Setelah seharian menangis karena diledek teman-teman di sekolah, ayah mengajak mengunjungi pasar malam di Cibodas. Dari Cidahu ke Cibodas hanya berjarak satu setengah kilometer, berbekal lampu petromaks menyusuri rel kereta yang terbentang.
Pasar malam begitu ramai. Hanya inilah hiburan yang sangat menarik bagi penduduk desa. Televisi masih langka, bahkan radio pun hanya dipunyai orang-orang tertentu. Sekumpulan orang menjerit-jerit di kincir yang berputar, kamu menatap ingin tapi rasa takut yang menyergap. Walau usiamu sudah enam belas tahun, namun pikiranmu masih setara anak SD.
“Airin mau naik bianglala?” Ayah menunjuk kincir yang sedang berputar, lalu mengusap rambutmu perlahan, menatap penuh kasih. Kamu menggelengkan kepala kuat-kuat. Ada rasa takut diledek orang-orang di sana karena tampilan fisikmu berbeda, kamu memiliki sepasang mata indah berbentuk seperti kacang almond mirip orang Mongol, raut wajah agak datar, telinga kecil agak rendah, dan jari tangan lebih pendek dibandingkan orang lain. Orang kampung menjulukimu alien, keluarga dari ibu memanggilmu anak sial, karena tepat saat terlahir ke dunia, ibu meninggal. Hanya ayah yang selalu memperlakukan penuh kasih. Seorang dokter di desa menggelarimu bocah ajaib down syndrome, katanya gelar itu khusus untuk orang tertentu, dan sampai saat ini kamu tidak tahu artinya. Dokter desa itu selalu menguji ketangguhan tubuhmu hingga bisa mencapai usia saat ini.
“Halo, maukah naik bianglala bareng aku?” Seorang anak aneh mengagetkanmu. Sejenak matamu tidak berkedip memandangnya. Dia anak perempuan, namun berpakaian aneh. Selain itu, tinggi badannya dua kali lipat darimu, namun sangat kurus, warna kulitnya putih pucat, matanya sipit seperti terpejam.
“Bagaimana? Mau ya?”
Kamu agak tergagap, baru kali ini ada seseorang yang ramah dan tidak menganggapmu aneh. Anak perempuan itu sepertinya datang dengan ayahnya.
“A Ling, yang sopan, kenalan dulu baru main bareng.”
“Iya, Baba.” Pipi anak itu bersemu merah.
Kamu tertegun mendengar cara bicara mereka dengan logat asing. Kamu dan dia berkenalan dengan hati riang, kalian langsung cocok, lantas berlari ke arah kincir berputar. Berpegangan tangan seolah teman lama, tertawa lepas, duduk dengan perasaan tak terlukiskan.
“A Ling, baju apa yang kamu kenakan?” Kamu menatap rok yang dipakai teman barumu.
“Ini namanya cheongsam, kamu mau? Nanti aku bilang baba kalau mau.” Kamu langsung menggeleng kuat-kuat.
“Wajahmu berbeda dengan teman-temanku di sekolah. Apa kamu juga alien sepertiku?” tanyamu, polos.
A Ling tertawa, “Kamu benar, aku alien. Kita sama dong.” Tangannya menggenggam erat tanganmu.
Saat itulah ada perasaan bahagia menyelusup pelan, menyadari dirimu tidak sendiri. Roda bianglala mulai berputar, kembang api melesat, berdentuman, menyebarkan warna warni indah di angkasa.
“Kamu sekolah di mana?” teriak A Ling.
“Di Sekolah Dasar Nusawangi, dekat pintu rel kereta api Cibodas,” jawabmu sekencang mungkin, agar terdengar jelas.
“Kelas berapa?” tanyanya lagi, tetap dengan teriakan dan logat khasnya.
“Kelas enam.” Kamu memiringkan kepala, mendekati kupingnya.
A Ling tertawa geli, matanya berbinar, “Aku dan baba besok juga sekolah di sana. Kita akan sekelas.”
Saat itu kamu kurang mengerti ucapan A Ling, hanya menganggukkan kepala, padahal bingung, bagaimana mungkin ayah A Ling juga sekolah? Bukankah dia sudah bukan anak-anak lagi? Atau mungkin ayahnya teman barumu itu juga sama sepertimu, di usia yang harusnya sudah menjejak pendidikan lebih tinggi tapi hanya mampu duduk seperti anak yang usianya jauh di bawahnya.
Rantai bianglala mulai berderak pelan, jeritan penumpang mulai berkurang, putaran kencangnya pun mulai berangsur pelan hingga akhirnya berhenti. Kamu menggenggam tangan A Ling dengan perasaan bahagia, turun dari bianglala, mendatangi ayah kalian.
Topic
#cerpen, #fiksifemina