Fiction
Cerpen: Iga Madu Keenam Ribu

2 Apr 2017

Sri menyeka keringat di dahi. Panas dari bara di tungku besar itu membuat keringat membasahi dahi dan lehernya. Tungku yang terletak di luar, di bagian depan restoran, menguntungkan Sri. Angin bulan Oktober yang cukup dingin membelai wajahnya, mengurangi gerah karena panas dan asap.
Dituangkannya beberapa sendok madu ke potongan-potongan iga di tungku. Asap putih dengan wangi legit daging bakar bercampur madu, menyergap wajahnya. Tapi Sri sangat menikmati proses ini. Sekali lagi dihirupnya wangi bakaran ini.
Hmmm, sedap,” desah Sri, halus.
Setelah potongan-potongan iga itu berwarna keemasan, bergegas Sri memindahkan ke piring besar.
 
5770....
Sri menuliskan angka itu dengan kapur putih. Sebuah batu pipih berukuran cukup besar terletak di bawah meja tungku, penuh coretan angka. Senyumnya mengembang, wajah manis Sri berseri-seri.
“Tidak lama lagi!”
 
2424....
Sri memandang coretan di batu pipih besar itu. Berarti sudah lebih enam bulan Sri bekerja di restoran ini. Sebuah restoran kecil di ujung Zhejiang Rd. Restoran milik Koh Aping,  yang walaupun kecil tapi cukup laris. Hampir  tiap jam makan restoran ini penuh. Dengan menu andalannya iga madu.
Tugas khusus Sri berdiri di belakang tungku bakaran. Dalam sehari Sri bisa membakar iga berkali-kali. Iga yang telah dibumbui dengan bumbu rahasia Koh Aping. Lalu dibakar di tungku, dengan sentuhan akhir tetesan madu di  tiap potongnya. Sri sangat ahli melakukan ini. Rata-rata dalam seminggu Sri bisa membakar hingga lebih dari seratus kali. Lalu  tiap kali selesai membakar iga, Sri akan memperbarui catatan angka di batu pipih itu.
“Sudah diganti angkanya?”
            Sri kaget, tidak menyangka Mahyang sudah berdiri di samping tungkunya. Di tangan Mahyang piring besar penuh potongan iga siap bakar.
“Kamu bikin kaget,” Sri protes, tangannya yang memegang penjepit mengibas ke arah Mahyang.
“Makanya jangan melamun, sambil senyum-senyum,” jawab Mahyang, dengan bahasa Indonesia yang patah-patah.
Sri cemberut, sengaja tidak mau melayani Mahyang berdebat lagi. Masih ada tugas bakaran lain yang menanti. Di dalam restoran meja-meja sudah hampir terisi semua, dan sebagian besar menanti pesanan iganya.
 
DI RESTORAN Koh Aping ada lima pekerja, termasuk Sri. Khusus di dapur sepenuhnya dipegang oleh Koh Aping dan asisten kepercayaannya, Mahyang. Mahyang, pemuda tegap keturunan Uighur yang lima tahun lebih menetap di sini. Sementara Koh Aping, lahir dan besar di Indonesia, namun kemudian kembali ke tanah leluhurnya. Karena itu pula, bahasa Indonesia Koh Aping cukup baik. Memudahkan Sri untuk berkomunikasi dengannya.
 
