Nika dan pengalaman gaya hidup urban. Foto: Dok. Nika
Kedai kopi kini punya banyak peran dalam kehidupan urban. Ada yang menjadikannya tempat bekerja, bertemu teman, membaca buku, mencari inspirasi, atau sekadar mengambil jeda di tengah padatnya aktivitas.
Melihat perubahan cara orang menikmati waktu inilah, NIKA mengembangkan konsep yang lebih luas dari sekadar kedai kopi: Sebuah ruang gaya hidup yang mempertemukan kopi, kreativitas, komunitas, dan berbagai pengalaman baru.
Salah satu strategi yang menjadi kunci pengembangannya adalah kolaborasi. Bagi Nika, bekerja sama dengan jenama dari berbagai kategori bukan hanya soal menciptakan produk bersama, tetapi juga mempertemukan karakter, ide, dan komunitas yang berbeda dalam satu ruang.
Eksplorasi kolaborasi
Mengusung filosofi Where Imagination Blooms, Nika pun menjalin sejumlah kolaborasi, yang menghasilkan pengalaman ngopi lebih beragam.
Nika mengeksplorasi kerja sama dengan berbagai jenama gaya hidup, fashion dan beauty, seperti dengan MiiR, Botanical Essentials, Bellayu hingga Masshiro & Co., yang berfokus pada produk dan pengalaman rasa.
Nika juga pernah berkolaborasi dengan Wardah, Bobbi Brown, dan Nike melalui berbagai aktivitas yang disesuaikan karakter masing-masing jenama dan kebutuhan konsumennya.
Atas: Mont Blanc, Dirty Matcha Sea Salt; bawah: Reverse Dirty, Pistachio Latte. Foto: Dok. Nika
Salah satu kolaborasi yang menarik adalah konsep book café bersama Gramedia dan Prose & Petals di Nika GAFOY Kelapa Gading, Jakarta Utara (menyusul konsep book café ini buka di Urban Forest, Jakarta Selatan, pada akhir bulan).
Di dua tempat ini, kamu bisa menikmati kopi sambal membaca pilihan buku impor yang tersedia.
Konsep tersebut memperlihatkan bahwa kedai kopi bisa menjadi tempat mengeksplorasi minat, bukan hanya membeli minuman untuk dibawa pulang. Pengunjung bisa membaca, bersantai, sekaligus menikmati suasana yang berbeda.
Karakter dan pengalaman berbeda di tiap gerai
Nika tidak menerapkan pengalaman yang sepenuhnya seragam di setiap lokasi. Karakter lingkungan dan kebutuhan pengunjung menjadi pertimbangan dalam mengembangkan suasana serta pilihan menu.
“Ada yang datang untuk menikmati produk, bertemu teman, mengeksplorasi minat, atau sekadar mengambil jeda. Kami ingin memberi ruang bagi setiap orang untuk menikmati Nika dengan caranya sendiri,” ujar Dolly Hardjono, Founder Nika, dalam acara bincang-bincang akrab bersama media beberapa waktu lalu.
Menurut Dolly Hardjono, Nika Senopati bisa jadi tempat menenangkan buat yang lebih senang menyendiri. Foto: Dok. Nika
Variasi menu makanan (dari comfort food ala Asia) dan minuman juga dikembangkan mengikuti karakter setiap gerai. Artinya, pengunjung bisa menemukan pilihan yang berbeda ketika mengunjungi lokasi Nika lainnya.
Tentu saja kopi dan matcha sebagai menu unggulan Nika juga terus dieksplorasi, termasuk makanan yang jadi pendamping.
Dari Poke Bowl sampai Misoa yang hangat dan enak, kamu bisa menikmatinya sambil menyesap Mont Blanc dan Coconut Matcha, yang mengutip Dolly, enak banget diminum setelah menyantap menu protein.
Beef Truffle Donburi dan Poke Bowl, dua dari menu hidangan favorit di Nika. Foto: Dok. Nika
Di masa mendatang, Dolly dan Lionel Hanjaya Tirta, Founder Nika, juga memiliki aspirasi untuk memperluas kehadiran Nika ke berbagai negara dengan membawa identitas sebagai jenama dan produk Indonesia. (f)
Baca juga:
Mont Blanc, Racikan Kopi Populer dari Melbourne