Fiction
Cerpen: Hyang

24 Jun 2017



Umumnya Remon hanya akan tertawa pada segala macam dongeng tak lumrah macam cerita itu, dengan enteng menyebutnya bualan. Cerita mengada-ada yang diciptakan dengan tujuan terselubung. Tapi, posisinya jungkir balik. Kenyataannya, hanya dongeng itu yang bisa ia jadikan patokan sekarang. Jadi, dia sedang berhadapan dengan Sang Putri Rengganis.

“Apa aku melakukan kesalahan?” Remon ingat etika dasar seorang pendaki dan meraba-raba tingkah lakunya. Ia sedang bertamu ke gunung. Bukan sekadar wisata olahraga atau ajang mencari ke-aku-an.

Wanita itu mencondongkan tubuh mendekat. Remon merasakan hawa di sekitarnya memekat, layaknya kabut subuh yang padat oleh embun. Dingin dan merasuk. Namun, perasaannya ringan. Jantungnya yang berdegup kencang melambat pelan.

“Apa kamu tidak menikmati kemunculanku?”
Remon bimbang mencerna kata-katanya, berusaha menemukan jawaban yang pantas. Matanya melirik refleks pada tubuhnya yang molek, membuat semua kaum adam sepakat menelan ludah. Ia bertemu wanita cantik di tengah hutan dalam keadaan kedinginan yang dengan mudah memancing hasrat. Ya! Tentu saja ia menikmati kemunculannya.

Wanita itu bergerak mengelilinginya. Tiap langkah yang ia jejakkan, sebaris kidung dan gemerincing lonceng terdengar lirih dari ujung jauh belantara.
“Bukankah menurutmu aku cantik… atau kamu sudah memiliki wanita yang menurutmu lebih cantik?”
Advertisement
Kekasih? Lawan jenis yang ia sukai? Sepertinya ada… atau mungkin tidak. Remon mencari-cari dalam kepalanya secuil ingatan tentang kekasihnya, atau wanita-wanita lain yang pernah dekat dengannya. Tak ada.
Malahan, bukan hanya wanita yang pernah didekatinya, semua wajah yang pernah ia kenal memudar dari ingatan. Remon juga mulai meragukan namanya.

Wanita itu menggandeng tangannya. Bersamanya ia bergerak berselimut pendar cahaya. Hutan, rumput, dan bulan sembunyi. Senyumnya menyeret seantero perhatian Remon, mengalihkan penilaiannya pada apa yang nyata atau ilusi. Mereka berdua menari berputar. Ia seperti dalam sebuah mimpi lucid yang menindih. Remon menikmatinya.

“Apa kamu mau tinggal denganku? Aku akan menuruti segala permintaanmu.”
“Semua permintaanku?”
“Benar, apa saja yang kamu mau.”

Menggoda. Remon hampir saja mengangguk kalau saja samar-samar ia tak mendengar namanya dipanggil. Remon berusaha menajamkan telinga dan batinnya. Namanya sedang dipanggil wanita lain. Wanita paruh baya yang berulang kali menyenandungkan namanya di antara zikir. Suara ibunya.

Setitik nurani lambat laun terjaga bersama dengan kembalinya ritme degup jantung. Ini bukan dunianya. Ia ingin kembali. Harus kembali.
 


Topic

#fiksifemina

 


MORE ARTICLE

polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?