Trending Topic
Temuan Varian Baru Virus COVID-19 di Inggris, Apa Dampaknya Bagi Indonesia?

26 Dec 2020


Foto: Pixabay


Munculnya temuan varian baru virus corona di Inggris membuat sejumlah negara menutup sementara akses transportasi dari dan menuju Inggris. Terlebih Perdana Menteri Inggris Boris Johnson menyatakan varian baru virus corona, yang diberi nama VUI-202012/01 itu 70 persen lebih menular dibandingkan dengan virus aslinya. 

Seperti dikutip dari kompas.com, hingga 13 Desember 2020, sebanyak 1.108 kasus positif COVID-19 muncul dari varian baru virus corona tersebut. Sebagian besar disebutkan berasal dari wilayah Inggris selatan dan timur. 

Selain Inggris, varian baru virus corona tersebut juga sudah teridentifikasi di beberapa negara lainnya, seperti Denmark, Belanda, Australia, Italia hingga Afrika Selatan. Bahkan pada Rabu malam (23/12/2020), negara tetangga kita Singapura, telah mengonfimasi mengonfirmasi kasus pertama COVID-19 dari mutasi votus seperti yang ditemukan di Inggris.

Dikutip dari Channel News Asia, varian baru virus Corona datang dari seorang pelajar berusia 17 tahun. Dia telah belajar di Inggris sejak Agustus lalu. Remaja ini kembali ke Singapura pada 6 Desember dan menyampaikan pemberitahuan tinggal di rumah di fasilitas khusus saat kedatangan dan dipastikan terinfeksi COVID-19. 

Setidaknya ada sejumlah orang yang melakukan kontak erat dengan siswa tersebut dan telah ditempat di karantina. Depkes Singapura menjelaskan bahwa semua kontak dekatnya telah dinyatakan negatif untuk infeksi COVID-19 pada akhir masa karantina mereka. 

"Untuk mengurangi risiko penyebaran ke Singapura, kami memberlakukan pembatasan perbatasan baru bagi para pelancong dari Inggris untuk tindakan pencegahan lebih lanjut," ungkap Kementerian Kesehatan Singapura. Hingga minggu ini, Singapura telah melaporkan total kasus COVID-19 sebanyak 58.482.
Advertisement

Dikutip dari kompas.com, Epidemiolog Indonesia di Griffith University Dicky Budiman mengatakan, mutasi dari virus merupakan suatu hal yang normal dan lumrah terjadi. Hanya saja, menurutnya mutasi virus tersebut tidak seharusnya berjalan dengan secepat ini. 

"Umumnya itu 2-3 kali mutasi dalam satu bulan, nah yang terjadi di Inggris ini 17 kali kecepatan mutasinya," ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Selasa (22/12/2020). Mutasi yang cepat tersebut, imbuhnya membuat virus semakin efisien efektif dalam menginfeksi. 

Jadi, bukan suatu hal yang mengagetkan apabila varian baru tersebut disebutkan 70 persen lebih mudah menular dari virus aslinya. "Kalau digambarkan jika virus itu masuk Indonesia, akan membuat 3 kali lipat penambahan dari sisi kasus hariannya yang ada sekarang ini," kata Dicky sambil mengingatkan munculnya varian atau strain baru virus corona tersebut juga akan meningkatkan potensi kematian. 

Dicky pun mewanti-wanti kepada negara-negara yang pandeminya belum terkendali, termasuk di Indonesia, potensi mutasi virus itu akan tinggi. "Semakin banyak infeksi, semakin banyak virus, semakin besar peluang terjadinya mutasi," katanya lagi. 

Menanggapi perkembangan varian baru virus corona yang ditemukan di Inggris ini, WHO seperti dilansir dari melansir AFP, Minggu (20/12/2020) telah mendesak anggotanya di Eropa untuk meningkatkan tindakan melawan varian baru dan dapat saling berbagi data mengenai perkembangan virus tersebut.

Baca Selanjutnya: Sambut Natal dan Tahun Baru, Masyarakat Diminta Membatasi Mobilitas



Faunda Liswijayanti


Topic

#3M, #IngatPesanIbu, #covid19, #corona

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?