Deru mesin mobil balap, gemerlap lampu kota, pengalaman bersantap kelas dunia, hingga pemandangan cakrawala Singapura menjadikan kawasan ini lebih dari sekadar tempat menginap.
Marina Bay Sands (MBS) adalah destinasi gaya hidup yang memadukan hospitality, hiburan, kuliner, belanja, dan seni dalam satu kawasan.
Dan di balik pengalaman mewah yang identik dengan skala besar dan konsumsi sumber daya yang tinggi, MBS terus menerapkan keberlanjutan. Pertanyaannya, bisakah kemewahan berjalan beriringan dengan prinsip keberlanjutan?
Bagi Meridith Beaujean, Executive Director of Sustainability Marina Bay Sands, jawabannya terletak pada bagaimana kemewahan itu dirancang dan dijalankan.
“Kami memandang kemewahan yang berkelanjutan bukan sebagai kompromi, melainkan tantangan desain—bagaimana menghadirkan pengalaman mewah yang luar biasa dengan jejak lingkungan yang lebih ringan,” ujar Meridith, dalam wawancara dengan Femina via email, beberapa waktu lalu.
Teknologi di balik kenyamanan
Mengurangi dampak lingkungan sebuah destinasi sebesar MBS membutuhkan lebih dari sekadar imbauan untuk menghemat listrik atau air. Sistem operasionalnya perlu dirancang agar penggunaan sumber daya dapat dipantau dan dioptimalkan secara konsisten.Sejak dibuka tahun 2010, MBS telah berinvestasi pada Intelligent Building Management System yang menggunakan lebih dari 125.000 sensor untuk memantau penggunaan energi dan air secara real-time. Data tersebut membantu tim mengoptimalkan operasional bangunan, termasuk sistem pencahayaan, pemanas, dan pendingin udara.
Hasilnya mulai terlihat dalam angka. Sepanjang 2025, MBS mencatat penghematan energi sebesar 13 juta kWh dan penurunan emisi Scope 1 dan Scope 2 sebesar 28% dibandingkan baseline 2018. Scope 1 mencakup emisi langsung dari sumber yang dimiliki atau dikendalikan perusahaan, sedangkan Scope 2 berasal dari energi yang dibeli.
Bagi Meridith, teknologi berperan penting dalam memastikan efisiensi tidak harus mengorbankan pengalaman tamu.
“Dalam industri perhotelan mewah, [penerapan] keberlanjutan idealnya tidak perlu selalu terlihat oleh tamu, tetapi harus tertanam secara menyeluruh dalam setiap aspek operasional,” ujar Meridith. “Tantangannya adalah memastikan bahwa pilihan-pilihan yang lebih bertanggung jawab dapat diterapkan secara alami dan mudah, baik oleh tim internal maupun oleh para tamu.”
Dari air pendingin jadi sumber daya baru
Contoh menarik datang dari pengelolaan air. Pada 2016, MBS mulai mengumpulkan dan mendaur ulang air kondensasi dari sekitar 3.000 unit pendingin udara di tiga menara hotelnya. Air yang biasanya terbuang ini dimanfaatkan kembali untuk fitur air dan lanskap di area properti, seperti kolam ikan dan untuk menyiram tanaman.Inisiatif tersebut menghemat rata-rata 77.000 liter air setiap hari. Sepanjang 2025, berbagai upaya pengelolaan dan efisiensi air MBS menghasilkan penghematan total 13 juta liter, dua kali lipat dari target awalnya.
Upaya serupa dilakukan di restoran. Melalui program Honouring Environmentally Responsible Operations (HERO) Awards, karyawan didorong mengusulkan inisiatif keberlanjutan di departemen masing-masing.
Salah satu tim pemenang pada 2025 memasang mesin pencuci piring hemat air dan flow restrictor, perangkat yang membatasi aliran air pada keran, di sembilan restoran signature MBS.
Berkat cara ini, penggunaan air berhasil dihemat hingga 5,9 juta liter, dengan penurunan rata-rata konsumsi air per orang sebesar 9% dibandingkan 2024.
“Hal ini menunjukkan bahwa perubahan operasional yang sederhana sekalipun dapat menghasilkan manfaat lingkungan yang signifikan,” jelas Meridith, yang bergabung di MBS sejak tahun 2022.
