Boleh nggak, sih, beradegan begini di kantor saat ngalamin momen bhap? Foto ilustrasi: Pexels/Cottonbro Studio
Tampaknya hari ini berjalan lancar di kantor. Semua pekerjaan terasa terkendali. Laptop sudah hampir ditutup, tas siap dibawa, dan pikiran sudah pindah ke rencana makan malam.
Lalu, satu notifikasi masuk, “Bisa bantu sebentar?” Bhaaap!
Buat kamu yang sedang menjalani kehidupan first jobber, momen bhap (yang bisa aja kamu artikan jadi “bikin hati agak panas”) di tempat kerja seperti di atas mungkin terasa akrab.
Bukan selalu karena pekerjaan yang berat, tetapi karena kejadian nggak terduga yang mengacaukan ritme kerja pribadi kamu, tapi masih masuk dinamika kerja dari POV orang lain.
Untungnya beberapa situasi bisa diantisipasi dengan komunikasi dan kebiasaan kerja yang lebih rapi.
Berikut lima momen bhap di kantor plus cara menghadapinya tanpa harus memendam kesal seharian.
1/ Lagi fokus kerja, mendadak diajak meeting
Lagi asyik menyelesaikan pekerjaan, notifikasi kalender berbunyi. Ada meeting baru yang dimulai dalam 10 menit. Bisa-bisa rapatnya berlangsung lama, padahal pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi masih menumpuk.
Tip: Gunakan kalender kerja untuk menandai jadwal rapat dan waktu fokus. Jika memungkinkan, sepakati kebiasaan tim untuk mengirimkan agenda sebelum meeting dan menghindari undangan mendadak yang tidak mendesak.
Ketika undangan datang, kamu bisa menanyakan tujuan rapat dan apakah kehadiranmu diperlukan. Kalau memang harus ikut, sampaikan pekerjaan yang perlu disesuaikan agar deadline tetap realistis.
2/ Brief awal simpel, revisi seperti proyek baru
Awalnya cuma diminta bikin satu materi presentasi. Setelah selesai, muncul permintaan mengganti konsep, mengubah target audience, sampai merombak seluruh tampilannya. Hmm....
Tip: Jangan buru-buru mengeksekusi brief yang masih samar. Pastikan tujuan pekerjaan, target audience, format, deadline, dan siapa yang memberikan persetujuan akhir sudah jelas.
Untuk pekerjaan kreatif, mengirimkan konsep awal sebelum mengerjakan detail juga bisa membantu menyamakan ekspektasi.
Jika revisi besar datang belakangan, komunikasikan dampaknya terhadap waktu pengerjaan. Bukan menolak perubahan, melainkan memastikan kualitas pekerjaan tetap terjaga tanpa mengabaikan deadline.
3/ Ketiban tugas orang lain
Niatnya mau menyelesaikan daftar tugas sendiri, tetapi rekan kerja tiba-tiba meminta bantuan. Sekali-sekali bantuin tentu nggak masalah.
Yang bikin kesal adalah ketika tugas tambahan datang terus-menerus sampai pekerjaan sendiri ikut terbengkalai.
Tip: Belajar menyampaikan kapasitas secara jelas. Kamu bisa mengatakan, “Aku sedang menyelesaikan tugas A yang deadline-nya hari ini. Setelah itu aku bisa bantu, atau kita bisa diskusikan prioritasnya dengan atasan.”
Kalimat seperti ini tetap menunjukkan kemauan bekerja sama tanpa otomatis menyanggupi semua permintaan. Membantu rekan kerja adalah hal positif, tetapi pembagian tugas dan tanggung jawab harus jelas, dong.
4/ Ternyata ada informasi penting yang terlewat
File sudah dikirim, pesan sudah dibalas, dan rasanya tugas selesai. Beberapa saat kemudian, muncul kabar bahwa ada data yang kurang, lampiran tertinggal, atau formatnya nggak sesuai. Pekerjaan yang seharusnya beres malah harus dibuka lagi.
Tip: Buat checklist sederhana sebelum mengirim hasil kerja. Periksa kembali isi, data, nama file, lampiran, format, serta penerima dokumen. Untuk tugas yang melibatkan banyak orang, pastikan juga versi file yang digunakan sudah benar.
Jika ada instruksi yang belum jelas, jangan andalkan asumsi. Bertanya sebentar di awal sering kali lebih efisien daripada memperbaiki kesalahan setelah pekerjaan selesai.
5/ Mau pulang tahu-tahu harus lembur
Ini dia plot twist yang nggak pernah masuk agenda harian. Begitu jam pulang tiba, tiba-tiba ada pekerjaan tambahan yang katanya harus selesai hari itu juga. Padahal, dari pagi rasanya sudah bekerja tanpa banyak jeda.
Tip: Biasakan mengonfirmasi deadline dan prioritas sejak awal. Menjelang akhir jam kerja, beri kabar tentang progres tugas yang sedang dikerjakan.
Jika ada tugas baru, tanyakan apakah memang harus selesai hari itu atau bisa dilanjutkan besok. Kalau semuanya dianggap mendesak, minta atasan membantu menentukan mana yang paling prioritas.
Tentunya nggak semua lembur bisa dihindari. Namun, komunikasi lebih awal dapat mengurangi risiko pekerjaan mendadak sekaligus membantu tim mengatur ekspektasi.
Dunia kerja memang nggak selalu berjalan sesuai rencana. Ada perubahan prioritas, kebutuhan mendesak, dan situasi yang nggak bisa diprediksi. Tapi bukan berarti setiap gangguan harus diterima tanpa komunikasi.
Kebiasaan sederhana seperti mengonfirmasi brief, memperjelas deadline, mencatat progres, dan menyampaikan kapasitas dapat membantu mengurangi drama kerja yang sebenarnya bisa dicegah.
Jadi pekerja yang profesional bukan berarti selalu bilang “siap” untuk semua hal. Profesional juga berarti tahu cara mengatur prioritas, berkomunikasi dengan baik, dan menjaga pekerjaan tetap realistis—dan bikin kita jauh dari momen bhap. (f)
Baca juga:
3 Tip Jika Mata Sudah 5 Watt Padahal Masih Banyak Tugas