Fiction
Cerpen: Gantung

12 Aug 2017


 
 Ada rasa syukur karena aku bisa membuktikan pada masyarakat desa kelahiranku bahwa keinginanku sekolah yang semula dianggap tidak ada gunanya dan hanya menghambur-hamburkan uang ada hasilnya. Aku tidak lagi turun temurun bekerja sebagai petani atau pedagang keliling seperti kebanyakan penduduk. Pilihan lain adalah menjadi kaum urban di ibu kota. Orang pertama yang menentangku melanjutkan sekolah ke SMA adalah bapak. Bapak tidak membiayaiku dan menyuruhku membantu menggarap sawah.

Lewat tangan Emaklah dengan susah payah aku menyelesaikan sekolah, kuliah dan melanjutkan S2 dan S3 dengan beasiswa di luar negeri. Aku juga menentang bapak untuk tidak menikah dengan jodoh pilihan bapak. Di desa kami kebanyakan orang menikah dengan tetangganya sendiri. Aku menemukan jodohku sendiri. Radi, adikku tidak meneruskan kuliah. Dia memilih usaha jual beli padi dan menurutku cukup sukses dan dapat menghidupi keluarganya. Radi juga yang menemani bapak dan Emak memantau pengelolaan sawah kami.

Bapak bukan sekadar senang jalan dan ngobrol ke mana-mana, tapi bapak juga sudah jarang mengurusi sawah. Terakhir saat aku menelepon, Emak bercerita bahwa bapak telah menggadaikan sawah tanpa sepengetahuan Emak. Emak yang rajin bekerja dan domba-dombanya beranak pinak melunasi hutang bapak. Waktu aku klarifikasi dan menanyakan ke bapak, bapak menjawabnya tanpa beban.

“Itu sawah, kan, punya bapak sendiri, warisan orang tua bapak untuk bapak. Sawah yang punya Emak dari warisan orang tua Emak, kan, nggak digadaikan,” jawab bapak dengan asap rokok yang mengepul.

“Uangnya untuk apa, Pak?” tanyaku.
 
Bapak menatapku. “Rumah kita di desa banyak yang bocor. Bapak nggak enak minta kamu atau Radi, adikmu. Uangnya untuk membetulkan rumah yang bocor. Sisanya buat jajan bapak,” kata Bapak.
Advertisement
 
“Bapak bisa bilang Emak dulu, kan? Siapa tahu Emak punya uang dan bisa dipakai untuk membetulkan rumah.”
 
“Emak kamu itu begitu. Bapak bosan di rumah. Emak sibuk dengan hewan ternak dan peliharaannya, setelah itu ke sawah. Kamu lihat sendiri, kan, Emak itu kurus kering dan semakin hitam sering terkena sinar matahari. Suka lupa pakai topi petani. Emak keras kepala dan susah diajak ngomong. Bapak dan Emak sudah tua. Pengin bapak, kan, bisa buka warung depan rumah?”
 
“Kalau begitu bapak bicarakan dengan Emak, cari jalan tengahnya bagaimana? Kalau buka warung, mungkin sawah itu di paruh saja, kerja sama dengan orang lain,” aku mencoba memberi saran.
 
Kan, bapak sudah bilang Emak itu keras kepala. Emak penginnya dikerjakan sendiri semuanya. Bapak merasa sudah tidak cocok sama Emak. Emak masak untuk dirinya sendiri saja. Makanya bapak cari makan di luar.”
 
“Kalau begitu nanti kita atur pertemuan berempat. Bapak, Emak, saya dan Radi. Nanti coba cari waktu yang pas biar bisa semuanya. Kita sekalian nengok rumah ke Karawang.” Kataku saat cerita semua versi sudah kudapatkan.


Selanjutnya, klik laman berikutnya.
 


Topic

#FiksiFemina

 


MORE ARTICLE

polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?