Tak harus berakhir di tempat sampah
Prinsip serupa diterapkan dalam pengelolaan limbah. Pada 2025, MBS bekerja sama dengan para mitra untuk mengolah sekitar 100.000 liter minyak jelantah menjadi sustainable aviation fuel (bahan bakar penerbangan berkelanjutan) dan renewable diesel atau diesel terbarukan.Diesel terbarukan tersebut kemudian digunakan untuk mengoperasikan generator cadangan di properti MBS. Mengutip pernyataan Meridith, MBS menyebut dirinya sebagai operator hospitality pertama di Asia yang menerapkan sistem tertutup untuk bahan bakar terbarukan tersebut.
Melalui kerja sama dengan fasilitas pengolahan dan pemasok, limbah makanan diolah menjadi bahan baku untuk bahan bakar terbarukan serta pakan serangga dan ikan untuk mendukung akuakultur lokal.
Hasilnya, tahun lalu sebanyak 74% limbah makanan MBS berhasil dialihkan dari tempat pembuangan akhir.
Perubahan juga menyasar material sekali pakai. Di seluruh restorannya, MBS mengganti penggunaan plastic wrap dengan alternatif yang dapat digunakan kembali, seperti tutup wadah dan penutup silikon. Langkah ini berkontribusi pada penurunan penggunaan plastic wrap sebesar 33% pada 2025.
Pilihan lebih bertanggung jawab
Keberlanjutan tidak berhenti pada energi, air, dan limbah. Pilihan bahan pangan yang disajikan di restoran juga menjadi bagian dari upaya mengurangi dampak lingkungan.Pada tahun 2025, sebanyak 54% boga bahari atau seafood yang diperoleh dan dipakai MBS berasal dari sumber bertanggung jawab. MBS bekerja sama dengan para ahli perikanan WWF untuk mengidentifikasi spesies seafood berisiko rendah dalam portofolio pengadaannya.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa standar pengalaman bersantap dapat tetap dijaga sembari mempertimbangkan asal bahan baku dan dampak pengadaannya.
“Bagi kami, tujuannya bukan mengurangi kualitas pengalaman mewah yang dinikmati tamu, melainkan merancang ulang cara menghadirkannya melalui desain yang cermat, pemanfaatan teknologi, dan pengambilan keputusan yang lebih bertanggung jawab,” ungkap Meridith.
Di luar operasional properti, MBS juga menjalankan program bersama mitra untuk meningkatkan kesadaran lingkungan.
Salah satunya melalui ArtScience Museum, yang menghadirkan pameran dan program edukasi tentang perubahan iklim, keanekaragaman hayati, serta hubungan manusia dengan alam. Museum ini bekerja sama dengan organisasi seperti National Geographic, Eco-Business, dan WWF Singapore.
Melalui pameran, seni, dan program interaktif, isu lingkungan yang kompleks dapat disampaikan kepada publik lebih luas melalui pengalaman yang lebih mudah dijangkau.
Mengubah cara memaknai kemewahan
Menjalankan keberlanjutan di sebuah destinasi terintegrasi bukan pekerjaan sederhana. Setiap bagian operasional memiliki kebutuhan berbeda, sementara perubahan sistem perlu dilakukan tanpa mengganggu standar layanan.Menurut Meridith, hal ini membutuhkan koordinasi lintas tim di MBS—mulai dari dapur dan housekeeping hingga bagian teknik serta logistik.
“Marina Bay Sands mendukung ambisi keberlanjutan Singapura melalui pendekatan yang sejalan dengan prioritas nasional, terutama dalam efisiensi sumber daya, ekonomi sirkular, dan ketahanan terhadap perubahan iklim,” kata Meridith.
Bagi MBS, kemewahan tidak harus identik dengan penggunaan sumber daya tanpa batas. Teknologi yang lebih cerdas, pengelolaan limbah yang sirkular, efisiensi air dan energi, serta pengadaan yang lebih bertanggung jawab dapat menjadi bagian dari pengalaman hospitality itu sendiri.
Dan di balik pengalaman tersebut, cara sebuah destinasi mengelola sumber dayanya ikut menentukan bagaimana kemewahan dapat terus dinikmati dengan dampak lingkungan yang lebih terkendali. (f)
Baca juga:
Jangan Lewatkan CUT by Wolfgang Puck di Singapura, Steakhouse Kelas Michelin di Marina Bay Sands
Bersantap di 2 Restoran Rekomendasi Michelin Guide Singapore di Marina Bay Sands
Liburan di Marina Bay Sands, Rumah Kedua di Singapura
Zornia Harisantoso