Wanita itu menatapnya diam. Sorot matanya berubah, dari tatapan sedih hingga kosong. Seperti anak yang hilang arah. Sejenak Remon iba dan ingin memeluknya, tapi ia tahan.
Kabut menipis dan dunia nyata membenturnya. Tubuhnya berat. Ia merasakan gravitasi, juga segala letih di persendian urat ototnya. Ia terisap, lalu terempas. Sepersekian detik kemudian ia telah berada di ruangan empat kali empat meter bercat krem yang dipenuhi poster dinding. Ia terbaring di kamarnya.
Suara zikir berkumandang kencang. Dilantunkan oleh puluhan laki-laki bersamaan. Remon membuka pintu kamarnya susah payah. Para lelaki berkopiah yang semula khusyuk memanjatkan doa, terdiam. Ibu-ibu yang hendak membagikan nasi rawon, berteriak. Semua sepakat menuduhnya hantu, makhluk astral jadi-jadian. Tak ada yang berani mendekat, kecuali ibunya. Satu-satunya wanita yang suaranya mampu menembus alam tak kasatmata.
“Nak, kalau kamu memang sudah pergi, kami mengikhlaskanmu….” Ibunya menatap melas dengan sangsi. “Kamu sudah hilang di gunung selama empat puluh hari, ini adalah tahlilan gaib pemakamanmu.” (f)
Ayu Sri Darmastuti
Unggulan Sayembara Cerpen Femina 2016
Cek koleksi fiksi femina lainnya di:
http://www.femina.co.id/fiction/
Topic
#fiksifemina