2620....
Potongan iga mulai berwarna keemasan. Asapnya merubungi wajah dan rambut Sri. Tapi wajah manis khas Jawa milik Sri tak terganggu sama sekali oleh asap. Justru senyum lebar sedari tadi tak lepas dari wajahnya. Dengan ekor mata, Sri bisa menangkap sosok Adrian. Adrian mengamati  tiap gerak-gerik Sri dari meja di samping jendela. Seolah tak ingin melepas sekejap pun pandangnya dari sosok Sri.
“Besok libur, ‘kan? Aku jemput sore ya, kita jalan ke The Bund,” ajak Adrian, saat Sri meletakkan pesanannya.
Sri mengangguk, masih ada malu tersisa di raut wajahnya. Walau tak bisa dipungkiri, hatinya bahagia. Sudah lama Sri tak mendapat perhatian khusus dari seorang lelaki. Adrian, baru dikenal Sri minggu lalu. Ketika untuk pertama kalinya Adrian datang ke restoran ini. Sejak hari itu, Adrian datang  tiap hari, entah untuk makan siang ataupun makan malam. Yang membuat Sri tersanjung, Adrian selalu menempati meja di pinggir jendela. Bila meja-meja di pinggir jendela penuh, Adrian akan menunggu, sembari berdiri di samping tungku, bersama Sri.
“Kenapa harus menunggu, meja lain kan ada yang kosong?” tanya Sri.
“Meja di samping jendela yang terbaik, aku bisa menikmati pemandangan indah selama makan,” jawabnya.
Sri mengedarkan pandang ke sepanjang Zhejiang Rd, tak ada yang indah. Hanya jalanan kecil dengan bangunan toko-toko kecil di kiri kanannya. Cenderung sesak.
Adrian tertawa kecil, seolah paham pikiran Sri. “Kamu Sri, pemandangan indahnya.”
 
SIKAP ADRIAN yang hangat membuat Sri tersanjung. Berbeda dengan perhatian Mahyang atau Koh Aping pada Sri, yang terlalu protektif. Di samping itu, Sri juga seperti menemukan kembali masa lalunya yang terampas paksa. Satu saat Sri tetap punya mimpi untuk kembali ke kampungnya. Karena itu pula, sejak pertama membakar iga di restoran Koh Aping, Sri selalu mencoret angka demi angka. Berapa kali sudah ia membakar iga.
Adrian orang Indonesia, asli Jawa katanya. Kini dia di sini, untuk urusan pekerjaan. Belum menikah, dan serius dengan Sri. Itu semua yang membuat Sri semangat untuk menyusun mimpi-mimpi baru.
“Tunggu sampai enam ribu, ya, Mas, itu sudah nazarku.”
“Kenapa harus enam ribu?” tanya Adrian.
Sri hanya menggeleng, dia pun tak mengerti kenapa.
 
Advertisement
SRI TERUS BERLARI. Langkahnya terseok, dan pandangnya nanar. Kelelahan dan ketakutan berkumpul jadi satu, melemahkan sendi-sendinya. Kerlip lampu dari gedung-gedung di seberang Sungai Huangpu, tidak sanggup lagi membuatnya terjaga. Ditambah tak sepotong pun makanan yang melewati kerongkongannya dalam 24 jam terakhir.
Semua itu berakumulasi, hingga tubuh kurus Sri roboh juga. Suara-suara bising menyapa gendang telinga Sri. Tapi, tak ada kekuatan lagi, bahkan untuk membuka matanya. Rintihan ‘tolong’ dan ‘jangan’ berkali-kali diucapkannya. Sebelum ketidaksadaran benar-benar menguasai tubuh Sri.
 
“Bangun, bangun!” suara berat menyapa ambang kesadaran Sri.
Sebelum kesadaran dan kekuatannya pulih, Sri sudah mencoba bangkit. Dia harus lari lagi. Namun, sepasang tangan gemuk segera menahan tubuh Sri. Sebelum Sri kembali berontak, bibir cangkir menempel di bibirnya. Uap panas dari cangkir itu seketika memulihkan kesadarannya, dan naluri Sri berkata ia telah selamat.
“Mahyang yang menemukanmu,” kata Koh Aping.
            Bahasa Indonesia-nya terdengar kaku, tapi masih cukup bagus. Pemuda yang dipanggil Mahyang oleh Koh Aping, tersenyum penuh arti. Tubuhnya tinggi tegap, dengan kulit sedikit lebih gelap dari mayoritas orang-orang di kota ini. Matanya pun lebih bulat, dibanding Koh Aping. Dengan semua yang telah mereka lakukan, Sri merasa Mahyang dan Koh Aping adalah pahlawannya.
 
