Setiap orang wajar jika memiliki keinginan untuk berkomunitas dan berkelompok. Memperjuangkan tujuan dan menyebarkan ajaran yang kita yakini serta mempertahankannya dengan segenap tenaga adalah keinginan atau naluri yang datang secara alami. Sehingga, tidak ada salahnya juga bila kita mengajarkan nilai atau paham yang kita anut kepada orang lain.
Sebab, kalau radikalisme kelompok dalam kadar berlebihan itu negatif, radikalisme dalam pemikiran itu justru positif. “Memperjuangkan tujuan dan idealisme yang baik itu adalah hal yang baik. Kita bisa menjadi ‘militan’ yang positif dengan cara-cara yang persuasif, seperti mengajak atau mengimbau,” kata Prof. Dr. Hamdi Muluk M.Psi, Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.
Ia juga menilai bahwa radikalisme pikiran, dalam arti mencari mana yang benar, dan bersemangat mencari kebenaran, juga merupakan hal yang positif dan patut dibiasakan. “Radikalisme pikiran itu artinya kita berpikir sampai ke akar, tidak mudah puas, berpikir sampai tuntas, seperti para ilmuwan yang tidak pernah berhenti meneliti. Hal ini justru harus dipertahankan,” ungkapnya.
“Mereka yang memiliki gejala ini sebetulnya terbilang halusional atau delusional, karena kehebatannya sebetulnya tidak beralasan atau berdasarkan realita. Penyakit ini sulit sekali sembuh,” paparnya.
Dalam memilih komunitas atau organisasi, Hamdi juga mengimbau untuk memastikan semua proses pengurusan, perekrutan dan kegiatan dilakukan secara terbuka dan demokratis. “Kalau gerakannya mengendap-endap, ini sudah pasti patut dicurigai,” kata Hamdi.
Selain itu, menurut Dr. Arie Sujito, S.Sos, M.Si, Ketua Departemen Sosiologi Universitas Gajah Mada, berhubung gerakan radikal berbasis agama, ideologi, atau aliran tertentu akan terus ada dalam berbagai bentuk, tantangannya adalah bagaimana cara kita menghadapinya sebagai masyarakat yang intelektual dan modern. “Menghadapi kekerasan tidak selalu harus dengan kekerasan juga. Yang terjadi nanti justru lingkaran kekerasan yang tidak ada habisnya,” pungkas Arie. (f)