“Halo...,” aku menyapa pelan, khawatir mengagetkannya.
Perempuan itu melirikku sekilas, sebelum kemudian cepat mengubah posisinya menjadi berdiri. Air kolam membungkus tubuhnya hingga ke pundak. Aku menekan-nekan ujung jemari kakiku ke dasar kolam sambil sedikit membayangkan, bagaimana rasanya memakai alas kaki di dalam kolam renang?
“Ya?”
“Maaf, Anda tidak apa-apa? Apa yang sedang Anda lakukan sedari tadi, mengapung dengan pakaian selengkap ini?”
Perempuan itu mengamatiku, lalu tertawa kecil. Baru kusadari rambutnya yang keriting kecil-kecil, hitam, dan panjang, sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih. Kutaksir kami seumur. Ia terlihat sedikit lebih tua. Pertengahan 30, atau mungkin malah di akhir. Tapi, aku harus mengakui, perempuan itu cantik sekali.
“Uitemate,” ia menjawab singkat.
Aku sekuat tenaga mengumpulkan ingatan tentang kata yang baru saja terdengar. Uitemate.
Ayolah, Lora, kau seorang penulis! Penulis (seharusnya) tahu banyak hal!
“Uitemate, salah satu teknik menyelamatkan diri di dalam air. Kau hanya perlu tenang, menjaga tubuhmu agar tetap mengapung, lalu menunggu seseorang datang untuk menyelamatkanmu. Jangan lepas sepatumu, karena bisa membantumu mengambang. Bila ada botol plastik minuman kosong, kau bisa mendekapnya di dada dan kau akan tetap selamat.”
Mendengar penjelasan lengkapnya membuat wajahku seperti tengah disoroti cahaya matahari. Panas. Merah. (Aku, terkadang, memang penulis yang payah.)
Perempuan itu tersenyum, lalu mengulurkan tangannya ke arahku. “Aku Geta.”
Ia perempuan yang hangat dan ramah. Dengan segera, kami menjadi akrab. Kupikir, karena ia pun menyadari sedikit kemiripan kami, dari kenekatan pilihan baju renang yang kami kenakan. Padahal, peraturan yang mengharuskan pengunjung mengenakan baju renang (sungguhan) di dalam kolam ini, jelas-jelas tertempel di dinding.
Baiklah, Geta, untuk apa kau melakukan uitemate di kolam yang tidak akan bisa menenggelamkanmu?
Pertanyaan tak terucap itu hilir mudik di kepalaku. Menekan-nekan rasa penasaranku, menuntut jawaban. Tapi, layaknya dua orang asing yang baru pertama kali bertemu, kami tidak banyak membuka diri. Di pertemuan kami yang kedua, hampir sebulan setelahnya, Geta mulai bercerita tanpa kuminta.
Topic
#FiksiFemina