Career
5 Cara Menghadapi Lingkungan Kerja Berpotensi Toxic

26 Sep 2026

Bos tegas dan demanding dalam pekerjaan sesuai job desc bukan berarti lingkungan kerja toxic. Foto ilustrasi: Pexels/Kaboompics.com


Buat kamu yang sedang semangatnya kerja—maklum, debut—pernah nggak kamu mengalami situasi yang sudah seperti musim baru sitcom The Paper tapi sama sekali nggak lucu?

Padahal kamu baru beberapa minggu kerja, menyukai pekerjaannya, tapi sepertinya insting kamu sudah menangkap potensi toxic di kantor ini.

Kalau lingkungan kerja mulai menunjukkan tanda-tanda yang bikin nggak nyaman, jangan buru-buru panik. Bisa jadi memang ada masalah, tapi bisa juga kita masih dalam fase adaptasi.

Daripada sibuk menerka-nerka, coba lakukan lima hal ini untuk menghadapi potensi toxic di kantor kamu.

1/ Sibuk beda dari red flag
Deadline mepet, bos tegas, atau rekan kerja yang punya standar tinggi belum tentu berarti toxic. 

Yang perlu diperhatikan adalah pola yang terus berulang: Komunikasi yang merendahkan, menyalahkan orang lain, favoritism dan senioritas level NPD, batas waktu kerja yang nggak masuk akal, atau kesalahan yang selalu dilempar ke orang tertentu.

Satu kejadian mungkin cuma hari yang buruk. Kalau sudah jadi kebiasaan, nah, itu baru patut dicatat.

2/ Jauhi budaya kantor yang bikin nggak sehat
Kalau semua orang terbiasa balas chat kerja tengah malam, bukan berarti kamu otomatis harus ikut. Kalau gosip menjadi bahasa utama di pantri, kamu juga nggak wajib mengambil kelas intensifnya.

Tetap profesional, kerjakan tanggung jawab dengan baik, dan tentukan batas yang masuk akal. Adaptasi itu penting, tetapi kehilangan batas diri bukan bagian dari sense of belonging.

3/ Simpan bukti dan catatan pekerjaan
Ini bukan berarti harus bekerja nyambi jadi detektif. Namun, menyimpan email, brief, revisi, keputusan rapat, atau pembagian tugas bisa membantu kalau suatu saat terjadi miskomunikasi.

Biasakan membuat follow-up sederhana setelah meeting, misalnya merangkum siapa mengerjakan apa dan kapan deadline-nya. Selain bikin pekerjaan lebih rapi, cara ini juga mengurangi drama saling menyalahkan.

4/ Cari satu-dua orang yang bisa dipercaya, kalau bisa
Kamu nggak harus langsung punya work bestie. Cukup temukan rekan yang komunikasinya sehat dan bisa diajak berdiskusi secara profesional.

Dari mereka, kamu bisa mendapat gambaran apakah situasi yang kamu alami memang nggak wajar atau sebenarnya bagian dari dinamika kerja yang masih bisa diselesaikan. POV orang lain kadang membantu membedakan antara red flag dan sekadar hari Senin.

5/ Siapkan exit plan, meski belum tentu dipakai
Menyiapkan CV, memperbarui portofolio, membangun koneksi profesional, dan memahami opsi pekerjaan lain bukan berarti kamu harus resign besok pagi.

Justru, punya pilihan membuat kita nggak merasa terjebak. Kalau situasi akhirnya membaik, bagus. Kalau ternyata makin nggak sehat, kamu sudah punya pegangan untuk mengambil keputusan dengan lebih tenang.

Lingkungan kerja yang sehat bukan berarti kantor harus selalu menyenangkan. Konflik, deadline, kritik, dan perbedaan pendapat tetap ada. Yang penting, semua itu nggak berubah jadi pola yang terus merugikan atau merendahkan orang.

Jadi, sebelum menyimpulkan kantor baru sebagai “toxic,” amati polanya, jaga batas, dokumentasikan pekerjaan, dan tetap punya rencana B. 

Karier memang perlu diperjuangkan, tetapi nggak harus sampai mengorbankan kesehatan mental kamu, kan.... (f)

Baca juga:
3 Tip Manfaatkan Cuti Pertama
3 Tip Jika Kamu Mager Padahal Tugas Menumpuk
5 Cara Menenangkan Diri Sebelum Presentasi Penting

 

Brianna Relisha


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?