Foto: Shutterstock
Kamu menahan emosi, sebuah surat gugatan dibuka oleh tangan kekar pria berkemeja kotak- kotak dan bercelana linen, senyum puas tersungging di bibir hitamnya. Tanganmu gemetar, tatapan mengabut, memandang ke arah anak-anak yang sedang bermain riang.
“Apa akta tanah milikku tidak berguna lagi? Apa Anda tega menghilangkan tawa dari sekumpulan anak yang sedang semangat belajar?”
“Apa Anda bisa memberiku waktu? Anak-anak pasti kecewa jika tidak mendapat penjelasan.”
“Waktu? Aku sudah lama memberimu waktu, sekarang pergilah atau orang-orangku akan menyeretmu.”
Dengan penuh tekad, kamu berjalan ke arah kumpulan anak-anak. Belumlah kaki menjejak sempurna di balai rumah panggung tempatmu mengajar, cengkraman tangan-tangan kokoh mencegah, menarik tubuh kecilmu, menyeret tanpa ampun. Kamu menggigit lidah, berusaha tidak berteriak, dari kejauhan tampak anak-anak tak berdosa itu menjerit ketakutan, diusir tanpa ampun, tempat bermain dan belajar mereka dihancurkan tanpa perasaan. Saat itu kamu hanya bisa tergugu menatap pagar besi yang dijaga orang-orang pria tadi.
Topic
#cerpen, #fiksifemina