Emak bersama para keponakan Emak mengelola sawah. Sampai dengan akhir pertemuan, mereka tetap merasa benar sendiri dan saling menyalahkan. Suasana menjadi panas. Bahkan saat kuminta bapak dan Emak saling memaafkan, mereka tetap berdiam di tempat masing-masing, tidak ada salah satu dari mereka yang berinisiatif menghampiri. Perbaikan hasil dari pertemuan itu adalah bapak dan Emak setuju untuk diparuh penggarapan sawah oleh orang lain. Hasilnya diberikan ke Emak untuk diatur penggunaannya. Aku menitipkan bapak dan Emak kepada adikku karena masih tinggal satu desa.
TIGA BULAN kemudian, Radi telepon bahwa tidak ada perbaikan dari situasi bapak dan Emak. Mereka masih perang dingin. Satu rumah tapi tanpa komunikasi. Hasil sawah diterima oleh bapak dan bapak langsung mengambil bagiannya dengan jumlah yang lebih besar dan memberikan ke Emak sisanya. Bapak memberikan ke Emak melalui Radi. Aku jadi memikirkan perkataan bapak padaku bahwa bapak merasa sudah tidak cocok lagi sama Emak. Mungkinkah bapak sudah tidak sayang Emak lagi padahal mereka sudah bersama-sama kurang lebih 50 tahun.
Hal itu berbeda jauh dengan bapak yang berumur lima tahun lebih tua dari Emak. Bapak senang mematut diri di cermin, mengganti gigi ompongnya dengan gigi palsu dan senang membeli pakaian. Istriku rupanya memperhatikan perkataan bapak tentang Emak dan pernah mengajak Emak ke salon untuk perawatan kaki dan tangan. Istriku berencana ke salon seharian bersama Emak. Emak menolak. Emak wanita sederhana yang sangat tangguh bagiku. Karena dukungan dan doa Emak, aku bisa menjadi seperti sekarang.
Aku ingin Emak dan bapak seperti dulu dan selalu rukun. Tapi harapan itu rasanya kian jauh menjadi kenyataan. Emak meneleponku dengan sangat emosi dan menangis. Emak melihat bapak bersama wanita lain naik motor. Emak menelepon tiga hari lalu sebelum bapak ke Bandung.
Selanjutnya, klik laman berikutnya.
Topic
#FiksiFemina