Tuan Penjaga Kolam menyambutku sambil cemberut pagi ini. Bukan ekspresi yang sesuai dengan suasana hatiku, sebenarnya.
“Kau harus mengenakan baju renang mulai sekarang. Betul-betul baju renang! Kalau tidak, cepat atau lambat, kau juga akan celaka!”
“Jangan memulai lagi, Rik. Bukankah kita sudah sepakat?”
“Dua hari yang lalu, seorang perempuan tenggelam dan sampai sekarang masih koma di rumah sakit. Sama sepertimu, ia tidak pernah memakai baju renang yang benar. Lebih gila lagi, ia suka mengenakan sepatu. Walau saat ditemukan kemarin, sepatu itu ada di pinggir kolam….”
Aku tidak bisa mendengar kata-kata pria itu lagi. Seperti ada ribuan lebah berdengung di telingaku. Limbung, aku berjalan menuju kolam tempat aku dan Geta terakhir bertemu. Dua orang perempuan sudah berada di dalam sana, berbicara dan saling menimpali dengan volume suara yang menimbulkan dentuman di kepalaku.
“Mereka bilang, perempuan itu sengaja menenggelamkan dirinya. Tubuhnya penuh memar dan bekas luka, tertutupi oleh bajunya selama ini.”
Seluruh tubuhku gemetar. Udara seakan lesap, membuatku merasa kosong dan hampa. Tanpa melepas sepatuku, aku terjun ke dalam kolam. Air yang dingin segera menyelimuti dan membasuh luka-luka di dalam diriku. Kurentangkan tangan dan kaki, dan kubiarkan tubuhku mengapung tenang. Langit dan awan tampak kabur. Aku tidak bisa melihat jelas dengan air yang terus memenuhi mataku.
Geta, di kolam yang seharusnya tidak mungkin menenggelamkanmu, kau melakukan uitemate dan menunggu seseorang hadir untuk menolongmu. Tapi, aku terlambat datang dan hanya sibuk menyelamatkan diriku sendiri.
Semalam, balasan surel dari redaktur fiksi majalah wanita incaranku datang. Kisah tentang perempuan yang kutemui di dalam kolam dengan sneakers di kakinya, akan dimuat di edisi mendatang. Mungkin, aku harus belajar mengakui, bahwa kisah Geta yang kuuraikan dengan sepenuh hati adalah kisahku sendiri. (f)
***
Finalis Sayembara Cerpen Femina 2016
Cek koleksi fiksi femina lainnya di:
http://www.femina.co.id/fiction/
Topic
#FiksiFemina