SI BAD ATTITUDE
Performa kerjanya tidak diragukan lagi, otaknya cerdas, dan hampir selalu bisa diandalkan. Tapi sayang, emosionalnya yang meledak-ledak membuat orang 'gerah' dan sport jantung ketika harus bekerja sama dengannya.
Bagaimana tidak, kurang pas sedikit, ia bisa langsung naik darah. Bahkan kalau sudah lepas kontrol, ia tidak segan-segan mendamprat orang di depan umum. Jeleknya lagi, si bad attitude ini selalu memakai standar pribadi untuk mengukur segala sesuatu dan enggan berkompromi dengan orang lain.
Gemar melempar kritik, tapi dia sendiri sering bertindak seenaknya. Apabila ditegur langsung naik pitam dan menganggap si penegur terlalu berlebihan. Selain membuatnya dijauhi rekan kerja, sifatnya yang menjengkelkan ini akan berdampak buruk bagi kemajuan kariernya. Promosi yang harusnya bisa didapat dalam waktu singkat, terpaksa harus ditunda karena perangai buruknya.
SOLUSI:
Menghadapi orang seperti ini perlu kepala dingin. Sebab, jika Anda berdua sama-sama ngotot, pembicaraan tidak akan efektif dan malah hanya akan memperuncing masalah. Kuncinya adalah momen yang tepat.
Anda bisa memanfaatkan sesi feedback dalam forum pertemuan rutin untuk menyatakan sikap Anda sebagai pemimpin mengahdapi masalah ini. Utarakan bahwa di samping memperhatikan performa kerja, perusahaan juga memasukan attitude sebagai salah satu pertimbangan utama dalam menilai seorang karyawan.
Tekankan juga bahwa akan lebih baik bagi perusahaan untuk menggaji orang dengan kemampuan yang sedang-sedang saja tapi kooperatif, daripada pegawai yang pintar tapi berperangai buruk. Pasalnya, perjalanan waktu dan pengalaman bisa membuat skill seseorang bertambah, tapi perangai buruk yang melekat akan terus menjadi sumber masalah.
Jadi lebih baik kehilangan satu orang ketimbang mengganggu ketentraman kerja yang sudah tercipta. Selain menjadi teguran tak langsung atau 'lampu kuning' bagi si pembuat masalah, pembicaraan ini bisa sekaligus berfungsi sebagai peringatan bagi pegawai yang lain.
Topic
#karier