ada kabar. Ia juga membawa kembali cintanya yang pernah diberikan hanya untuknya, utuh seperti dulu. Semua baik-baik saja, kecuali perempuan itu sudah menikah.
Jika tiap helainya menarikmu
Bernyanyilah, dalam getar yang tak perlu dawai
Jika taut rasa adalah satu
Berhembuslah, dalam seribu kisah tanpa perlu alur
Jika setiap fragmen adalah denyut yang menjadikanmu hidup
Kita saling menyayangi, hanya itu… (f)