Waktu Paruh karya koreografer Hartati. Foto: Dok. Indonesian Dance Festival

Tari bukan sekadar gerakan tubuh mengikuti irama. Di tangan para koreografer, tubuh bisa menjadi medium untuk membicarakan identitas, perubahan sosial, tradisi, hingga persoalan kemanusiaan. 

Hal inilah yang kembali terasa dalam Indonesian Dance Festival (IDF) 2026, yang berlangsung pada 29 Oktober-1 November 2026 di tiga tempat di Jakarta, yaitu di Taman Ismail Marzuki, Salihara Arts Center, danIstitut Kesenian Jakarta.

Mengusung tema Underlying Drift – Yang Bergeser di Kedalaman, IDF tahun ini menghadirkan pertemuan seniman Indonesia dan internasional melalui pertunjukan, laboratorium pengembangan karya, lokakarya, diskusi, hingga jejaring seni lintas negara.

“Bagi kami, tema ini tidak hanya tercermin dalam karya-karya yang dihadirkan, tetapi juga dalamcara kami menjalankan festival—terus beradaptasi, merawat hubungan, dan mencari kemungkinan di tengah perubahan,” kata Ratri Anindyajati, Direktur Indonesian Dance Festival, di Temu Media dan Komunitas, beberapa hari jelang IDF 2026.

Selama empat hari penyelenggaraan, festival yang telah hadir sejak 1992 ini kembali menegaskan perannya bukan hanya sebagai panggung pertunjukan tari kontemporer, tetapi juga ruang tumbuh bagi seniman dan ekosistem seni Indonesia.

Pertunjukan tari kontemporer lokal dan internasional, hingga diskusi sebagai ruang tumbuh bersama. Foto: Dok. Indonesian Dance Festival

Perspektif lokal ke panggung global

Salah satu kekuatan IDF 2026 adalah keberagaman latar belakang dan pendekatan artistik para senimannya. Melalui program BENTANG, publik diperkenalkan kepada karya koreografer Indonesia dan internasional.

Koreografer Hartati membuka festival dengan Waktu Paruh, karya komisi IDF bersama Bakti Budaya Djarum Foundation, yang merefleksikan perubahan tatanan sosial, etika, dan nilai kemanusiaan.

Ada pula La XXX Punk II: Betel Nut Green karya Fangas Nayaw dari Taiwan, MENSTRUATION SUMO DANCE dari team chiipro (Jepang), serta KONJO: Becoming Otherwise karya Densiel Lebang. 

Karya terakhir menarik perhatian penonton, melalui riset artistik Densiel Lebang terhadap masyarakat Konjo di Bulukumba, Sulawesi Selatan, termasuk hubungan budaya lokal, kapal pinisi, identitas, dan pengalaman pribadinya.

Mengembangkan seniman lokal, merangkul seniman internasional

Kontribusi festival terhadap dunia seni tidak berhenti ketika pertunjukan selesai. Tahun ini, IDF menghadirkan KAMPANA, laboratorium pengembangan karya yang dijalankan bersama berbagai platform dan jejaring seni dari Indonesia serta kawasan Asia Pasifik.

Kaleng Rombeng!, yang menonjolkan gaya tarian waacking. Foto: Dok. Indonesian Dance Festival

Enam karya dalam program ini memperlihatkan beragam proses dan pendekatan penciptaan. Salah satu seniman yang terlibat adalah Adrian, yang kembali mendapat kesempatan mempresentasikan KALENG ROMBENG! setelah berproses melalui platform JICON.

Seni berkembang melalui pertemuan dan pertukaran gagasan. Menyadari hal tersebut, IDF juga menghadirkan Simpul Gerak (Link in Motion), program jejaring internasional yang mempertemukan produser, kurator, dan praktisi seni pertunjukan Indonesia dengan kolega dari berbagai negara.

Lebih dari 40 praktisi tari internasional hadir dalam penyelenggaraan tahun ini, membuka peluang pertukaran pengetahuan, kolaborasi, dan hubungan profesional lintas ekosistem seni.

Selain itu, rangkaian lokakarya dan Bincang Tari juga memberikan ruang bagi publik dan pelaku seni untuk mengenal proses kreatif di balik sebuah pertunjukan.

Menjaga keberlanjutan tari kontemporer Indonesia

Konsistensi IDF selama lebih dari tiga dekade menjadi bagian penting dalam menjaga ruang bagi perkembangan tari kontemporer Indonesia.

Perwakilan para pendukung Indonesian Dance Festival 2026 di acara Temu Media dan Komunitas. Foto: Dok. Indonesian Dance Festival

Di acara Temu Media dan Komunitas, Ketua Dewan Pembina Yayasan Loka Tari Nusantara, Imron Zuhri, menekankan bahwa keberlanjutan festival diperlukan bukan hanya untuk menghadirkan karya baru, tetapi juga memastikan seniman memiliki ruang untuk bereksplorasi dan mempertanyakan berbagai hal melalui proses penciptaan.

Melalui IDF 2026, tari kontemporer kembali menunjukkan bahwa seni Indonesia bukan hanya tentang melestarikan warisan, tetapi juga berani menciptakan bahasa baru, berdialog dengan dunia, dan membuka jalan bagi generasi seniman berikutnya. 

Sebuah kontribusi yang dampaknya diharapkan terus terasa, bahkan setelah festival usai. (f)

Baca juga:

Satu Abad Rahmi Hatta Tampilkan Berbagai Bentuk Cinta Sang Ibu Bangsa

Seabad Lalu, Perupa Swedia Tyra Kleen Merekam Keindahan Jawa dan Bali Lewat Lukisan dan Foto

Meneruskan Cerita Kebaya Warisan dalam Film Pendek Jalan Pulang