SEJAK MALAM ITU, Sri menempati kamar kecil di atas restoran Koh Aping. Sri mulai belajar memasak di dapur dengan bantuan Mahyang. Hingga jelang sebulan setelahnya, Koh Aping menyuruh Sri menempati tungku bakar di depan restoran. Menurut Mahyang, tidak sembarang orang yang dipercaya Koh Aping membakar iga-iga itu.
“Membakarnya harus pas, agar dagingnya tetap empuk dan madunya meresap,” jelas Mahyang.
Sri hanya mengangguk-angguk. Apa pun tugas yang diberikan, akan dilakukannya. Apa yang telah dilakukan Mahyang dan Koh Aping rasanya sulit bagi Sri untuk  membalasnya.
Sesekali berkelebat potongan peristiwa masa lalu, hingga ia terdampar di kota ini. Ketika Pak Ton menawari Sri untuk bekerja di sebuah hotel, di Shanghai. Ketika Sri terbang untuk pertama kalinya. Ketika Sri diantar ke sebuah rumah berkamar banyak. Yang dihuni oleh wanita-wanita muda, berbusana minim. Juga ketika Sri melompat dari mobil yang akan mengantar mereka ke sebuah hotel.
Pak Ton berdusta, benar Sri bekerja di hotel, tapi sebagai wanita panggilan. Pak Ton adalah anggota mafia perdagangan wanita, begitu menurut Mahyang. Tapi, saat itu Sri terlalu lugu.
 
6100....
“Mas, aku siap, kapan Mas Adrian mau jemput aku?”
Sri kembali menulis pesan singkat itu untuk yang keseratus kalinya. Sudah seminggu lamanya dari saat pesan itu pertama kali terkirim. Namun, hingga hari ini pesan itu tetap belum terjawab. Berkali pula Sri mencoba menghubungi, teleponnya tak dijawab. Sosok Adrian bagai lenyap ditelan bumi. Sri menunduk lesu, kota ini kembali merenggut mimpinya. Adrian yang diharapkan akan kembali membawanya pulang, tak pernah lagi muncul.
 
MAHYANG mengulurkan secangkir teh hijau. Hangatnya sedikit melegakan perasaan Sri.
“Terima kasih, Mahyang. Kamu sangat baik. Aku berutang banyak padamu.”
“Tidak apa, aku sudah janji menjaga Sri. Adrian laki-laki jahat,” jawabnya patah-patah.
“Ikut denganku ke Uighur. Aku dan Sri menikah. Koh Aping memberi kita uang untuk membuka restoran di sana.”
Sri diam, tak kuasa menolak permintaan Mahyang. Laki-laki itu penyelamatnya.
 
SEBUAH KOPER BESAR dan travel bag ditumpuk Mahyang di depan pintu. Sekali lagi diperiksanya tiket, yang tertera namanya dan Sri. Hari ini adalah hari terakhir mereka di Shanghai. Ada tiket dengan dua tujuan, Uighur tempat kelahirannya, dan Hong Kong. Sekali lagi Mahyang menarik napas berat.
Berkelebat peristiwa minggu lalu di benak Mahyang. Saat beberapa tukang pukul Bos Besar, menghajar Adrian. Adrian, lelaki yang mencintai Sri, dan tidak akan pernah muncul lagi. Janji Mahyang pada Bos Besar untuk menyerahkan Sri. Imbalan uang 50.000 RMB yang telah diterima Mahyang. Hari ini Mahyang harus mengantar Sri ke Hong Kong.
Sekali lagi ditariknya napas berat. Bangkit dari meja itu, bergegas Mahyang menyampirkan travel bag dan menarik koper besarnya. Dua tiket tergeletak di meja tulis yang ditinggalkannya. Tiket tujuan Hong Kong.
“Aku mencintai Sri, tak akan kuserahkan dia,” tekad Mahyang. (f)
 
 ***
 
  Yoza Yozie

Finalis Sayembara Cerpen Femina 2016

Cek koleksi fiksi femina lainnya di:

http://www.femina.co.id/fiction/
 
 


Topic

#FiksiFemina

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?